Latest Entries »

MOVE!!

Attention please~ o u o

This CRAZYEOJAINLOVE been moving to CHIARO DI LUNA. The reason is, I couldn’t remember this wordpress’ password back then so I made a new one. click herebut then all of sudden I remembered it again <accidentally>. So I decided to keep my new wordpress than keep the old one.

So please do visit my new wordpres thank you!♥ c:

Annyeong ^^ ini FF saya yang terbaru :p selamat menikmati~

OH YA, JANGAN LUPA COMMENT-NYA😀

——–

CAST:

Bang Minah (Girls Day)

Lee HyukJae (Super Junior)

Yura (Girls Day)

——————————-

CAUTION!!

NC 21

DILARANG KERAS, membaca FF ini bagi yang belum berusia 21++ ok?? Arasseo? ^^

Bagi yang jijik, enek, geli, mau muntah dsb, sebaiknya close tab-mu yang satu ini dan mencari FF lain ._. karena ini BER-BA-HA-YA!

INGAT!!

———————————–

Cinta yang mempertemukan kita. 7 tahun lalu. saat kita masih sama-sama remaja. ingatkah itu Oppa? Kuharap iya…

Aku benar-benar ingin kamu mengingatnya. Oppa… Ingatlah aku selalu. Aku. Bang Minah. Selalu disini. Di sisimu. Selamanya….

___—-___—-____

Kurebahkan tubuhku di atas kasur. Di sampingnya. Di samping pria yang sudah resmi menjadi suamiku sejak pagi tadi. Ini malam pertama kami. Malam pertama bagi pernikahan kami dan hubungan kami. Selama aku menjadi kekasihnya, tidak pernah sekalipun dia mengambil hal terpenting itu dariku. Dia pria yang baik hati dan sangat menghargaiku, walaupun aku tau sebenarnya dia menginginkannya sejak dulu.

Kudengar dia menghela napasnya. “Yeobo… Aku senang sekali bisa memilikimu sekarang. Seutuhnya.” Ujarnya lembut seraya mengenggam tanganku yang berada di bawah selimut. “Mmm..” sahutku sambil memandang langit-langit kamar. Lembut, dia menolehkan kepalanya padaku. Sudah 7 tahun kami berpacaran, tapi tetap saja aku selalu merasakan debaran kencang pada jantungku tiap kali ia mendekat padaku, seperti sekarang.

Kurasakan wajahnya semakin dekat dengan wajahku, membuatku menoleh ke arahnya perlahan. Hanya perlu beberapa detik, bibir kami sudah bertemu. Didekatkannya tubuh beraroma maskulinnya padaku. Ditariknya tubuhku sehingga berdempet dengan tubuhnya. Kurasakan juniornya menegang. Dipegangnya punggungku sehingga membuat ikatan sulit terlepaskan, dan semakin didekatkannya tubuhku padanya.

Digigitnya perlahan bibir bawahku, menciptakan sensasi luar biasa pada tubuhku. Disapukan lidahnya ke dalam mulutku sehingga saliva kami bersatu sekarang. Didorongnya tubuhku perlahan sehingga aku berbaring terlentang tanpa melepaskan ciumannya dari bibirku. Perlahan tapi pasti, dia meletakkan kedua tangannya di bantal yang sedang aku tiduri. Menghimpit kepalaku sambil tetap menciumku.

Kurasakan tangannya merambat ke bagian tubuhku yang lain. Melepaskan kancing piyamaku satu per satu, hingga menampakkan bra berwarna hitam yang menutupi kedua payudaraku. Ciuman di bibirku beralih ke leherku, membuat kiss mark di malam pertama kami. Juniornya yang menempel pada perutku, semakin menegang. Lalu dia menurunkan ciumannya ke bagian dadaku.

Merasa belum puas, dia melepaskan celana tidur sebatas paha dari tubuhku. Menampilkan celana dalamku dengan warna senada dengan bra yang aku pakai saat ini. Dengan cepat dia melepaskan kaos putih yang dipakainya malam ini, memperlihatkan tubuh cukup six packs-nya. Dia mulai membelai lembut rambut sepunggungku yang aku biarkan terurai bebas.

Kutatap wajahnya dengan lembut. Kulihat wajahnya memohon padaku. Memintanya padaku. Kulingkarkan kedua lenganku pada lehernya dan kutarik lembut tubuhnya padaku. Dan dia mulai lagi. Dia mulai menciumi dadaku dan melepaskan bra yang menutupi kedua payudaraku dan melemparkannya ke sembarang tempat. Tidak tahu dimana.

Diremasnya perlahan, penuh nafsu, payudaraku. Membuat sensasi luar biasa pada tubuhku. Aku seperti merasa tersetrum. Dimainkannya nippleku dan dia mulai menghisapnya. Menggigitnya. Semakin menciptakan sensasi luar biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. “Ahh… Op….Pa…” desahku pelan ketika dia kembali meremas kedua payudaraku.

Ciumannya mulai turun ke perutku dan kembali membuat kiss mark di sana. Ditariknya perlahan celana dalamku, memperlihatkan bagian terpentingku padanya. Dia mulai menjilati dan memainkan jarinya di sana. “Ahhh~~” desahku pelan. Dia membelaikan tangan kanannya di pipiku, sementara jari telunjuk kirinya masih masuk ke dalam sana.

“Oppa, jangan…” aku menarik pelan jarinya yang sedikit menyakitiku. Dikecupnya pelan bibirku dan kurasakan juniornya yang masih mengegang di depan kemaluanku. Dibukanya boxer merah yang dipakainya dan menungkupkan selimut di atas tubuhnya. Menutupinya. Menutupiku. Menutupi kami.

Dia mulai memasukkan juniornya ke dalam vaginaku. “Ahh!!” jeritku merasa sakit. “Sabar sebentar, Yeobo~” ujarnya sambil membelai pipiku dengan lembut. Setelah dua kali merasa sakit, akhirnya dia mendapatkan posisi yang pas. Diciumnya bibirku lagi sambil meggenjotkan miliknya di milikku. Kurasakan dia mulai mengeluarkan spermanya tepat di saluran yang benar. “Ahhh~~” desahku pelan, tapi tidak dihiraukannya.

***

Kubuka mataku perlahan. Kurasakan ngilu-ngilu di sekitar selangkangan kakiku. Kurasakan hembusan napasnya mengena di pucuk kepalaku. Aku ternyata menyandarkan kepalaku di bahunya. Kuangkat kepalaku perlahan, berusaha tidak membangunkannya. Kusapukan pandanganku ke sekeliling kamar. Mencari dimana piyamaku berada.

Ah, dimana dia melemparnya? Aku menarik selimut putihku sehingga menutupi bagian dadaku. Ah, di situ rupanya. Kuulurkan tanganku ke lantai, meraih piyamaku. Kukancingkan piyamaku dan memakai celana pendekku lagi. Kusatukan rambutku yang sudah berantakan dan kucepol.

Ketika kubalikkan badanku, dia sudah berdiri di belakangku, dengan boxer merahnya. “Morning, Sweetheart~” sapanya dengan suara serak. Aku tersenyum padanya. Dia mencium bibirku pelan. Inikah yang namanya morning kiss? Kulepaskan ciuman itu dengan lembut. “Sebaiknya kita cuci muka dulu Oppa.” ujarku sambil melangkahkan kakiku dengan ringan menuju kamar mandi kami yang terletak di kamar.

Diletakkannya kedua tangannya di bahuku dan mengikutiku dari belakang menuju toilet. Setelah kami mencuci muka dan menggosok gigi, kami sarapan. “Mau makan apa?” tanyaku padanya. “Terserah kamu Yeobo. Apa pun yang kamu buat, akan aku makan.” Ujarnya sambil tersenyum manis. Kubalas senyumannya lalu berjalan ke dapur kami. Aku sudah memutuskan untuk membuat pancake dengan saus strawberry.

Baru saja kubalikkan pancake yang sekarang berwarna kecokelatan di bagian atasnya, ketika kurasakan dagunya menempel di bahuku. “Pasti enak…” ujarnya dilanjutkan dengan kecupan di pipiku. Aku tidak menjawab dan masih sibuk dengan pancake-ku. “Oppa tunggu saja di sana. Sebentar lagi aku datang.” Ujarku sambil menoleh sedikit padanya. “Tidak ah. Aku mau bersamamu.” Tolaknya dengan manja.

Tangannya mulai masuk ke balik piyamaku dan meraba-raba perutku. “Oppa, apa yang semalam tidak cukup?” godaku. “Nanti…. Lagi ya?” pintanya. Aku tertawa kecil dan mengambil dua buah piring putih di dekatku dan meletakan dua pancake di masing-masing piring. Kubiarkan dia menyiramkan saus strawberry di atas pancake dan membawanya ke ruang makan kecil kami.

***

Dua bulan setelah pernikahan kami, perusahaan memintanya pergi ke Jeju untuk sebuah bisnis di sana. “Yeobo, aku pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik. Jangan melirik namja lain. Ok? Will miss you so damn much, Sweetheart.” Dipeluknya tubuhku dengan erat seolah tidak ingin pergi ke Jeju saat ini. “Ne, Oppa. Oppa juga jaga diri baik-baik ya. Jangan melirik yeoja lain juga. Janji ya? Will miss you too.” Jawabku sambil mengusap punggungnya.

Dikecupnya keningku pelan. “Kalau begitu, aku pergi dulu ya.” Dia melambaikan tangannya padaku lalu masuk ke dalam bandara. Aku tersenyum kecil di tempatku berdiri sekarang. Tidak apa-apa Bang Min-ah. Dua minggu bukan waktu yang lama! Kurasakan senyumku semakin terasa pahit dan getir. Kuputuskan untuk kembali ke apartment sekarang.

*

Kulirik jam berwarna biru di dinding ruang TV. Baru tiga jam sejak pesawat take off tadi. Mungkin kalau pesawat tidak delay ia akan tiba di Jeju sebentar lagi. Sudah jam 21.05 sekarang, dan aku mengantuk. Tapi sudah kuputuskan untuk tidak tidur sebelum dia menghubungiku. Kutekan remote TV, mencari saluran lain yang menarik.

Tubuhku membeku ketika melihat headline berita di TV. Sebuah pesawat menuju Pulau Jeju jatuh dengan 58 orang meninggal. “Oppa~” aku panik sekarang. Bagaimana keadaannya? Apa dia selamat? Apa itu pesawat yang membawanya ke Jeju? “Oppa….” suaraku bergetar. Pelupuk mataku berusaha mencegah air mataku agar tidak tumpah.

“Oppa…!” aku melipat kedua kakiku dan menungkupkan kepalaku di sana. Aku menangis. Aku tidak mau kehilangannya. Aku baru dua bulan menikah dengannya! Tidak bisa!!! “OPPA!!” teriakku diikuti semakin pecahnya tangisku.

Drrrttt…. Drrrttt… HP-ku bergetar. Kulirik screen HP-ku. ‘Yura Eonni’. “Yeoboseyo?” jawabku sambil sesenggukkan. “Minah! Kamu udah lihat—“ “Eonni-ya~~ bagaimana dengan Eunhyuk Oppa?” tanyaku langsung seraya kembali menangis. Dia diam, tidak menjawab. “Eonni-ya!!” teriakku. “Minah… Sebaiknya kamu tidur.” Ujar Yura Eonni padaku dengan lembut.

“YA! Bagaimana aku bisa tidur sementara aku tidak tahu bagaimana kabarnya!!” tukasku dengan kesal. “Besok pagi semua korban akan didata. Sebaiknya kamu bersabar. Aku yakin, Eunhyuk Oppa tidak apa-apa.” Ujar Yura Eonni. Kudengar suaranya bergetar. Ia sepertinya ingin menangis juga. “Eonni-ya… Bisa datang kesini?” pintaku. “Ne.” jawabnya singkat lalu sambungan diputus.

Aku kembali menangis. Kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku belum siap kalau harus ditinggal olehnya secepat ini. Tuhan, tolong jangan ambil dia dariku sekarang. Aku masih membutuhkannya… Oppa, jangan tinggalkan aku. Jebal Oppa. Andwe…

*

“Minah, sudah jangan menangis terus. Nanti kamu sakit.” Yura Eonni masih memelukku dengan erat sejak sejam lalu. Tangisku tak berhenti juga, padahal headline berita sudah selesai sejak satu setengah jam lalu. “Eonni-ya, aku belum siap kehilangan Eunhyuk Oppa. Aku sangat mencintainya…” ujarku pelan disela tangisku. “Aku tahu Minah. Tapi—“ Drrttt…. Ponsel Minah bergetar lagi. Dilihatnya di screen HP-nya, tertera nama ‘Nae Sarang’ di sana.

“Yeoboseyo?!” jawabku cepat. “Yeoboseyo.” Jawab suara itu pelan. Bukan suara Eunhyuk Oppa. Ini jelas bukan suaranya. Ini suara perempuan. Ini siapa? “Nugunde?” tanyaku, hati-hati. “Mmm…. Aku… Apa ini keluarga—“ dia diam sebentar, seperti berpikir. “Lee HyukJae?” lanjutnya. “N-ne… Nugunde?” tanyaku lagi. “Aku—” tut tut tut… Sambungan terputus secara tiba-tiba. Aku kembali panik. Bagaimana keadaannya sekarang? Siapa wanita ini? Siapa? Kenapa bisa bersamanya? Apa dia yang menolong Oppa?

