Annyeong ^^ ini FF saya yang terbaru :p selamat menikmati~

OH YA, JANGAN LUPA COMMENT-NYA :D

——–

CAST:

Bang Minah (Girls Day)

Lee HyukJae (Super Junior)

Yura (Girls Day)

——————————-

CAUTION!!

NC 21

DILARANG KERAS, membaca FF ini bagi yang belum berusia 21++ ok?? Arasseo? ^^

Bagi yang jijik, enek, geli, mau muntah dsb, sebaiknya close tab-mu yang satu ini dan mencari FF lain ._. karena ini BER-BA-HA-YA!

INGAT!!

———————————–

Cinta yang mempertemukan kita. 7 tahun lalu. saat kita masih sama-sama remaja. ingatkah itu Oppa? Kuharap iya…

Aku benar-benar ingin kamu mengingatnya. Oppa… Ingatlah aku selalu. Aku. Bang Minah. Selalu disini. Di sisimu. Selamanya….

___—-___—-____

Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Di sampingnya. Di samping pria yang sudah resmi menjadi suamiku sejak pagi tadi. Ini malam pertama kami. Malam pertama bagi pernikahan kami dan hubungan kami. Selama aku menjadi kekasihnya, tidak pernah sekalipun dia mengambil hal terpenting itu dariku. Dia pria yang baik hati dan sangat menghargaiku, walaupun aku tau sebenarnya dia menginginkannya sejak dulu.

Kudengar dia menghela napasnya. “Yeobo… Aku senang sekali bisa memilikimu sekarang. Seutuhnya.” Ujarnya lembut seraya mengenggam tanganku yang berada di bawah selimut. “Mmm..” sahutku sambil memandang langit-langit kamar. Lembut, dia menolehkan kepalanya padaku. Sudah 7 tahun kami berpacaran, tapi tetap saja aku selalu merasakan debaran kencang pada jantungku tiap kali ia mendekat padaku, seperti sekarang.

Kurasakan wajahnya semakin dekat dengan wajahku, membuatku menoleh ke arahnya perlahan. Hanya perlu beberapa detik, bibir kami sudah bertemu. Didekatkannya tubuh beraroma maskulinnya padaku. Ditariknya tubuhku sehingga berdempet dengan tubuhnya. Kurasakan juniornya menegang. Dipegangnya punggungku sehingga membuat ikatan sulit terlepaskan, dan semakin didekatkannya tubuhku padanya.

Digigitnya perlahan bibir bawahku, menciptakan sensasi luar biasa pada tubuhku. Disapukan lidahnya ke dalam mulutku sehingga saliva kami bersatu sekarang. Didorongnya tubuhku perlahan sehingga aku berbaring terlentang tanpa melepaskan ciumannya dari bibirku. Perlahan tapi pasti, dia meletakkan kedua tangannya di bantal yang sedang aku tiduri. Menghimpit kepalaku sambil tetap menciumku.

Kurasakan tangannya merambat ke bagian tubuhku yang lain. Melepaskan kancing piyamaku satu per satu, hingga menampakkan bra berwarna hitam yang menutupi kedua payudaraku. Ciuman di bibirku beralih ke leherku, membuat kiss mark di malam pertama kami. Juniornya yang menempel pada perutku, semakin menegang. Lalu dia menurunkan ciumannya ke bagian dadaku.

Merasa belum puas, dia melepaskan celana tidur sebatas paha dari tubuhku. Menampilkan celana dalamku dengan warna senada dengan bra yang aku pakai saat ini. Dengan cepat dia melepaskan kaos putih yang dipakainya malam ini, memperlihatkan tubuh cukup six packs-nya. Dia mulai membelai lembut rambut sepunggungku yang aku biarkan terurai bebas.

Kutatap wajahnya dengan lembut. Kulihat wajahnya memohon padaku. Memintanya padaku. Kulingkarkan kedua lenganku pada lehernya dan kutarik lembut tubuhnya padaku. Dan dia mulai lagi. Dia mulai menciumi dadaku dan melepaskan bra yang menutupi kedua payudaraku dan melemparkannya ke sembarang tempat. Tidak tahu dimana.

Diremasnya perlahan, penuh nafsu, payudaraku. Membuat sensasi luar biasa pada tubuhku. Aku seperti merasa tersetrum. Dimainkannya nippleku dan dia mulai menghisapnya. Menggigitnya. Semakin menciptakan sensasi luar biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. “Ahh… Op….Pa…” desahku pelan ketika dia kembali meremas kedua payudaraku.

Ciumannya mulai turun ke perutku dan kembali membuat kiss mark di sana. Ditariknya perlahan celana dalamku, memperlihatkan bagian terpentingku padanya. Dia mulai menjilati dan memainkan jarinya di sana. “Ahhh~~” desahku pelan. Dia membelaikan tangan kanannya di pipiku, sementara jari telunjuk kirinya masih masuk ke dalam sana.

“Oppa, jangan…” aku menarik pelan jarinya yang sedikit menyakitiku. Dikecupnya pelan bibirku dan kurasakan juniornya yang masih mengegang di depan kemaluanku. Dibukanya boxer merah yang dipakainya dan menungkupkan selimut di atas tubuhnya. Menutupinya. Menutupiku. Menutupi kami.

Dia mulai memasukkan juniornya ke dalam vaginaku. “Ahh!!” jeritku merasa sakit. “Sabar sebentar, Yeobo~” ujarnya sambil membelai pipiku dengan lembut. Setelah dua kali merasa sakit, akhirnya dia mendapatkan posisi yang pas. Diciumnya bibirku lagi sambil meggenjotkan miliknya di milikku. Kurasakan dia mulai mengeluarkan spermanya tepat di saluran yang benar. “Ahhh~~” desahku pelan, tapi tidak dihiraukannya.

***

Kubuka mataku perlahan. Kurasakan ngilu-ngilu di sekitar selangkangan kakiku. Kurasakan hembusan napasnya mengena di pucuk kepalaku. Aku ternyata menyandarkan kepalaku di bahunya. Kuangkat kepalaku perlahan, berusaha tidak membangunkannya. Kusapukan pandanganku ke sekeliling kamar. Mencari dimana piyamaku berada.

Ah, dimana dia melemparnya? Aku menarik selimut putihku sehingga menutupi bagian dadaku. Ah, di situ rupanya. Kuulurkan tanganku ke lantai, meraih piyamaku. Kukancingkan piyamaku dan memakai celana pendekku lagi. Kusatukan rambutku yang sudah berantakan dan kucepol.

Ketika kubalikkan badanku, dia sudah berdiri di belakangku, dengan boxer merahnya. “Morning, Sweetheart~” sapanya dengan suara serak. Aku tersenyum padanya. Dia mencium bibirku pelan. Inikah yang namanya morning kiss? Kulepaskan ciuman itu dengan lembut. “Sebaiknya kita cuci muka dulu Oppa.” ujarku sambil melangkahkan kakiku dengan ringan menuju kamar mandi kami yang terletak di kamar.

Diletakkannya kedua tangannya di bahuku dan mengikutiku dari belakang menuju toilet. Setelah kami mencuci muka dan menggosok gigi, kami sarapan. “Mau makan apa?” tanyaku padanya. “Terserah kamu Yeobo. Apa pun yang kamu buat, akan aku makan.” Ujarnya sambil tersenyum manis. Kubalas senyumannya lalu berjalan ke dapur kami. Aku sudah memutuskan untuk membuat pancake dengan saus strawberry.

Baru saja kubalikkan pancake yang sekarang berwarna kecokelatan di bagian atasnya, ketika kurasakan dagunya menempel di bahuku. “Pasti enak…” ujarnya dilanjutkan dengan kecupan di pipiku. Aku tidak menjawab dan masih sibuk dengan pancake-ku. “Oppa tunggu saja di sana. Sebentar lagi aku datang.” Ujarku sambil menoleh sedikit padanya. “Tidak ah. Aku mau bersamamu.” Tolaknya dengan manja.

Tangannya mulai masuk ke balik piyamaku dan meraba-raba perutku. “Oppa, apa yang semalam tidak cukup?” godaku. “Nanti…. Lagi ya?” pintanya. Aku tertawa kecil dan mengambil dua buah piring putih di dekatku dan meletakan dua pancake di masing-masing piring. Kubiarkan dia menyiramkan saus strawberry di atas pancake dan membawanya ke ruang makan kecil kami.

***

Dua bulan setelah pernikahan kami, perusahaan memintanya pergi ke Jeju untuk sebuah bisnis di sana. “Yeobo, aku pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik. Jangan melirik namja lain. Ok? Will miss you so damn much, Sweetheart.” Dipeluknya tubuhku dengan erat seolah tidak ingin pergi ke Jeju saat ini. “Ne, Oppa. Oppa juga jaga diri baik-baik ya. Jangan melirik yeoja lain juga. Janji ya? Will miss you too.” Jawabku sambil mengusap punggungnya.

Dikecupnya keningku pelan. “Kalau begitu, aku pergi dulu ya.” Dia melambaikan tangannya padaku lalu masuk ke dalam bandara. Aku tersenyum kecil di tempatku berdiri sekarang. Tidak apa-apa Bang Min-ah. Dua minggu bukan waktu yang lama! Kurasakan senyumku semakin terasa pahit dan getir. Kuputuskan untuk kembali ke apartment sekarang.