Aku harus cepat-cepat ke Jeju. Tapi bagaimana cara menemukannya? TTT_____TTT

사랑해

—- to be continue —-

wekekeke… gimana? kurang hot ya? .___. maklum. ini FF NC 21 pertama yang aku buat .__.

Tolong jangan tangkap aku. aku masih belia (?) hehehe -__-v

sepertinya part 2 nanti, saya gak mau bikin NC 21 lagi .__. mengerikan!!! *scream out loud*

———————

ditunggu komentarnya ^^ jangan lupa baca FF-FF saya yang lain yaaa ({})

—-

ini tokoh FF nya terinspirasi dari acara Kimchi 4 Juni 2011 kemarin. Saya tahu betul kalau Minah itu cantik banget, makanya saya jadikan tokoh ini bersanding dengan bias saya _._ tidak apa lah~ sekali saja… kekeke

————————–

ditunggu komentar2nya😀

Annyeong haseyo! Joneun CRAZYEOJA imnida. I just want to tell you about new boy band, named BOYFRIEND.

They debut is yesterday (26/5/2011) with they songs “BOYFRIEND” at MNet.

BoyFriend with song "BoyFiend"

 

 

Well, I guess their debut yesterday seemed successful, because when they sang I heard a lot of yelling. People shout out Boy Friend named I guess. kekeke~ Oh ya, I almost forgot. There are six members of this group:  Kim Donghyun, Jo Kwangmin, Jo Youngmin, No Minwoo, Hyunseung, and Lee Jeongmin. And I heard TNT, someone from Thailand, will become a member of BoyFriend. but when debut and at the MV, there’s no him. I think it just a rumored or… maybe he’s still training under Starship Entertainment? kekeke~ I guess…

Well, here’s what we’ve been waiting for….. MEMBER’s PROFILE ~(^o^)~

 

Kim DongHyun

BoyFriend's Leader

 

 

 

Name: DongHyun (동현)

D.O.B:  February 12, 1989

Height: 177 cm

LEADER

 

 

Jo Kwangmin

The Eldest Twin, Kwangmin

 

 

 

Real Name: Kwangmin (광민)

D.O.B: April 24, 1995

Height: 180cm

 

 

Jo Youngmin

The Youngest Twin, Youngmin

 

 

 

Real Name: Youngmin (영민 )

D.O.B: April 24, 1995

Height: 180cm

 

Jeongmin

Lee Jeongmin

 

 

 

 

Real Name: Jeongmin (정민)

D.O.B: January 2, 1994

Height: (unknown a.k.a I don’t know, mianhae)

 

 

 

Minwoo

No Minwoo

 

 

 

 

Real Name: Minwoo (민우)

D.O.B: July 31, 1995

Height: 174 cm

 

 

Hyunseong

Hyunseong

 

 

 

 

Real Name: Hyunseong (현성)

D.O.B: June 3, 1993

Height: (unknown a.k.a I don’t know)

 

 

 

 

 

 

 

 

Kekeke~

Official Twitter BoyFriend: @G_BoyFriend

http://cafe.daum.net/BOYFRIEND

okeeee…. see you later🙂 hope you enjoy~

oh ya, for a while, fandom still not official. someone say “GirlFriend” but, what if the fans is boy? LOL~

I don’t know. Well, if I know something, I’ll post it🙂 I hope this can help you, guys.

PS: Saya lupa lihat dimana. Tapi ada yang bilang, ada anggota namanya Yunho .__. Tapi saya gak tahu dia yang mana orangnya. Yang jelas, bukan Yunho U-Know itu .__. Oke. Sampai sini dulu.

SEE YOU🙂

Beautiful Angel

Hello. Ini dia FF One Shoot saya. Semoga suka. Selamat menimati. Jangan lupa komentarnya. Terima kasih. Selamat membaca ^^

——–

Cast:

Lee Sun-young

Lee Donghae

Lee Sungmin

——-

[Author POV]

“Oppa, apa kabarmu ya sekarang?” sambil melihat-lihat album foto lamanya, Sun-young teringat teman kecilnya yang sudah 11 tahun ditinggalkannya. “Kalau bertemu nanti, apa Oppa masih ingat aku?” tanya Sun-young pada foto lelaki berusia 12 tahun di foto itu. “Sunnie-ah, ayo makan!” ajak Donghae, kakak angkat Sun-young, yang biasa memanggilnya Sunnie. Sun-young hanya diam. Tidak beranjak dari kasurnya dan tetap  memandangi foto-foto di tangannya. “Sunnie-ah kamu lagi ngapain sih? Appa dan Eomma sudah menunggu di bawah.” Donghae berjalan masuk menghampiri Sun-young dan duduk di sebelah adik angkatnya.

“Kamu masih memikirkan dia ya?” tanya Donghae. Sun-young menoleh dan terkejut. “Oppa?! Sejak kapan disini?” tanya Sun-young polos. “Aish… Jadi kamu tidak sadar? Pantas saja ketika kupanggil kamu tidak menyahut.” Donghae mengacak-acak rambut Sun-young dengan lembut. “Aaakh!!” Sun-young menurunkan tangan Donghae dari kepalanya. “Siapa sih dia?” tanya Donghae sambil merebut satu foto di tangan Sun-young. “Eh? Oh itu. Temanku dulu. Sebelum keluarga Oppa mengadopsiku.” Jawab Sun-young. Sepertinya dia mulai bernostalgia lagi dalam pikirannya.

“Rasanya pernah lihat. Siapa namanya?” tanya Donghae. “Sungmin Oppa.” jawab Sun-young. Donghae terdiam, memikirkan sesuatu. “Oppa pernah lihat dimana?” tanya Sun-young. “Nah itu dia. Oppa lupa. Sepertinya kalau sudah makan, Oppa akan ingat. Ayo kita makan!” ajak Donghae sambil menarik tangan Sun-young dan mengajaknya ke ruang makan. Ternyata benar, Appa dan Eomma sudah menunggu.

“Sunnie-ah, kamu ngapain aja di kamar? Kami sudah menunggu.” Ujar Eomma sambil mengambil makan malam untuk Sun-young. “Mianhae, Eomma. Tadi aku—“ “Tadi aku main sebentar sama Sunnie-ah. Maaf Eomma. Hehehe.” Bela Donghae. Sun-young melirik Oppanya dengan tatapan bingung, sementara Donghae masih sibuk senyum-senyum sama Eomma dan Appa-nya.

@@@

Sun-young kembali memandangi foto-foto temannya itu sambil duduk di teras belakang rumahnya. Sudah jam 11 malam, dan dia masih belum bisa tidur. Berhubung besok hari Sabtu dan dia libur kuliah, Sun-young pikir tidak apa-apa kalau mala mini dia tidur lebih malam lagi. “Oppa… Kapan ya kita bertemu lagi? Apa Oppa masih ingat aku?” tanya Sun-young pada foto di hadapannya. “Tentu saja Oppa masih ingat! Mana mungkin Oppa melupakan gadis cantik sepertimu? Hahaha!” Donghae mengambil tempat di sebelah Sun-young yang terkejut. “YA! Kenapa Oppa selalu mengejutkanku sih?” tanya Sun-young kesal. “Hahaha… Lagi kamu selalu berbicara dengan foto itu.” sahut Donghae sambil lagi-lagi mengambil foto di tangan Sun-young.

“Heh namja! Jangan kau buat adik tersayangku jadi gila, ya!” Donghae marah-marah pada foto itu. “HUAHAHAHAHA!!!” tawa Sun-young meledak seketika. Donghae menoleh pada adiknya itu. “Wae?” tanya Donghae, polos. “Oppa… HAHAHA!!! Ya Tuhan… Oppa wajahmu itu… Hahahhaha!!” Sun-young tidak bisa menghentikan tawanya. “Ng? wajahku? Kenapa wajahku? Tampan ya?” tanya Donghae sambil tersenyum. Sun-young menghentikan tawanya dan memandang Oppa-nya dalam-dalam. “Kau…. Benar-benar pendek, Oppa.” jawab Sun-young. Donghae terkejut dan panik. Lagi-lagi, seperti biasa dia langsung berlari. Tapi sebelum sempat lebih jauh lagi, Sun-young berhasil menangkap Oppa-nya.

“Tidak Oppa!! aku bercanda!!” Sun-young tertawa lagi. Donghae berdiri berhadapan dengan adiknya. Tinggi mereka hanya berbeda 5 senti. “Tidak. Aku pendek.” Donghae terlihat putus asa. “Tidak Oppa!!!!!!” Sun-young memeluk Oppa-nya erat-erat, merasa bersalah. “HAHAHAHA!! Aku bercanda Sunnie-ah!” Donghae menepuk-nepuk punggung Sun-young. “Mianhae Oppa!!” Sun-young masih merasa bersalah. “Ah, aku memang pendek. Semua karena Eomma!” jawab Donghae.

“Kalian belum tidur?” suara Eomma mengejutkan keduanya. Donghae lebih panik dari sebelumnya. “Emm… Baru mau tidur, Eomma.” Jawab Sun-young. “Ya sudah. Tidur sana. Kamu juga, Donghae-ah. Cepat.” Eomma menarik keduanya ke tangga. Keduanya langsung naik ke tangga dan masuk ke kamar masing-masing.

Paginya, selesai sarapan, Sun-young memutuskan untuk mengunjungi panti asuhannya yang membutuhkan waktu 3 jam dari rumahnya. Dia berharap bisa mendapatkan alamat rumah Sungmin Oppa yang baru dan bisa menghapuskan rasa rindu di hatinya. Melihat Sun-young yang sedang siap-siap pergi, Donghae bertanya apa yang akan dilakukan adiknya itu.

“Eh? Aku mau ke panti asuhan Oppa.” jawab Sun-young sambil tetap memakai sepatu boot berwarna cokelat muda setinggi tulang keringnya. “Tapi itu kan jauh, Sunnie-ah.” Ujar Donghae sambil merebut tas Sun-young, hendak membawanya masuk. “Ahh!!” pekik Sun-young sambil merebut tasnya lagi. “Aku sudah bilang sama Appa dan Eomma. Lagi pula, aku rindu sekali sama ibu panti.” Ujar Sun-young sambil menyampirkan tasnya di punggung. Donghae terdiam. Walaupun bukan lahir dari rahim ibunya, tapi Donghae sangat sayang padanya.

“Perlu diantar?” tanya Donghae. Raut wajahnya terlihat khawatir. “Tidak usah, Oppa. aku bisa sendiri.” Jawab Sun-young. Tidak lama kemudian, Sun-young pergi. Donghae merasa, ada yang mengganjal di hatinya. Ia tidak mau adiknya pergi ke panti asuhannya. Tapi ia tidak tahu apa yang membuatnya merasa begitu.

@@@

“Ahjuma…” Sun-young mencolek bahu seorang wanita yang sedang menyiram tanaman di kebun. Wanita berusia sekitar 50 tahun itu menoleh. Sun-young tersenyum. “Ingat aku?” tanya Sun-young. Ahjuma itu tidak bergerak. “Aku—“ “Lee Sun-young.” Selak Ahjuma yang ternyata tidak melupakannya itu. Ahjuma ini adalah Eomma-nya Sungmin, pemilik panti asuhan.

“Apa Ahjuma Sungmin Oppa kemana?” tanya Sun-young sambil sesekali menyeruput teh hangat yang dibuatkan Ahjuma untuknya. “Sun-young,” Ahjuma mendesah pelan lalu melanjutkan, “Ahjuma minta maaf padamu. Dua tahun setelah kamu diadopsi, Sungmin meninggal.” Jawab Ahjuma.

Sun-young benar-benar shock. Air matanya tidak dapat dibendung seper-sekian detik pun. “Mening… gal?” tanya Sun-young tidak percaya. Ahjuma mengangguk. Tangis Sun-young pecah. Segera saja Ahjuma memeluknya. “Oppa…. kenapa tinggalkan aku sebelum kita sempat bertemu lagi?” tanya Sun-young. Ia benar-benar sedih kehilangan orang yang sangat disayanginya. Dia sudah menganggap Sungmin seperti kakak kandung baginya. Sungmin sangat menyayanginya.

[flashback]

“Oppa, tunggu aku ya. Aku pasti kembali.”

“Tentu saja. Oppa menunggu di sini.”

“Tidak akan pergi ya. Kalau aku datang, Oppa harus menyambutku!”

“Tentu saja. Sudah sana pergi. Keluargamu sudah menunggu!”

[flashback end]

@@@

“Oppa, aku mau menagih janjimu padahal. Tapi kamu sudah meninggalkan aku. Jahat sekali.” Ujar Sun-young di depan makan Sungmin. Air matanya sudah berhenti keluar, karena ia tidak mau menangisi makam sahabat terbaiknya. “Padahal aku mau bercerita banyak tentang Donghae Oppa. Ternyata benar yang Oppa bilang waktu itu. Aka nada yang menjagaku nanti kalau aku sudah punya keluarga baru. Donghae Oppa menjagaku dengan baik. Sama sepertimu.”