*

Kulirik jam berwarna biru di dinding ruang TV. Baru tiga jam sejak pesawat take off tadi. Mungkin kalau pesawat tidak delay ia akan tiba di Jeju sebentar lagi. Sudah jam 21.05 sekarang, dan aku mengantuk. Tapi sudah kuputuskan untuk tidak tidur sebelum dia menghubungiku. Kutekan remote TV, mencari saluran lain yang menarik.

Tubuhku membeku ketika melihat headline berita di TV. Sebuah pesawat menuju Pulau Jeju jatuh dengan 58 orang meninggal. “Oppa~” aku panik sekarang. Bagaimana keadaannya? Apa dia selamat? Apa itu pesawat yang membawanya ke Jeju? “Oppa….” suaraku bergetar. Pelupuk mataku berusaha mencegah air mataku agar tidak tumpah.

“Oppa…!” aku melipat kedua kakiku dan menungkupkan kepalaku di sana. Aku menangis. Aku tidak mau kehilangannya. Aku baru dua bulan menikah dengannya! Tidak bisa!!! “OPPA!!” teriakku diikuti semakin pecahnya tangisku.

Drrrttt…. Drrrttt… HP-ku bergetar. Kulirik screen HP-ku. ‘Yura Eonni’. “Yeoboseyo?” jawabku sambil sesenggukkan. “Minah! Kamu udah lihat—“ “Eonni-ya~~ bagaimana dengan Eunhyuk Oppa?” tanyaku langsung seraya kembali menangis. Dia diam, tidak menjawab. “Eonni-ya!!” teriakku. “Minah… Sebaiknya kamu tidur.” Ujar Yura Eonni padaku dengan lembut.

“YA! Bagaimana aku bisa tidur sementara aku tidak tahu bagaimana kabarnya!!” tukasku dengan kesal. “Besok pagi semua korban akan didata. Sebaiknya kamu bersabar. Aku yakin, Eunhyuk Oppa tidak apa-apa.” Ujar Yura Eonni. Kudengar suaranya bergetar. Ia sepertinya ingin menangis juga. “Eonni-ya… Bisa datang kesini?” pintaku. “Ne.” jawabnya singkat lalu sambungan diputus.

Aku kembali menangis. Kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku belum siap kalau harus ditinggal olehnya secepat ini. Tuhan, tolong jangan ambil dia dariku sekarang. Aku masih membutuhkannya… Oppa, jangan tinggalkan aku. Jebal Oppa. Andwe…

*

“Minah, sudah jangan menangis terus. Nanti kamu sakit.” Yura Eonni masih memelukku dengan erat sejak sejam lalu. Tangisku tak berhenti juga, padahal headline berita sudah selesai sejak satu setengah jam lalu. “Eonni-ya, aku belum siap kehilangan Eunhyuk Oppa. Aku sangat mencintainya…” ujarku pelan disela tangisku. “Aku tahu Minah. Tapi—“ Drrttt…. Ponsel Minah bergetar lagi. Dilihatnya di screen HP-nya, tertera nama ‘Nae Sarang’ di sana.

“Yeoboseyo?!” jawabku cepat. “Yeoboseyo.” Jawab suara itu pelan. Bukan suara Eunhyuk Oppa. Ini jelas bukan suaranya. Ini suara perempuan. Ini siapa? “Nugunde?” tanyaku, hati-hati. “Mmm…. Aku… Apa ini keluarga—“ dia diam sebentar, seperti berpikir. “Lee HyukJae?” lanjutnya. “N-ne… Nugunde?” tanyaku lagi. “Aku—” tut tut tut… Sambungan terputus secara tiba-tiba. Aku kembali panik. Bagaimana keadaannya sekarang? Siapa wanita ini? Siapa? Kenapa bisa bersamanya? Apa dia yang menolong Oppa?

Aku harus cepat-cepat ke Jeju. Tapi bagaimana cara menemukannya? TTT_____TTT

사랑해

—- to be continue —-

wekekeke… gimana? kurang hot ya? .___. maklum. ini FF NC 21 pertama yang aku buat .__.

Tolong jangan tangkap aku. aku masih belia (?) hehehe -__-v

sepertinya part 2 nanti, saya gak mau bikin NC 21 lagi .__. mengerikan!!! *scream out loud*

———————

ditunggu komentarnya ^^ jangan lupa baca FF-FF saya yang lain yaaa ({})

—-

ini tokoh FF nya terinspirasi dari acara Kimchi 4 Juni 2011 kemarin. Saya tahu betul kalau Minah itu cantik banget, makanya saya jadikan tokoh ini bersanding dengan bias saya _._ tidak apa lah~ sekali saja… kekeke

————————–

ditunggu komentar2nya :D