“Oppa… kenapa pergi secepat ini?” Sun-young hampir menangis lagi, kalau tidak cepat-cepat dia menghela napasnya. “Kalau begitu, tepati janjiku yang satu ini ya?” Sun-young menunjukkan kalung yang dulu Sungmin berikan padanya. “Lihat. Aku masih pakai kalung ini. Sesuai janjiku padamu waktu itu. Sampai kapan pun, tidak akan aku lepas. Kalau begitu, Oppa juga harus berjanji.” “Jaga aku dari surga ya. Jaga aku.” Pinta Sun-young.

[Sungmin POV]

Sungmin menangis di hadapan Sun-young yang sedang berbicara dengan makamnya. Makam yang tidak terakhir kali dilihatnya 9 tahun yang lalu, ketika acara pemakaman dirinya berlangsung. “Mianhae, Sun-ya. Aku tidak menepati janjiku padamu…” ujar Sungmin sambil memperhatikan gadis yang masih asik berbicara dengan makamnya.

“Lihat. Aku masih pakai kalung ini. Sesuai janjiku padamu waktu itu. Sampai kapan pun, tidak akan aku lepas. Kalau begitu, Oppa juga harus berjanji.” Sungmin senang melihat gadis di hadapannya ini masih memakai kalung yang diberikannya 12 tahun lalu. “Jaga aku dari surga ya. Jaga aku.” Pinta Sun-young pada Sungmin.

“Aku pasti menjagamu, Sun-ya.” Ujar Sungmin. Perlahan dipegangnya tangan Sun-young yang sedang meraba nisannya. “Oppa… Apa Oppa disini?” tanya Sun-young. “Sun-ya aku disini. Apa tidak bisa lihat aku?” tanya Sungmin. “Oppa… Dimana pun Oppa berada. Aku harap Oppa bahagia ya.” Sun-young tersenyum pahit di depan nisan bertuliskan nama Sungmin.

“Sunnie-ah!” panggil seorang namja berusia sama dengan Sungmin. “Oppa? Sedang apa di sini? Kenapa bisa disini?” Sun-young berdiri dan menghampiri orang itu. “Kata ibu panti, kamu disini. Aku menyusulmu. Aku takut kamu kenapa-kenapa.” Jawabnya. “Donghae Oppa tidak usah khawatir. Karena mulai sekarang, malaikatku sudah kembali.” Ujar Sun-young. “Malaikat? Siapa?” tanya Donghae bingung. “Sungmin Oppa. Dia sudah berjanji padaku, akan menjagaku.” Jawab Sun-young.

Donghae melirik makam di belakang Sun-young. Ia berjalan menghampirinya. “Sungmin-ah. Jaga adikku ya. Jangan sampai dia terluka. Aku percaya padamu.” Donghae tersenyum pada makam itu. “Tentu saja. Dia itu kan, cinta pertamaku Donghae-ah.” Jawab Sungmin sambil melipat tangannya di depan dada. “Sunnie-ah. Ayo pergi. Aku merinding disini.” Ajak Donghae. Sun-young mengangguk.

[Author POV]

Sebelum pergi Sun-young jauh, dia menoleh ke makam Sungmin. Sun-young terkejut ketika melihat sahabatnya itu sedang berdiri di samping makamnya sendiri sambil tersenyum. Senyum paling manis dan paling indah yang pernah Sun-young lihat. Senyum yang penuh kedamaian. Sun-young membalas senyum itu.

“Kalau Sungmin Oppa sudah berjanji, pasti akan dia tepati. Walaupun yang satu itu tidak.” Ujar Sun-young pada Donghae sambil terus berjalan. “Aku percaya.” Jawab Donghae singkat. “Kalau begitu, malaikatku jadi ada dua!” seru Sun-young. “Siapa yang satunya?” tanya Donghae. “Oppa.” jawab Sun-young sambil memegang lengan Donghae. Donghae hanya tersenyum.

“Sungmin Oppa… Kamu selalu menjadi malaikatku. Terima kasih Oppa sudah menjagaku selama ini. I’m glad you become my first angel. Please, be my angel forever, Oppa.”

————————————————————– THE END ———————————————————

Akhirnya… FF One Shoot [yang semoga saja bagus dan disukai readers] ini selesai dibuat. Baru aja dibuat. Hehehe… Saya bingung mau kasih judul apa. Jadi setelah ditimbang-timbang, sepertinya Beautiful Angel ini cocok. Apalagi Sungmin Oppa kan memang cantik (?) kekeke~ Begitu lah…. Saya harap kalian suka ya. Jangan lupa komentarnya. No silent readers🙂

Love Again [Part 2/END]

Ini dia Part keduanya a.k.a Part terakhir🙂 Akhirnya saya berhasil bikin cerita lumayan pendek. nanti saya bikin lagi deh yang one shoot ok

doakan agar ceritanya seruuu :p oh ya, sekali lagi HAPPY READING! ENJOY! DON’T FORGET TO COMMENT! NO SILENT READERS, please~

——-

Cast:

Kim Haera (anggap aja readers ok)

Cho Kwangmin

Cho Youngmin

Cho Kyuhyun

Min Ra

——

Sudah seminggu sejak ciuman pertamaku itu. Dan belakangan aku lebih senang bersama Kwangmin Oppa yang semakin meyakinkanku kalau dialah yang aku cintai. Dan hari ini, kami sudah janjian di taman. Dia ingin memberiku sebuah kejutan yang tidak akan dilupakannya. Aku tidak sabar menunggunya. Tapi tiba-tiba aku memikirkan Youngmin Oppa. Kembali teringat tatapannya malam itu. Tatapan penuh harap, penuh penyesalan. Membuatku ingin membatalkan janjiku hari ini dengan Kwangmin Oppa dan bertemu dengan Youngmin Oppa minta dijelaskan semuanya.

Sudah jam setengah 11 sekarang. Kwangmin Oppa belum juga datang. Padahal aku sudah menunggunya setengah jam disini. Sejak jam 10, sesuai janji kami. Kuhubungi ponselnya. Tidak diangkat. “Oppa dimana sih?” aku mulai tidak sabar. “Apa kutelepon—“ kulihat screen HP-ku. Oppa-ya~ “Yeoboseyo?” jawabku dengan girang. “Haera-ya? Ini aku… Youngmin.” Aku terdiam. Kenapa dia pakai ponsel Oppa? “Ne. Waeyo? Kenapa pakai ponsel Kwangmin Oppa?” tanyaku, santai.

Haera-ya… bisa datang ke rumah sakit sekarang?”

“Waeyo?” perasaanku mulai tidak enak.

“Hyung kecelakaan. Sekarang sedang kritis.”

Waktu serasa berhenti. Aku tidak bisa bergerak sama sekali. ‘Kritis?’ batinku. Tiba-tiba air mataku menetes. “Haera-ya tunggu di sana saja ya. Aku akan menjemputmu.” Ujar Youngmin Oppa dan langsung memutus sambungan. Tangisku langsung pecah di taman. Taman sedang sepi. Tidak ada orang. Seperti sengaja di kosongkan. ‘Oppa kenapa jahat padaku? Katanya mau datang?’ batinku terus. Kakiku lemas, tanganku lemas, seluruh tubuhku lemas. Aku seperti ingin ditelan bumi sekarang juga.

Aku terus menangis hingga akhirnya Youngmin Oppa datang. “Haera-ya!” dia berlari menghampiriku. Aku berdiri menghampirinya dan langsung memeluknya. “Oppa… Kenapa Kwangmin Oppa berbohong padaku?” aku masih menangis sehingga pertanyaanku tidak jelas. Aku menumpahkan semua air mataku di dada Youngmin Oppa. Aroma tubuh mereka sama, membuatku tidak bisa melupakan Kwangmin Oppa.

“Sebaiknya sekarang kita ke rumah sakit ya?” ajak Youngmin Oppa sambil merangkulku dan memintaku naik ke atas motornya. Motor yang sama dengan Kwangmin Oppa, hanya berbeda warna. Youngmin Oppa segera menjalankan motornya menuju rumah sakit. Dalam waktu 20 menit, kami sampai. Di sana sudah ada Cho Ahjussi dan Ahjuma, Kyu Oppa, dan Min Ra Eonni. “Haera-ya…” Min Ra Eonni segera memelukku. Lagi-lagi tangisku pecah. Aku tidak kuat. Aku takut terjadi apa-apa pada Kwangmin Oppa.

Tidak lama setelah kami berdua sampai, dokter keluar dan menyatakan kalau Oppa sudah melewati masa kritisnya. Kami semua lega, tapi dokter bilang dia masih belum sadar, jadi aku belum bisa bernapas dengan sangat lega. Dari luar ruang ICU, kupandangi semua alat yang menempel di tubuhnya. “Oppa, jangan tinggalkan aku ya. Kau sudah janji akan memberiku kejutan yang tidak akan aku lupakan. Kau harus tepati itu!” gumamku. Air mataku menetes lagi, tapi seseorang menghapusnya. Kyu Oppa. “Haera-ya, jangan menangis. Ini.” Kyu Oppa memberiku secangkir teh hangat. “Lebih baik duduk di sana, dan minum ini. Biar lebih tenang.” Ujarnya lembut. Min Ra Eonni sudah pulang beberapa saat lalu.

Kyu Oppa duduk menemaniku sedangkan Cho Ahjussi dan Ahjuma sedang berbicara dengan dokter. “Oppa sudah berapa lama bersama Eonni?” tanyaku, membuka pembicaraan. “Em… Sudah 7 tahun. Hahaha…” jawabnya sambil tertawa. “Kenapa tidak mengajaknya menikah?” tanyaku usil. “Dia belum siap. Lagi pula, usia kami kan masih muda.” Jawabnya, enteng. “Hahaha… Begitu ya Oppa?” tanyaku. “Ne. Kau sendiri? Sudah berapa lama dengan Kwangmin-ah?” tanya Kyu Oppa. “Empat tahun.” Jawabku singkat.

Teringat kembali ketika kami pertama bertemu. Berkali-kali aku salah mengenali Oppa-ku sendiri, tapi setelah seminggu aku mulai mengingatnya; teringat lagi ketika bulan-bulan pertama kami jadian, beberapa anak perempuan membenciku karena aku bisa jadian dengan Kwangmin Oppa; mati-matian Oppa memintaku tetap bertahan dengan  hubungan kami…. Saat aku sedih, Oppa selalu ada. Oppa juga yang membantuku mengerjakan PR. Oppa juga yang selalu menasehatiku. Oppa yang selalu menyemangatiku. Oppa yang selalu tersenyum hingga membuatku meleleh~ “Aku tidak mau kehilangannya.” Ujarku.

Kyu Oppa menoleh padaku dan menatap lembut padaku tanpa berkata apa-apa padaku. Aku menunduk dan meneteskan air mataku lagi yang tak juga habis. “Sudah, jangan menangis lagi. Lebih baik doakan supaya Kwangmin-ah cepat sadar, pulih, dan bisa berkumpul lagi. Ya kan?” Kyu Oppa menarikku ke pelukannya. Kami sudah seperti keluarga, jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak ya. Aku menanggis di pelukannya. Lama sekali. Sampai sepertinya aku tertidur di pelukannya. Kyu Oppa tidak protes lho! ~(*-*)~ dia malah membiarkanku di sana.

Sampai akhirnya aku terbangun. Sekarang Kyu Oppa yang sedang tidur. Kulirik jam di ponselku. Sudah jam 11 malam. Pantas rumah sakit sepi. Cho Ahjussi dan Ahjuma sudah pulang, sepertinya Youngmin Oppa juga. Hanya ada aku dan Kyu Oppa. Aku berjalan menghampiri kaca yang kini sudah tertutup tirai. Di baliknya, ada pacarku yang sedang terbaring tidak berdaya dengan alat-alat mengerikan. Air mataku (lagi-lagi) mengalir. Aku pun lelah dengan tangisan-tangisan ini. Tidak bisa kah mereka tidak keluar? Apa yang harus aku lakukan?

“Haera-ya, sebaiknya kuantar pulang.” Suara Kyu Oppa mengejutkanku. Dia sudah berdiri di sebelahku dengan mata setengah terbuka. “Jangan Oppa. Nanti malah celaka. Oppa masih ngantuk kan? Lebih baik aku pulang sendiri saja.” Ujarku. “Anio. Aku akan hubungi Youngmin-ah untuk mengantarmu pulang.” Kyu Oppa segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi adiknya itu. Aku diam dan menunggu sampai Youngmin Oppa datang. “Oppa, sebenarnya aku ingin menemani Kwangmin Oppa disini.” Ujarku pelan. “Andwe. Besok kamu sekolah kan? Lebih baik istirahat.” Ujar Kyu Oppa. “Ne. Kalau Oppa sadar, hubungi aku ya Oppa.” ujarku. “Ne. Pasti. Tenang saja…” Kyu Oppa tersenyum, padahal dia masih setengah tidur.

Akhirnya aku pulang dengan Youngmin Oppa. Dia membawakan aku jaket karena di luar dingin sekali dan aku tadi tidak memakai jaket. “Gomawo Oppa.” ujarku. Suaraku terdengar berdengung karena hidung tersumbat sehabis menangis. “Ne. Jangan menangis lagi ya. Aku yakin, Hyung baik-baik saja. Dia akan segera kembali.” Youngmin Oppa menepuk bahuku. “Ne.” aku mengangguk. Tidak lama, setelah berbincang sebentar, aku masuk dan Oppa pulang.

Paginya aku sudah bangun lagi dan ketika keluar rumah aku terkejut. ‘Oppa?’ batinku. Aku melihat Oppa-ku sudah di sana. Di atas motornya. Tunggu dulu! Dia bukan… Oh My God. Dia Youngmin Oppa ternyata -___- “Oppa? kenapa…” aku menggantung kata-kataku. “Ashh maaf Haera-ya. Semalam Hyung datang ke mimpiku. Dia minta aku menjagamu. Aku takut -_-“ jawabnya. Aku mengangguk kecil dan segera naik ke motornya. Berbeda sekali. Kalau Kwangmin Oppa selalu menggunakan kecepatan tinggi, kalau Youngmin Oppa hanya sebatas 50 km/jam.

Sampai di sekolah, beberapa anak terlihat bingung karena mataku sembab dan aku tidak bersikap romantis dengan Oppa. Jelas lah! Dia bukan Kwangmin Oppa!! “Haera-ya!” sapa Hyechan. Aku menoleh. “Kau sedang bertengkar dengan Oppa?” tanya Hyechan ketika kami sudah di lapangan sekolah. “Tidak.” Jawabku. “Lalu kenapa matamu sembab dan… kau tidak bercanda bersamanya seperti pagi-pagi sebelumnya?” tanya Hyechan. “Karena dia bukan Kwangmin Oppa!” jawabku. “Mwo? itu… itu… itu Youngmin Oppa?” tanya Hyechan tidak percaya. Aku mengangguk.

“Dimana Kwangmin Oppa?” tanya Hyechan. Aku tidak menjawab. Mengingat hal itu, membuatku ingin menangis lagi. Segera aku berlari meninggalkan Hyechan di lapangan sekolah yang kebingungan dengan sikapku. Aku berlari menuju kelas dan segera duduk di bangkuku. “Haera-ya! Kamu kenapa?” tanya Hyechan sambil tersengal-sengal. Sepertinya dia mengejarku.

Aku memeluknya dan menangis lagi. Aku menceritakan semuanya. Dia ikut menangis bersamaku. Selama pelajaran aku tidak bisa berkonsentrasi karena kepalaku pusing dan aku terus memikirkan Oppa. “Seonsaengnim, aku ijin ke toilet ya.” Pintaku. Shin Seonsaengnim mengangguk dan aku keluar dari kelas. Segera kulangkahkan kakiku yang semakin terasa berat ke toilet. Aku membasuh wajahku agar kembali segar.

“Oppa… When we were young, you promise me to never leave me alone. So I beg you to relize it now!” ujarku. Aku keluar dari kamar mandi. Kepalaku semakin terasa berat. Langkahku semakin sulit. ‘Aku lapar~’ aku memegang perutku yang mulai terasa perih. Kepalaku juga terasa berat. Tiba-tiba aku merasakan seperti ada cahaya yang menusuk mataku. Aku kunang-kunang. Dunia serasa berputar 4 kali lebih cepat. Pandanganku mengabur. “Haera-ya!” seseorang menahan tubuhku agar tidak jatuh. Tidak tahu siapa.

“Namamu siapa?”

“Haera. Kim Haera.”

“Oh. Aku Kwangmin. Cho Kwangmin. Jangan tertukar ya!”

“Ng?”

“Youngmin-ah! Sini!” “Kenalkan. Ini saudara kembarku. Youngmin.”

“Haera-ah, mau jadi pacarku?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku merasa nyaman denganmu. Mau tidak?”

“Tapi aku tidak tahu caranya, Oppa.”

“Jadilah dirimu sendiri ya. Aku suka kamu apa adanya.” “Ne, Oppa~!”

“Kalau kupanggil Jagi bagaimana?”

“Terserah Oppa.” ^^

“Baiklah~” “Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu Jagi. Selamanya. Kita akan menikah suatu hari nanti. Punya anak banyak.”

“Benar ya? Kalau Oppa meninggalkanku, apa balasannya?”

“Emm… Apa ya? Tidak akan ada balasannya. Karena aku tidak akan meninggalkanmu.” ^^

“Kenapa kamu memlih Kwangmin Hyung, Haera-ya?”

“Apa kamu tidak sadar kalau aku juga mencintaimu?”

“Itu karena aku tidak mau melihatmu dengan Hyung. Sebisa mungkin aku menghindari kalian.”

“Kenapa kamu diam saja di mobil, Jagi?”

“Mungkin hanya lelah. Oppa sebaiknya kembali ke mobil. Kyu Oppa dan Min Ra Eonni sudah menunggu. Sampai jumpa Oppa!”

“Saranghaeyo Jagi. Sampai jumpa.”

“Jagiya, mianhae. Aku harap kamu bisa memiliki yang lebih baik dariku ya. Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku tidak menepati janjiku. Banyak sekali janji yang aku langgar. Mianhae… Mianhae, Jagi~”

Aku tebangun dan menyadari kalau ternyata aku tidak di sekolah. Ini bukan klinik sekolah. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali agar pandanganku jelas. Kutolehkan kepalaku. ‘Oppa-ya?’ batinku. ‘Apa itu Oppa? Apa kamu Kwangmin Oppa? Kamu bukan Youngmin Oppa kan?’ tanyaku dalam hati. Orang ini memegang tanganku erat sekali. Aku berusaha melepaskan tangannya dariku. Dan sepertinya karena itu dia jadi terbangun. -_-

“Youngmin Oppa?” aku terkejut. Dia langsung berdiri dan memandangiku dengan tatapan terkejut. Apa tidak salah? yang seharusnya terkejut itu kan aku? -___- “Oppa kenapa disini? Aku kenapa disini?” tanyaku. “Dua hari lalu kamu pingsan. Aku yang bawa kamu kesini. Kim Ahjussi mendadak pergi ke Nowon, jadi Ahjuma ikut. Kamu ditinggal sendiri. Jadi aku—“ “Arasseoyo, Oppa. Gomawo.” Ujarku.

Aku teringat kata-kata terakhir Kwangmin Oppa. Rasa-rasanya, Oppa tidak pernah bilang begitu padaku. “Oppa, bagaimana keadaan Kwangmin Oppa?” tanyaku, teringat pada pacarku itu. Youngmin Oppa terdiam. Raut wajahnya berubah. “Oppa?” suaraku bergetar. “Oppa jawab…” aku meraih tangannya. Matanya berkaca-kaca. Aku mengerti. Aku mengerti sekarang. Pantas saja aku tidak ingat Oppa pernah bilang begitu, karena Oppa memang tidak pernah bilang begitu.

“Mianhae, Haera-ya…” jawabnya tanpa memandangku. Air mataku tumpah lagi. Aku tidak tahan. ‘Oppa…. Kenapa tidak menepati janji? Kenapa? Kenapa berjanji padaku kalau kita akan punya banyak anak nanti? Kenapa?’ tanyaku dalam hati. Seolah aku melihat Kwangmin Oppa di sini. Dia tersenyum padaku sambil berkata “Tersenyumlah selalu untukku, Jagi. Jangan menangis. Aku selalu di hatimu.” “OPPA!!!!!!!” teriakku.

Tanganku menggapai-gapai tangan Kwangmin Oppa yang terus menjauh. “OPPA!!!!” teriakku. Youngmin Oppa langsung memeluk tubuhku dan menangis bersamaku. “OPPA!!” teriakku. “Tenang Haera-ya… Dia sudah pergi~” Youngmin terus mendekap tubuhku. Aku menangis di pelukannya. Kyu Oppa buru-buru masuk ketika mendengar teriakkanku. Begitu juga dengan Cho Ahjussi dan Ahjuma, Min Ra Eonni, dan juga sahabatku, Hyechan.

“OPPA!!” aku terus menangis di pelukannya. Di pelukan Youngmin Oppa. Hyechan menangis melihat sikapku. Aku terus berontak. “Oppa kenapa tinggalkan aku?? Oppa mana janjimu?! Kau berjanji akan menikah denganku Oppa!!” jertiku. “Haera-ya dia sudah pergi… Biarkan dia pergi…” Kyu Oppa mengusap punggungku. Aku tidak bisa tenang.

Selama satu bulan aku seperti orang gila. Aku masih belum bisa menerima keadaan ini. Kwangmin Oppa terlalu aku cintai, aku terlalu menomor satukannya sehingga aku tidak bisa menerima kepergiannya yang secepat ini. Youngmin Oppa juga mengalami hal yang sama. Separuh jiwanya pergi. Bagian dari dirinya, sudah diambil duluan. Tuhan? Kenapa tidak adil??😥 kenapa mengambil Kwangmin Oppa? dia begitu dicintai banyak orang! Karena kepergiannya, aku jadi begini. Karena kepergiannya, Youngmin Oppa tidak sering tersenyum seperti biasanya. Tuhan… Kembalikan dia😥

@@@

Tiga tahun kemudian. “Oppa, ingat tidak sekarang hari apa?” dia hanya diam. Jelas. Aku sedang berbicara dengan makam Kwangmin Oppa. “Sekarang adalah hari jadi kita yang ke 7 ^^” “Oppa aku sangat rindu Oppa. Kapan Oppa akan mengajakku ikut denganmu? Kekeke~ jangan sekarang ya Oppa.” aku mendesah. “Oppa, terima kasih sudah mengirimkan padaku malaikat yang baik sepertimu. Dia sangat mirip denganmu. Sudah setahun ini aku bersamanya. Kamu setuju kan Oppa? Kamu tetap disini kok.” Aku memegang dadaku, bagian hatiku. “Tenang saja. Ok? Oppa… Aku akan segera masuk kuliah. Di universtias impianmu.”

“Oppa…. Apa kamu setuju Oppa?” tiba-tiba seperti ada yang memegang bahuku. Aku menoleh. Ng? Youngmin Oppa? Eh?! “Kwangmin Oppa?” “Jagiya… Mianhaeyo… Maaf ya aku pergi tanpa pamitmu. Bahagialah bersamanya. Selama kamu bahagia, aku bahagia. Aku selalu disini.” Dia menyentuh hatiku. ^^ “NE! Gomawo Oppa-ya… Aku berjanji akan selalu bahagia. Sama seperti aku bersamamu. Youngmin Oppa sudah berjanji akan selalu membahagiakan aku. Aku juga sudah berjanji akan membahagiakanmu. Jadi… Kita harus bahagia ya Oppa!” “Ne. Selamat tinggal, Jagi. Tersenyumlah untukku ya.” ^^ dia pergi.

Kwangmin Oppa, selamat tinggal. Semoga bahagia di surga sana. Tunggu aku ya, Oppa! \(^o^)/

Trio Cho

Cho Kwangmin, Cho Kyuhyun, and Cho Youngmin

———————————————————————- END ——————————————————————

SELESAI😀 tadinya saya mau bikin sad ending, tapi gak mau ah ._. gak enak kalo akhirannya sedih. hahaha jadi…. rada2 aja deh ya ._.v

oh ya, gimana ceritanya? hehehe ditunggu banget ya komentar kalian. gak ada kritik, adanya saran. jadi saya minta sarannya yaa🙂

soalnya kalau kritik itu belum tentu bersaran, tapi kalau saran kan, udah ada kritiknya ;3

ok ok?? hehehe~

Halo halo!! Ini FF kedua saya dan bukan tentang boy band yang sudah lumayan lama dengan debutnya. FF ini tentang Boy Band baru, namanya Boy Friend. udah pada tahu belum? kalo belum…. cepet baca profile nya yaaa :)) ooke? Oh iya, tapi dari Boy Friend ini, cuma 2 member yang saya pakai, yaitu si kembar! Cho Kwangmin dan Cho Youngmin. mereka kembar asli loh ._. Oke. Happy Reading. Enjoy! Don’t forget to comment🙂 thank you ({})

————-

Cast:

Kim Haera (anggap saja itu readers ya)

Cho Kwangmin

Cho Youngmin

Cho Kyuhyun

Min Ra

————-

Sudah empat tahun ini aku menjalin hubungan dengan Cho Kwangmin, kakak kelasku di sekolah sejak SMP. Dia setahun lebih tua dariku. Oh ya, dia punya saudara kembar, namanya Cho Youngmin. Kemiripan wajah mereka, membuat sebagian besar orang sering salah mengenali mereka. Untung saja, tanda pengenal a.k.a nama siswa yang tertempel di blazer murid tidak pernah lupa mereka gunakan sehingga mempermudah sebagian besar orang itu untuk mengenalinya.

Dan hari ini, aku merasa badanku tidak enak. Sebenarnya aku berniat untuk istirahat di rumah saja, tapi aku ingat kalau aku sudah berjanji dengan Kwangmin Oppa untuk menemaninya mencari kado untuk Eomma-nya yang akan berulang tahun minggu depan, jadi kubatalkan niatku untuk tidak masuk sekolah. Lagi pula aku rasa aku masih bisa tahan ^^

Seperti biasa, Kwangmin Oppa menjemputku pagi ini di rumah. “Annyeong Jagi-ya!” sapa Kwangmin Oppa yang saat ini baru saja masuk SMA. “Annyeong Oppa-ya!” sapaku balik sambil menaiki motornya. “Eomma, kami berangkat ya!” ujarku sambil melambai pada Eomma yang mengantarku sampai halaman rumah. Eomma mengangguk. “Sampai jumpa nanti, Ahjuma.” Kwangmin Oppa melajukan motornya perlahan. Kulingkarkan tanganku di perutnya, berpegangan erat-erat karena Oppa-ku ini mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Untung saja, tidak lupa aku kenakan helm yang dibawanya, spesial untukku.

Sepuluh menit kemudian, aku sampai di sekolahku. SMP yang cukup terpandang di Seoul. Ya. Seperti yang aku bilang, dia setahun lebih tua dariku. Jadi aku masih SMP. Tahun ini aku lulus dari sini. “Belajar yang serius ya, Jagi-ya!” ujar Kwangmin Oppa sembari menyimpan helm yang tadi aku pakai. “Ne. Oppa juga ya!” jawabku. Suaraku sedikit serak, karena aku memang sedang tidak enak badan. “Jagi, kamu sakit ya?” tanya Kwangmin Oppa sambil memegang keningku. Beberapa anak yang melihat tingkah Oppa hanya senyum-senyum, ada juga sih yang seperti jealous sama aku, secara Oppa dan kembarannya, Youngmin Oppa, adalah dua namja yang terkenal di sekolahku.

“Aaa~ gwenchana Oppa-ya. Sudah sana, berangkat. Nanti terlambat.” Aku menyingkirkan tangannya yang lembut dari keningku dengan lembut. “Kenapa masuk kalau sakit?” tanyanya. “Aku tidak apa-apa, Oppa. Sudah berangkat ya.” Ujarku sambil tersenyum manis padanya. Dia memandangiku dengan tajam dan dingin, membuatku sedikit takut. “Gwenchanayo, Oppa-ya…” ujarku lagi. “Kalau ada apa-apa, hubungi aku ya?” katanya. Nadanya terdengar khawatir. Aku tahu dia sangat menyayangiku, seperti aku menyayanginya. “Ne. Oppa tidak perlu khawatir ya.” Lagi-lagi aku tersenyum. “Ne.” Kwangmin Oppa akhirnya berangkat ke sekolahnya yang tidak jauh dari sekolahku.

Kulangkahkan kakiku memasuki halaman sekolah. Kurasakan kepalaku semakin berat. “Aigo~” desahku pelan. “Haera-ya!” sapa sahabatku, Hyechan, sambil memegang kedua bahuku. Aku menoleh padanya. “Kau sakit ya?” tanya Hyechan sambil memegang keningku. Melakukan apa yang dilakukan Kwangmin Oppa tadi. “Aish~ gwenchanayo. Hanya pusing sedikit.” Jawabku sambil menyingkirkan tangannya. “Kamu demam tahu. Sebaiknya ke klinik.” Usul Hyechan. “Anio.” Tolakku singkat. “Waeyo? Nanti Oppa-mu cemas. Kasihan.” Tukas Hyechan, nadanya sedikit kesal.

“Aku sudah bilang padanya kalau aku baik-baik saja. Lagi pula kalau ada apa-apa, aku akan menghubunginya. Tenang saja, Hyechan.” Ujarku sambil merangkul sahabatku itu yang hanya diam saja. Kami berjalan ke kelas bersama. Sejenak aku melupakan sakit kepalaku itu dan sedikit memikirkan senyuman Kwangmin Oppa yang selalu membuatku terpana. Terlebih kalau dia menunjukkan gigi-giginya yang rapi itu. Haaaa~ aku benar-benar meleleh dibuatnya. Aku benar-benar menyukai kebersamaanku dengannya selama empat tahun ini. Sejak aku kelas enam. Hahaha… Terlalu dinikah untuk berpacaran? Sepertinya iya. :p

Sekolah berlangsung dengan cepat hari ini. Sakit kepalaku juga sudah tidak terasa lagi. Dan seperti biasa, Kwangmin Oppa menjemputku lagi di sekolah. Wajahnya terlihat khawatir. “Apa kamu masih sakit?” tanya Kwangmin Oppa. “Anio, Oppa. Aku sudah sangat lebih baik. Nih.” Aku meraih tangannya dan meletakannya di keningku, meyakinkannya kalau aku baik-baik saja sekarang. “Ah, syukurlah~ Tapi sebaiknya kamu istirahat saja di rumah. Jadi minggu depan bisa datang ke ulang tahun Eomma.” Ujar Kwangmin Oppa sambil tersenyum manis. Ah~ aegyo…. Dia bisa membuatku meleleh detik ini juga kalau tidak cepat-cepat dia menyuruhku naik ke motornya.

“Oppa, aku tidak apa-apa kok. Aku kan juga mau membeli kado untuk Cho Ahjuma!” seruku bersemangat. “Ah, anio! Kau harus istirahat!” paksanya. “Anio!! Tidak mau! Aku mau beli kado!!” paksaku tidak mau kalah. Kwangmin Oppa lagi-lagi memandangiku dengan tatapan dingin dan tajam. Seperti pagi tadi. Aku balik menatapnya begitu, dengan cara yang sama. Secepat kilat kututup wajah tampan itu dengan telapak tanganku yang tidak besar. Hampir saja dia jatuh, tapi dia hanya tertawa. Tidak marah. “Kaja. Ayo kita beli kado!” ajakku sambil naik ke motornya. Akhirnya dia mengalah dan mengijinkanku ikut Oppa beli kado ~(^o^)~

“Oppa-ya, appa Ahjuma akan suka ini?” tanyaku sambil menunjukkan sebuah syal berwarna putih polos dengan model bulu-bulu yang amat lembut. Untung harganya tidak terlalu mahal, 20 ribu won. “Wah, Eomma pasti suka!” Kwangmin Oppa tersenyum manis sekali. Ah~ lagi-lagi aku hampir dibuatnya meleleh kalau dia tidak cepat-cepat menunjukkan kado yang akan diberikannya pada Cho Ahjuma. “Lihat, bagus tidak?” tanyanya. Aku mengangguk. “Ahjuma pasti suka!” ujarku. Lalu kami pergi ke kasir dan membayarnya dan tak lupa membungkusnya sekalian.

Malamnya, Kwangmin Oppa dan aku duduk di ball room kamarku yang menghadap ke danau kecil dekat rumahku. Kusandarkan kepalaku di bahunya. Aku lelah sekali karena habis mengerjakan PR, untung saja Kwangmin Oppa yang pintar ini membantuku. “Kau pasti lelah ya, Jagi?” tanya Kwangmin Oppa sambil mencari wajahku. “Ne.” jawabku singkat dan pelan. “Ah, kau sakit lagi ya?” tanya Kwangmin Oppa sambil memegang keningku. Kali ini kubiarkan dia menyentuhnya karena tanganku sudah lemas sekali. “Badanmu panas, Jagi. Sebaiknya istirahat.” Kwangmin menegakkan tubuhku yang masih duduk itu dan menariknya dengan lembut. Kakiku sudah lemas sekali dan aku sangat bersyukur memiliki pacar sepertinya, karena dengan baiknya dia memapahku berbaring di kasurku. Tidak lupa dia menyelimuti tubuhku.

“Istirahat saja ya. Kalau perlu besok tidak usah masuk. Aku tidak mau kamu sakit lama-lama Jagi.” Ujarnya dengan nada sedih. “Ne Oppa. Mianhae aku membuatmu khawatir.” Ujarku. “Kalau kamu sehat nanti, baru kumaafkan. Arasseo?” sambil mengusap kepalaku dengan lembut, lagi-lagi dia tersenyum. Kali ini aku tidak sanggup meleleh karena aku sudah lemas, alhasil aku semakin lemas. “Arasseo.” Jawabku sambil membalas senyumnya. Dia melirik jam tangannya. “Kalau begitu, istirahat ya. Aku pulang dulu.” Dia mencium keningku. “Biar cepat sembuh!!” ujarnya sambil mencubit hidungku. “Aaw~!” aduhku pelan. Dia terkekeh dan mengambil tasnya yang tergeletak di sofa kamarku. “Sampai jumpa lagi Jagi. Cepat sembuh ya! Jangan lupa makan dan minum obat!” nasehatnya seperti ibu-ibu. Aku menangguk pasti. Dia melangkahkan kakinya keluar kamarku.

Satu minggu kemudian, aku dijemput Kwangmin Oppa dan kami berangkat ke rumahnya bersama. Kugunakan dress selututku yang berwarna sedikit orange dengan pita di pinggangnya dan flat shoes berwarna putih yang diberikan Kwangmin Oppa sebagai hadiah 2nd Anniversary kami waktu itu. “Neomu yeppun, Agassi.” Bisiknya lembut di telingaku sambil merangkul pinggangku. Aku tersipu. Kebetulan, Appa dan Eomma juga sedang pergi ke rumah saudara kami di luar kota, jadi sepertinya Kwangmin Oppa tidak ragu merangkul pinggangku seperti itu.

Kami masuk ke mobilnya. Ya, kali ini dia tidak pakai motor, katanya biar dandananku tidak rusak (?) kekeke~ Kim Ahjussi, sopir pribadi sekaligus (semacam) bodyguard Kwangmin Oppa melajukan mobil itu ke rumah majikannya. “Jagi, kamu cantik sekali hari ini.” Bisik Kwangmin Oppa. “Oppa baru sadar ya?” godaku. Dia tertawa kecil. “Tidak. Aku selalu menyadarinya. Hanya saja, hari ini aku sedang mendapat keberanian untuk mengucapkannya.” Elaknya. Aku tersenyum padanya. Dia ini memang bukan pacar yang jago gombal, tapi aku suka padanya. Entah apa yang membuatku menerima pernyataan cintanya empat tahun lalu.

Pesta ulang tahun Cho Ahjuma berlangsung meriah. Beberapa orang penting hadir di sana. Ya. Karena Cho Ahjussi adalah salah satu orang yang berhasil di Seoul. “Ayo kita kesana!” ajak Kwangmin Oppa sambil menunjuk Eomma-nya dan Youngmin Oppa lalu menarikku ke sana. Aku mengikutinya berjalan. “Saengil chukkha hamnida, Ahjuma.” Ujarku sambil memberikan kado ulang tahun yang aku beli padanya. “Aaa~ Haera-ya… Gomawo…” Ahjuma memelukku dengan hangat. “Ne. Cheonmaneyo, Ahjumma.” Aku sangat senang dia menerima kadoku, walaupun aku tidak tahu apa reaksinya saat dia membuka kado dariku.

“Haera-ah, kau cantik sekali hari ini. Kau buat Hyung-ku terpesona padamu.” Ujar Youngmin Oppa yang membuatku semakin tersanjung. “Ah, gomawo Oppa. Hihi…” aku tertawa kecil. “Kalian sebaiknya ambil minum di sana dulu. Eomma mau ke sana sebentar.” Ahjuma meninggalkan kami bertiga di tempat kado. “Youngmin Oppa~” seorang yeoja berjalan ke arah kami. Dengan gaun tanpa lengan berwarna hitam dan sepanjang lutut itu, yeoja ini terlihat lebih cantik dari aku. Kulihat Kwangmin Oppa tersenyum jahil, sedangkan Youngmin Oppa memasang tampang kesal. Aku tidak mengerti dan tidak mengenal siapa yeoja ini.

“Mau apa sih?” tanya Youngmin Oppa dengan nada kesal. Aku belum pernah melihatnya seperti itu pada perempuan. Aku jadi berpikir, perempuan ini pasti sering menganggunya. “Ya!! Oppa kenapa kasar sekali sih?” tanya perempuan itu. Akhh… aku pernah melihatnya dimana ya? “Jagi kita ke sana yuk.” Ajak Kwangmin Oppa. Sebenarnya aku berat hati meninggalkan Youngmin Oppa dengan perempuan aneh ini, tapi berhubung Kwangmin Oppa sepertinya lebih mengenal perempuan ini jadi aku berjalan mengikuti Kwangmin Oppa yang menggandeng tanganku.

Tidak lama setelah kami berdiri di sudut ruangan, Youngmin Oppa datang. “Kenapa kau tinggalkan Joonmi-ah?” tanya Kwangmin Oppa sambil menyimpan tawanya. “Bukan urusanmu, Hyung! Tega sekali kau tinggalkan aku bersama perempuan buas itu?!” cecar Youngmin Oppa. “Sebenarnya dia siapa?” tanyaku polos. “Dia itu—“ “YA! Oppa kenapa tinggalkan aku?” lagi-lagi perempuan itu datang. “Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kamu lakukan? Kenapa selalu mengikutiku? Kenapa selalu menggangguku? Kenapa tidak mencari orang lain yang bisa kau ganggu?” tanya Youngmin Oppa dengan sejuta pertanyaannya.

“Kan aku sudah bilang. Aku cinta Oppa. Kenapa Oppa tidak mengerti sih?” tanya perempuan itu. “Harusnya aku yang bertanya! Kenapa kamu tidak mengerti? Aku kan sudah bilang padamu, kalau aku tidak bisa jadi pacarmu. Aku tidak bisa membalas perasaanmu.” Ujar Youngmin Oppa menahan amarahnya. Perempuan ini hendak buka mulut, tapi cepat kuselak. “Maaf, Agassi. Sebenarnya kamu siapa?” tanyaku polos. Dia mengulurkan tangannya. “Kenalkan. Choi Rye-in.” Jawabnya dengan angkuh.

“Oh. Kim Haera.” Jawabku tanpa membalas uluran tangannya. Maaf ya, bukannya sombong. Tapi aku justru tidak suka dengan orang yang sombong sepertinya. Dia terlihat kesal. “Ya Yeoja, sebaiknya kamu pergi sekarang!” usir Youngmin Oppa dengan nada dingin tanpa sedikit pun melihat ke arahnya. Kami semua terkejut dibuatnya. Tidak lama setelahnya, Youngmin Oppa pergi meninggalkan kami. Wajahnya terlihat sangat kesal. “Eonni sepertinya sudah mengacaukan mood seseorang ya?” ujarku. Kwangmin Oppa dan aku menyusul Youngmin Oppa yang tidak tahu dimana.

Sudah sejam ini, aku dan Kwangmin Oppa berpencar mencari Youngmin Oppa. Sudah berkali-kali kami menghubungi ponselnya, tapi tidak aktif. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di bangku taman dekat rumah Oppa. Kwangmin Oppa sepertinya masih mencari di tempat lain. Semakin lama aku diam di tempat ini, aku semakin yakin kalau Youngmin Oppa ada di sini. Tapi dimana?

Kususuri jalan taman yang hanya diterangi lampu-lampu taman yang tidak terlalu terang. Aku menemukan sosok yang kucari. Youngmin Oppa sedang duduk di atas batu, menunduk. Aigo! Namja ini! Kuhampiri Youngmin Oppa. “Ternyata disini?” tukasku di hadapannya. Dia mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. “Haera-ya?” dia terkejut. “Kamu membuat aku dan Kwangmin Oppa lelah mencarimu tahu!” ujarku, dengan nada yang dibuat kesal. “Mianhae Haera-ya. Aku tidak bermaksud membuat kalian mencariku. Hanya butuh waktu sendiri.” Jawab Youngmin Oppa sambil tersenyum. Ah~ tidak dia, tidak Hyung-nya. Senyumnya membuatku meleleh. Tidak tidak. AKAN meleleh.

“Baiklah. Yang penting aku tahu kamu disini. Aku pergi dulu ya.” Aku undur diri, membiarkannya sendirian. Tiba-tiba tangannya menahan tanganku. “Kajima…” bisiknya pelan, tapi bisa kudengar. Aku membalikkan badanku dan menghadap badannya. Badannya yang 20 senti lebih tinggi dariku, membuatku harus mendongak menatapnya. Tatapannya dalam. Tiba-tiba jantungku berdebar. Apa ini? Aku tidak pernah merasakan hal ini pada Kwangmin Oppa .__. Aku sedikit panik. Ingin sekali kutepis tangannya, tapi aku tidak bisa.

“Kenapa kamu memilih Kwangmin Hyung, Haera-ya?” tanya Youngmin Oppa tiba-tiba. Membuatku hampir keringat dingin. “Maksudmu apa?” tanyaku sambil menatap wajahnya, berusaha sebisa mungkin tidak terlihat canggung. “Kamu mengerti maksudku, Haera-ya!” jawabnya. Kedua tangannya meraih kedua tanganku. “Maaf Oppa. Tapi aku tidak mengerti.” Jawabku. Dia diam dan perlahan melepaskan tanganku. “Lupakan saja, Haera-ya. Jangan dipikirkan.” Ujarnya semakin membuatku bingung dan penasaran. “Oppa, katakan padaku. Ada apa? Apa maksudmu?” tanyaku.

Kuraih pergelangan tangannya tanpa maksud apa-apa. Hanya memintanya menjawab pertanyaanku. “Apa kamu tidak sadar kalau aku juga mencintaimu?” tanya Youngmin Oppa dengan tatapan merasa bersalah padaku. Aku diam. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya memandangi wajahnya yang terlihat amat sangat mirip dengan Kwangmin Oppa, tapi aku tahu mereka berbeda. Sangat berbeda. “Maaf Oppa, aku tidak tahu.” Jawabku akhirnya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. “Tentu saja kamu tidak tahu. Kita jarang bertemu. Ya kan?” ujarnya santai.

“Ne.” jawabku. “Itu karena aku tidak mau melihatmu dengan Hyung. Sebisa mungkin aku menghindari kalian.” Youngmin Oppa kembali duduk di batu tadi sedangkan aku masih diam di tempatku, tidak bergerak semili pun. “Selama empat tahun?” tanyaku akhirnya. “Tidak. Baru dua tahun ini.” Jawabnya. “Maaf ya Oppa. Tapi aku benar-benar tidak menyadari hal itu. Aku—“ “Jagi!” sebuah suara mengejutkanku, juga Youngmin Oppa. “Mwo? kau disini, babo?” Kwangmin Oppa menepuk bahu adik kembarnya.

“Ne.” jawab Youngmin Oppa singkat. “Ayo pulang! Sudah malam. Nanti sakit. Disini dingin!” Kwangmin Oppa menarikku dan Youngmin Oppa agar mengikutinya pulang. Tanpa banyak bicara, kami berdua mengikuti Kwangmin Oppa pulang. Ternyata tamu-tamu sudah pulang. Kulihat Ahjuma sedang sibuk membuka kado-kadonya. “Ah, kalian pulang?” sapa Cho Ahjussi yang sedang duduk santai di ruang keluarga dengan anak tertua mereka dan tunangannya, Cho Kyuhyun Oppa dan Min Ra Eonni. “Ne.” jawab Kwangmin Oppa dengan napas tersengal karena selama perjalanan, dia menarik aku dan Youngmin Oppa pulang.

“Aaa~ Haera-ya, Min Ra-ya, bantu Eomma yuk membuka kado-kado ini!” ajak Cho Ahjuma. Ng? Eomma? Apa tidak salah dengar. Aku ragu-ragu mendekati Cho Ahjuma, tapi Min Ra Eonni menarikku dan segera menyuruhku duduk dan membantu Cho Ahjuma. Kami bertiga mulai membuka kado-kado itu. “Wah, ini darimu Haera-ya!” Cho Ahjuma membuatku kaget sekaligus takut beliau tidak menyukai kadoku. “AH! Indah sekali~~” Cho Ahjuma langsung melingkarkan syal bulu-bulu itu di lehernya. Min Ra Eonni tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya padaku. “Gomawo, Ahjuma.” Ujarku senang. “Anio. Aku yang berterima kasih, Haera-ya.” Cho Ahjuma mencium keningku, seperti mencium anaknya.

Akhirnya jam menunjukkan jarum-jarumnya di angka 10:15. Aku harus pulang. “Ah, terima kasih Haera-ya sudah datang. Min Ra-ya juga. Kamsahamnida.”Cho Ahjuma memeluk kami satu persatu. Lalu kami pulang dengan mobil Kyuhyun Oppa. Kwangmin Oppa ikut untuk menemaniku. Di mobil, aku memikirkan perasaanku yang sesungguhnya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang aku rasakan sebenarnya pada Kwangmin Oppa. Aku merasa nyaman, senang, aman, dan… selalu ingin di dekatnya. Tapi saat Youngmin Oppa bilang begitu padaku, rasanya aku ingin juga bersamanya. ‘Haera-ya! Kalau hanya karena Youngmin Oppa bilang begitu kau jadi suka, tandanya kau tidak benar-benar suka!!’ batinku.

Sampai sudah di rumahku. Kwangmin Oppa mengantarku sampai di depan pintu rumah. Dia bertanya padaku kenapa aku diam saja di mobil. Aku bingung harus jawab apa. Belakangan ini aku jadi bingung dengan pertanyaan dua orang ini (re: Kwangmin dan Youngmin Oppa). “Gwenchana. Mungkin hanya lelah. Oppa sebaiknya kembali ke mobil. Kyu Oppa dan Min Ra Eonni sudah menunggu. Sampai jumpa Oppa!” aku melambai padanya. Tiba-tiba dia menciumku.

Ciuman pertamaku. Antara aku dan Kwangmin Oppa. Setelah empat tahun berpacaran, baru kali ini dia menicumku. Aku memejamkan mataku, merasakan hangat bibirnya. Tangan kanannya memegang pipi kiriku, dan reflek aku memegang lengannya. Selama semenit kami berciuman. “Saranghaeyo Jagi. Sampai jumpa.” Kwangmin Oppa melambai padaku dan tersenyum. Aku balas melambai dan tersenyum juga. Aigo~ >///<

—————- to be continue ————–

Gimana readers? Hehehe… Maaf ya kalau ada salah2 typingnya. soalnya baru buat kemarin. hehehe :p

No Silent Readers Ok?? Hehe… Ditunggu komentar2nya :))

terima kasiiiih buanyaaaak yaaaaa

AKHIRNYA SAMPAI DI PART TERAKHIR ONE YEOJA, THREE NAMJA :D AH, SAYA SANGAT BERSYUKUR!!! :)) OH YA, JANGAN LUPA COMMENTS OKE? ^^ HAPPY READING, HAPPY READING, KEEP READING, KEEP COMMENT, KEEP POSTING (to authors)🙂

——————————————-

[Hee Yeon POV]

“Kyuhyun-ah, aku melihat seorang namja diingatanku.” Ujarku seminggu setelah aku dan Siwon bertemu. Akhir-akhir ini Kyuhyun sibuk dengan tugas kuliahnya. “Oh ya? Seperti apa orangnya?” tanya Kyuhyun. “Em… Sepertinya dia… Teman HyukJae. Sepertinya dia kenal kamu dan Siwon juga.” jawabku ragu-ragu. “Jincha? Em… Siapa ya?” Kyuhyun terlihat menerawang. Mengingat semua teman-teman SMA kami. “Tidak ada klu lain?” tanya Kyuhyun. “Tidak terlalu tinggi… Wajahnya lucu, seperti…. Anak kecil.” Jawabku. “He? Baiklah, akan kuingat-ingat.” Kyuhyun tersenyum manis padaku. Tiba-tiba kurasakan jantungku berdegup kencang. Apa ini? Apa rasa cintaku dan Kyuhyun kembali lagi? Bisa begitu ya? ._.

~~~~

“Yeoboseyo?” jawabku. “Hee Yeon-ah.” Suara wanita. Siapa dia? “Nuguseyo?” tanyaku. “Seohyun-ah. Ingat?” tanyanya. “Em… Sedikit. Kau sahabatku kan?” tanyaku. “Ne! Hee Yeon-ah, aku senang sekali bisa mendengar suaramu. Aku sekarang kuliah di Jepang.” Ujarnya. “Woah… Chukkhae!” ujarku senang. “Gomawo. Hee Yeon-ah, kalau aku kembali ke Seoul, aku akan mengunjungimu. Tenang saja! Aku sangat rindu padamu.” Ujarnya. “Nado.” Jawabku. “Kalau begitu, sampai jumpa secepatnya ya.” Ujar Seohyun. “NE!” aku menutup teleponku.

~~~~~

[Author POV]

3 tahun kemudian…

“Chukkhae!” Hee Yeon memeluk Kyuhyun yang berhasil lulus kuliah dengan nilai sangat memuaskan. “Gomawo!” Kyuhyun membalas pelukan Hee Yeon dengan sangat bahagia. “Kyu, chukkhae!” Cho Ahjuma memeluk putra satu-satunya dengan terharu, diikuti dengan pelukan Cho Ahjussi. “Kyu-ah, nanti ajarkan aku pelajaran kuliahmu ya?” pinta Hee Yeon. “Ah, tenang saja. Apapun kulakukan untukmu!” Kyuhyun mencubit pipi chubi Hee Yeon. Cho Ahjussi dan Ahjuma hanya tertawa memandangi tingkah laku anak dan teman anaknya.

Setelah kegiatan wisuda Kyuhyun, akhirnya mereka pulang. Kebetulan Kyuhyun yang datang duluan, membawa mobilnya sendiri. “Appa, Eomma aku dan Hee Yeon mau keluar sebentar. Tidak apa-apa kan? Eomma dan Appa pulang duluan saja ya.” Ujar Kyuhyun. “Ne. Jangan lama-lama. Hati-hati ya.” Jawab Cho Ahjumma. “Ne.” Kyuhyun mengangguk. Hee Yeon hanya diam di tempatnya, bingung.

“Kyu-ah… Kita mau kemana?” tanya Hee Yeon begitu mobil Kyuhyun sudah melaju. “Lihat saja nanti.” Hee Yeon semakin penasaran. Jantungnya kembali berdegup kencang. Hee Yeon memalingkan wajahnya keluar jendela. Tiba-tiba matanya tertuju pada seseorang. “Kyu-ah! Itu orangnya!” Hee Yeon menunjuk seseorang yang sedang berjalan dengan seorang wanita di tepi jalan. Mereka terlihat bahagia. “Mana?” tanya Kyuhyun begitu menepi. “Itu!” Hee Yeon terus menunjuk. Tapi tiba-tiba pasangan itu hilang di kerumunan.

~~~~~

“Sudah jangan menangis lagi ya. Nanti pasti akan ingat.” Ujar Kyuhyun sambil mengelus punggungku. Aku masih menangis di dadanya, di pelukannya. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya agar ingatanku sepenuhnya kembali. Aku hanya memiliki ingatanku sebesar 85%. Kyuhyun bilang itu sudah bagus, tapi aku tidak senang. Aku ingin memiliki 15% ingatanku lagi!

“Tapi… aku mau ingat semua. Semuanya…” isakku. “Jangan dipaksakan… Aku tahu kamu sedih. Tapi aku disini. Aku akan terus disini…. Aku bantuin kamu.” Kyuhyun mengusap air mata yang mengalir deras di pipiku. “Gomawo, Kyu…” aku memeluknya lagi. “Ne.” “Kyu… Kenapa aku suka sekali aroma tubuhmu ya?” tanyaku tapi Kyuhyun tidak menjawab. Kudengar tawa kecil darinya. “Hee Yeon-ah…” “Ne?” “Saranghae.” Aku diam, tidak bergerak dari pelukannya.

Setelah beberapa detik, aku melepaskan pelukanku. Aku memandangi wajah tampannya. Wajah yang sangat kukenal. Wajah namja super pintar di sekolah, yang pernah menciumku dulu. Yang mengambil ciuman pertamaku. Wajah yang selalu datang setiap malam ke ball room-ku. CHU~ Kyuhyun mencium bibirku. Awalnya aku terkejut, tapi setelah beberapa detik, aku menikmatinya. Di taman itu, sepi sekali. Hanya ada aku dan Kyuhyun. Kami duduk di salah satu bangku panjang di sana. Dan di sana juga, kisah cintaku dan Kyuhyun dimulai. Walaupun aku tidak ingat apa-apa… Tapi aku yakin, Kyuhyun akan terus membantuku. Aku yakin….

~~~~~

“Oppa, mau bantu aku temukan orang itu?” tanyaku. “Oh ya. Mungkin orang itu ada di buku tahunan?” tanya Kyuhyun. “Sepertinya…” gumamku. Kyuhyun beranjak dari kasurku dan kembali ke kamarnya sesaat lalu kembali lagi membawa buku tahunan sekolah. Aku mencari orang yang ada di ingatanku dan mataku tertuju pada orang itu. Lee Donghae. “Oppa, apa aku kenal orang ini?” tanyaku sambil menunjuk foto Lee Donghae. “Oh tentu saja. Dia itu sahabat baik HyukJae. Dia juga yang membantu HyukJae dekat denganmu.” Jawab Kyuhyun seraya merangkulku.

“Oh begitu ya. Kenapa aku tidak ingat sama sekali ya?” tanyaku. “Jagiya, jangan sering berkata begitu. Pasti akan ingat. Ingatanmu akan kembali. Aku yakin.” Jawab Kyuhyun, menarikku hingga bersandar di dadanya. “Oh ya Oppa… Apa aku pernah membencimu?” tanyaku, usil. “Mmmm….” “Ayo lah jawab saja…” rengekku. “Pernah. Sebelum kecelakaan itu.” jawab Kyuhyun. “Jincha?! Apa yang akukatakan padamu??” tanyaku, sedikit penasaran. “Kau bilang… Aku harus berhenti mencintaimu. Tapi lihat? Walaupun kamu koma 2 tahun, aku tetap di sini kan?” goda Kyuhyun sambil mencolek hidung mancungku.

“Aish… Ne Oppa! Saranghae.” Aku memeluk Kyuhyun. “Nado. Aku akan menjagamu dengan baik, Jagiya. Aku akan menghiburmu. Aku akan menjadi namja super hebat untukmu.” Ujar Kyuhyun. “I believe, Oppa.” aku tersenyum di pelukannya. “Walaupun tidak sekekar Siwon-ssi, tidak selalu tertawa seperti HyukJae-ssi, tapi entah kenapa… aku hanya suka padamu.” Ujarku, polos. “Jincha? Wah, senang sekali aku…” Kyuhyun tertawa-tawa sendiri. “Padahal dulu kau seperti orang gila karena cinta pada tiga namja sekaligus!!” goda Kyuhyun. “Mwo? Geureyo? Ashhh~ Ternyata diary itu benar ya?” gumamku. “Hahahaha… Sudahlah jangan dipikirkan terlalu kuat.” Kyuhyun melepaskan pelukan kami, dan tersenyum menatapku dalam.

“Oppa… Kenapa menungguku? Dua tahun… itu sangat lama. Tiga tahun… kau tidak menyatakan perasaanmu. Bagaimana bisa tahan?” tanyaku. “Karena aku yakin, ada waktu yang tepat. Dan aku sudah temukan kapan. Ya kan?” jawab Kyuhyun. “Oke. Apa pun jawabanmu, aku senang.” Aku tersenyum. “Oppa, apa yang sering Lee Donghae lakukan di sekolah padaku?” tanyaku. “Em… Tidak ada. Dia hanya diam, tertawa, dan sesekali menjahilimu.” Jawab Kyuhyun sambil mengingat-ingat. “Hmm… Kalau begitu tidak berperan. Baiklah biar saja 15% ingatanku tidak kembali. Siapa tahu kalau mereka semua kembali, aku jadi benci lagi padamu? Aku tidak mau!!” tukasku mantap. “Geure?” goda Kyuhyun. Aku membuat ‘V’ sign. CUP~ dia mencium bibirku cepat.

“Oppa! Jangan sering menciumku tanpa ijin begitu!” ujarku, pura-pura ngambek. “Makanya, jangan goda aku dengan bibirmu itu!!” balas Kyuhyun. Aku diam saja, tapi sebenarnya aku senang dia melakukan itu padaku. “Kau sudah berapa kali begitu padaku?!” tanyaku. “Mmmm…. Empat kali. Wae? mau lagi?” godanya. “ANDWEEE!!!!” teriakku sambil memukul kepalanya. “Ahh!!” dia mengaduh. “Jangan macam-macam ya KAMU!” tukasku lalu tertawa.

Aku biarkan 15% ingatanku pergi bersama dengan dua perasaan cintaku dengan dua namja itu. walaupun awalnya menjadi 1 Yeoja dengan 3 Namja, sekarang aku sudah memilih kan? 1 Namja untuk 1 Yeoja, begitu juga sebaliknya. Toh sepertinya dua sahabatku itu ikhlas kan? Hehehe… Kalau aku harus lupa ingatan agar bisa bersama orang yang aku cinta, sepertinya aku rela. Apa kamu rela juga? Hehehehe….

——————– THE END ———————

wah, akhirnya selesai juga!!! saya benar-benar berterima kasih sama kalian yang udah setia membaca… walaupun mungkin FF ini tidak menarik karena ya saya masih pemula. sangat pemula. saya belum ada pengalaman untuk bikin FF yang SUPER MENARIK ._. tapi tenang, saya akan terus berkarya😉 saya akan menciptakan sebuah maha karya yang super hebat (?) hahahaha😀 dan bener-bener berharap, pengen banget gitu ya…. casts nya baca ff aku u,u wkwkwkw ;P

oke deh… terima kasih sekali lagi ya…. untuk kalian semua yang rajin membaca FF pertama saya…. yang rajin comment (walaupun baru dikit comments nya)… hehehehe :)) terima kasih… sampai jumpa di FF selanjut-nyaaa :)))

ANNYEONG🙂 AKHIRNYA, HANYA TINGGAL SELANGKAH MENUJU AKHIR CERITA ONE YEOJA THREE NAMJA 🙂 apa kalian terus baca setiap part nya? saya harap begitu ^^ oh ya, baca part ini juga ya, biar tahu akhirnya🙂 walaupun FF ini gaje, saya harap kalian senang dengan ke-tidak-jelas-an FF ini ._. hehehehe

——————————-

#CHAPTER 10

Hee Yeon mulai bisa mengingat 65% memorinya yang hilang selama ia koma dua tahun. Dan ini sudah bulan ke 10-nya sejak ia keluar dari rumah sakit. “Kyuhyun-ah, aku ingin ke kampusmu. Boleh?” tanya Hee Yeon di telepon. “Andwe. Sebentar lagi aku pulang. Kau tunggu saja di rumah. Memang kenapa?” tanya Kyuhyun sambil menyalakan mobilnya. “Begitu ya? Padahal aku ingin sekali melihat kampusmu. Apa bagus?” tanya Hee Yeon. “Tentu saja. Kapan-kapan akan kuajak kamu ke kampusmu.” Kyuhyun tersenyum kecil menjawab pertanyaan Hee Yeon yang seperti anak-anak.

“Baiklah. Kyuhyun-ah, kapan aku akan bertemu dua temanku yang lain itu? Aku ingin tahu wajah mereka.” Ujar Hee Yeon tiba-tiba. Kyuhyun mendesah pelan, sembari berharap Hee Yeon tidak mendengar desahannya. “Akan aku usahakan secepatnya. Ok? Aku akan segera pulang. Kau mau kubelikan makan malam?” tanya Kyuhyun. “Ne. Belikan aku jajangmyun ya.” Jawab Hee Yeon. “Baiklah. Sudah dulu ya. Sampai jumpa nanti malam.” Kyuhyun menyudahi teleponnya. Segera dipacunya mobil miliknya menuju restaurant tempat jajangmyun terenak dijual.

~~~~~

“Enak sekali Kyu. Dimana kau beli? Ajak aku kesana ya!” Hee Yeon melahap jajangmyunnya di ruang makan. Kyuhyun hanya tersenyum melihat tingkah Hee Yeon. “Dimana Appa dan Eomma-mu, Hee Yeon-ah?” tanya Kyuhyun sambil menyapu pandangannya. “Sedang pergi. Katanya mau ke rumah Shin Dong Oppa.” jawab Hee Yeon. “Lalu kau sendiri?” tanya Kyuhyun. Hee Yeon hanya mengangguk. “Tadinya Eomma tidak mau ikut, khawatir aku kenapa-kenapa. Tapi aku bilang saja, kamu akan segera datang. Jadi Eomma ikut Appa.” Jawab Hee Yeon.

“Begitu ya? Kalau aku tidak datang bagaimana?” tanya Kyuhyun. “Aku akan tetap bilang begitu. Aku tidak mau Eomma dan Appa mencemaskanku berlarut-larut. Lagi pula, orang tuamu juga ada di rumah kan? Aku bisa ke rumahmu kapan saja.” Jawab Hee Yeon sambil tersenyum simpul. Senyum yang selama ini dirindukan Kyuhyun. Senyum yang sudah lama tidak dilihatnya.

“Hee Yeon-ah…” Kyuhyun memandang yeoja itu dalam-dalam. Membuat jantung Hee Yeon berdegup kencang. “N-ne?” sahut Hee Yeon sambil menyingkirkan mangkuk jajangmyun di hadapannya. “Kita ke ball room-mu yuk?” ajak Kyuhyun. “Wae?” tanya Hee Yeon, bingung. “Disana banyak kenangan kita. Kita berdua. Hanya kita berdua. Nanti kalau kita sudah bertemu dengan HyukJae-ssi dan Siwon-ssi, aku akan meminta mereka mengajakmu ke tempat yang banyak kenangannya. Bagaimana? Mungkin bisa membantumu.” Jawab Kyuhyun. “Arasseo. Kaja!” Hee Yeon menarik tangan Kyuhyun bersemangat.

Mereka kini sudah duduk di kursi di ball room Hee Yeon. Mereka diam, hanya memandang ke sekeliling. “Memang tampak tidak asing. Tapi tidak ada yang kuingat. Apa yang membuatku lupa ingatan pun, aku tidak ingat.” Ujar Hee Yeon memecah keheningan. “Jangan dipaksakan. Nanti juga ingat kok.” Kyuhyun mengusap kepala Hee Yeon dengan lembut. Hee Yeon sangat menikmatinya. Ditangkapnya tangan namja itu dan dia meletakkan tangan Kyuhyun di pipinya.

“Kau sentuh pipiku saja ya…. Jangan pegang kepalaku lagi.” Ujar Hee Yeon. “Waeyo? Apa sakit? Maaf ya.” Kyuhyun terlihat panik. Hee Yeon menggeleng pelan. “Aku merasa lebih baik kalau kau sentuh pipiku. Tanganmu… hangat.” Ujar Hee Yeon. Selama mereka berdua, Hee Yeon tidak pernah seperti ini. Kyuhyun senang dengan Hee Yeon yang sekarang karena ia bisa bersama dengannya lama-lama, tanpa yeoja itu berusaha menghindar. Bahkan Kyuhyun sedikit bersyukur, karena yeoja ini tidak ingat pernah memintanya berhenti mencintainya.

Sudah pukul 12 malam sekarang. Kyuhyun menolehkan kepalanya dan melihat Hee Yeon sudah tidur. Sedari tadi, Hee Yeon bersandar di dada Kyuhyun sambil tertidur. Diangkatnya Hee Yeon perlahan dan di bawanya ke kamar yeoja itu. Direbahkannya tubuh kelelahan itu di kasurnya yang empuk. “Sleep well, Hee Yeon. I hope you can’t remember the last words that you ever said to me.” Ujar Kyuhyun sembari menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik Hee Yeon.

Kyuhyun melangkah ke ball room Hee Yeon. Tapi tidak lama kemudian, dirasakannya tangan seseorang melingkar di perutnya. Tubuh Kyuhyun sempat menegang, tapi ketika dilihatnya itu tangan Hee Yeon, ia merefleksikan tubuhnya. “Kenapa terbangun?” tanya Kyuhyun. Hee Yeon menempelkan pipinya di punggung tegap Kyuhyun. “Apa aku pernah mencintaimu Kyuhyun-ah?” tanya Hee Yeon. Kyuhyun hanya diam. Ia tidak mau terdengar terlalu PD di depan Hee Yeon. “Mungkin. Memang kenapa?” tanya Kyuhyun. “Anio. Aku hanya merasa nyaman kalau dekat denganmu. Kau itu… namja yang pintar ya?” tanya Hee Yeon.

“Eh?” Kyuhyun membalikkan badannya hingga kini mereka berhadapan. “Aku melihat di buku SMA-ku. Sepertinya kita lumayan dekat ya? Apa saja yang pernah kau lakukan untukku?” tanya Hee Yeon. “Kita pernah belajar bersama. Saat itu aku memintamu ikut olimpiade matematika.” Jawab Kyuhyun. “Jongmal? Waa!! Apa aku menang?” tanya Hee Yeon senang. “Lihat itu. Itu medali dan piala yang kau dapat.” Kyuhyun menunjuk sebuah piala dan medali yang tergantung dan tersimpan rapi di kamar Hee Yeon. “Ah arasseo. Kyuhyun-ah… Aku juga baca diary-ku beberapa hari lalu. Apa segitu cintanya aku pada kalian bertiga ya?” tanya Hee Yeon. “Mwo?” Kyuhyun terlihat bingung. Lebih tepatnya, pura-pura bingung.

“Ne. Aku menulis aku cinta kamu, Lee HyukJae. Tapi aku juga cinta kamu, Cho Kyuhyun. Dan tiba-tiba aku cinta Choi Siwon. Aku benar-benar penasaran dengan dua orang itu. Apa kau sudah hubungi…” BUZZ!! HP Hee Yeon bergetar sekali.

To: Hee Yeon

Hee Yeon-ah, apa kabar? Ingin segera berkunjung ke rumahmu – HyukJae

“Kyuhyun-ah, HyukJae mengirimiku sebuah pesan. Dia bilang ingin segera ke rumahku. Tapi ini kan sudah jam 12 lewat.” Ujar Hee Yeon. “Kalau begitu, mungkin besok. Sebaiknya tidur sekarang.” Ujar Kyuhyun. “Tapi aku ingin lebih banyak mengenang lagi.” Tolak Hee Yeon. “Besok saja.” Kyuhyun mendorong tubuh Hee Yeon masuk ke kamar. Tapi tangan yeoja itu tidak lepas dari tangannya.

“Temani aku sampai Appa dan Eomma pulang, ya.” Pinta Hee Yeon, manja. “Kenapa kau jadi manja begini Hee Yeon?” tanya Kyuhyun sambil mengikuti langkah Hee Yeon. “Molla.” Hee Yeon naik ke tempat tidurnya sedangkan Kyuhyun menghempaskan tubuhnya di sofa kecil di kamar Hee Yeon. “Ini!” Hee Yeon melemparkan bantal dan selimutnya pada Kyuhyun. “Mwo? Kau yang pakai selimut.” Kyuhyun menghampiri Hee Yeon dan menyelimuti yeoja itu. “Andwe. Kau kan menemaniku. Jadi kau yang pakai. Lagi pula tidak dingin kok.” Tolak Hee Yeon. “Kalau begitu, aku lebih kebal darimu.” Kyuhyun menekan selimut itu. Hee Yeon hanya cemberut.

~~~~~~

Pagi menjemput. Kyuhyun masih tertidur di sofa Hee Yeon ketika yeoja itu membuka matanya. Hee Yeon sperti sering melakukan ini, ia berjalan ke ball room-nya dan menarik napas disana. Menghirup udara pagi.

“Ada sesuatu di kepalamu.”

“Ha!? Mana?!” “Aah-aah-aah!!”

“Kau diam dulu.” CHU~~

Hee Yeon merasa tubuhnya tidak seimbang dan sebuah (halah) tangan menahan tubuhnya. “Gwenchanayo?” tanya Kyuhyun. “Ne…” napas Hee Yeon tersengal-sengal. Kyuhyun mengajak Hee Yeon duduk. “Waeyo? Ingat sesuatu?” tanya Kyuhyun. “Ne.” Hee Yeon mengangguk kaku. “Ingat apa?” tanya Kyuhyun, penasaran. “Saat kau menciumku.” Jawab Hee Yeon tanpa ragu. Kyuhyun terdiam. “Kau bohong ya saat itu padaku?” tanya Hee Yeon. “He?” Kyuhyun lagi-lagi pura-pura bingung. “Iya. Apa benar saat itu ada ‘sesuatu di kepalaku’?” tanya Hee Yeon, penasaran.

Kyuhyun merasakan wajahnya memerah. “Ya kan? Jujur saja… aku tidak marah kok. Lagi pula kau sudah mengambilnya dariku.” Ujar Hee Yeon, setengah memaksa. “Memang iya. Tapi perlu kau tahu…. Bibirmu itu terlalu menggodaku. Jadi begitu…” Kyuhyun mengusap kepalanya sendiri. Hee Yeon hanya mengangguk-angguk. “Ok… Gwenchana.” Hee Yeon tersenyum simpul lagi. Yang kesekian kalinya, sejak Hee Yeon siuman.

~~~~~

“Hee Yeon-ah, bagaimana kabarmu?” tanya HyukJae siang itu di sebuah kedai makan tempat HyukJae dan Hee Yeon janjian bertemu. “Baik.” Jawab Hee Yeon singkat. Dirinya merasa sedikit canggung dengan namja satu ini. “Aku dengar dari Kyuhyun…. kau….” HyukJae menggantungkan kata-katanya, enggan melanjutkan. “Ne. Maka itu, aku mau kita secepatnya bertemu. Bantu aku mengingat semuanya ya. Mau kan?” tanya Hee Yeon. “Tentu.” HyukJae tersenyum kecil. Apa pun akan kulakukan untuk membuatmu mengingatku, mengingat semuanya, Hee Yeon-ah.

Hee Yeon menyantap makan siangnya pelan-pelan, sambil berusaha mengingat kenangannya dengan HyukJae. “HyukJae-ah… Apa ada sahabat lain selain kau, Kyuhyun-ah, dan Siwon-ah yang perlu kuingat?” tanya Hee Yeon di sela-sela kegiatan makannya. “Em… Ada. Seohyun-ah dan Min-ah.” Jawabnya. “Siapa mereka? Aku mau bertemu.” Ujar Hee Yeon. “Sayang sekali. Seohyun-ah sekarang tinggal di Jepang, dan Min-ah sedang di Eropa.” Jawab HyukJae. Seketika wajah Hee Yeon berubah sedih. “Tenang saja. Nanti akan kuminta Siwon-ah membantumu keliling sekolah lama kita.” Ujar HyukJae sambil menepuk punggung tangan Hee Yeon dengan lembut.

~~~~~

“Kau… itukan gelangku.” Ujar Hee Yeon sembari menunjuk gelang perak yang digunakan Siwon di pergelangan tangannya. “Ne. Dulu, saat aku terkena pot karena menyelamatkanmu, kau memberiku ini. Sebagai ucapan terima kasih dan maaf.” Jawab Siwon sambil menunjukkan gelang itu. “Wah, ternyata… Aku pernah mencelakakanmu ya? Hahaha… Maaf ya.” Hee Yeon tersenyum kecil. “Gwenchana.” Siwon tersenyum padanya. Senyum yang sangat dikenal Hee Yeon. Senyum yang sangat disukainya. Senyum yang membuatnya bisa lumer kapan saja. Tapi semua rasa itu, sudah tidak dirasakan Hee Yeon lagi. Semua sudah berubah.

Setelah empat jam berkeliling sekolah, Hee Yeon mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Hanya sedikit kenangan tentang HyukJae yang setiap hari mengejarnya. Dan seorang namja yang cukup tampan saat itu, datang menghampirinya dengan HyukJae. Bukan Siwon dan bukan Kyuhyun. Siapa namja itu? Apa…. Dia juga berperan dalam ingatannya?

—————— to be continue, end part ————————

Terima kasih banyak ya yang udah setia baca, walaupun kalian silent readers tapi gak papa lah~ setidaknya ada yang baca. wkwkwkw… oke, siap-siap ke bagian akhir cerita ya😉

Annyeong, sebentar lagi kita akan mencapai part terakhir. jadi tetap baca ya🙂 jangan lupa… oke? oh ya, ditunggu commentnya ;)) terima kasih….. selamat membaca, titip komentar yaaa🙂

———–

Sudah enam bulan ini, Hee Yeon koma. Sedangkan Kyuhyun, HyukJae, dan Siwon sudah menyelesaikan SMA-nya dan mulai sibuk dengan kuliah mereka. Tapi sesibuk apa pun mereka, mereka bertiga tetap menyempatkan berkunjung ke rumah sakit. Berharap ketika mereka datang, Hee Yeon akan membuka matanya. Berharap ketika yeoja itu membuka matanya, salah satu dari mereka bertigalah yang pertama dilihatnya. Tapi selama enam bulan itu, Hee Yeon tidak juga membuka matanya.

“Hee Yeon-ah… Hari ini aku datang lagi. Aku berhasil lulus dengan nilai memuaskan dan aku sudah memutuskan untuk kuliah di Kyunghee University. Aku berharap kau cepat memuka matamu, jadi kita bisa kuliah bersama…” ujar Kyuhyun di sela-sela mengamati wajah damai Hee Yeon. Kepala yeoja itu tidak lagi di perban, tapi luka di kepalanya masih membekas di sana.

KLIK! Kyuhyun menoleh. Dilihatnya Siwon berdiri di depan pintu, enggan menghampiri Kyuhyun dan Hee Yeon. Kyuhyun hanya memberi senyum kecil pada Siwon. “Annyeong.” Sapa Siwon. “Annyeong.” Balas Kyuhyun. “Siwon-ssi… Aku permisi dulu ya. Jaga Hee Yeon dengan baik, ok?” ujar Kyuhyun lalu pergi. Siwon hanya mengangguk.

“Hee Yeon-ah… Kau lihat ini tidak? Aku masih memakai gelang pemberianmu waktu itu. Dan kau percaya tidak? Aku tidak pernah melepaskan gelang ini sekali pun. Saat mandi pun aku tetap memakainya, dan sampai kapanpun akan tetap kupakai. Walaupun tidak banyak kenangan yang kita buat, tapi aku rindu melihatmu di sekolah. Aku rindu saat kau memintaku untuk tidak menjadi orang yang dingin lagi dan harus lebih banyak tersenyum. Aku melakukannya, Hee Yeon. Hanya untukmu. Jadi…. Maukah kamu membuka mata itu untukku? sekali saja.” Ujar Siwon sambil mengelus punggung tangan Hee Yeon yang sama sekali tidak merespon.

“Hee Yeon-ah… Aku benar-benar menyesal tidak sempat mengucapkan ini padamu, padahal aku ingin sekali kau mendengarnya. Hee Yeon-ah, saranghaeyo…” Siwon mengecup kening yeoja yang masih tetap tidak bergeming itu lama sekali. Tiba-tiba air mata Siwon mengalir dan jatuh di pipi yeoja itu. “Maaf Hee Yeon-ah, aku tidak sengaja.” Siwon menghapus air mata di pipi Hee Yeon. Tapi tidak lama kemudian, Hee Yeon mengeluarkan air matanya. Perlahan tapi air mata itu terus mengalir.

“Hee Yeon-ah…. Kau bisa mendengarku?? Tolong buka matamu… Tolong jangan tinggalkan aku seperti Hyo Jin-ah meninggalkanmu. Sudah cukup aku kehilangannya…” Siwon menggenggam tangan Hee Yeon erat. Jemari Hee Yeon bergerak. Siwon benar-benar senang melihatnya. Tapi setelah lama menunggu, yeoja itu tak juga membuka matanya. “Tolong…. Buka matamu, Hee Yeon. Aku tidak akan memaksamu mencintaiku….” Siwon mengusap pelan pipi Hee Yeon.

Setelah lama di sana, akhirnya Siwon memutuskan pulang. Sangat berat langkah Siwon meninggalkan yeoja itu, tapi setiap malam Shin Ahjuma atau Shin Dong atau bahkan Shin Ahjussi datang untuk menjaganya. “Open your eyes, as soon as possible. I miss you so damn much….” Siwon mengecup pipi Hee Yeon dan melangkah pergi.

Tepat ketika Siwon membuka pintu, muncul HyukJae di hadapannya. “Jaga Hee Yeon sampai keluarganya datang ya.” Ujar Siwon sambil lalu. HyukJae masuk secepatnya dan berjalan menghampiri Hee Yeon yang terbaring. Ini namja ketiga yang mengunjunginya. Hee Yeon boleh saja koma, tapi ia dapat merasakan kehadiran tiga orang yang dicintainya ini setiap hari. Ingin rasanya Hee Yeon membuka matanya sekarang dan bilang, aku tidak apa-apa. Aku ingat kalian. Aku sayang kalian. Aku minta maaf karena membuat kalian terlalu khawatir padaku. Tapi semua itu tidak dapat dilakukannya, karena saat ini rohnya sedang berada di suatu tempat.

“How are you, Hee Yeon? Feeling better than yesterday? I hope so. Hee Yeon-ah, please open your eyes. I really miss you… I miss your smile, your voice, and of course when you asked me to never chase you anymore. I miss everything about you…” HyukJae mengusap pelan kepala Hee Yeon. HyukJae-ssi… maafkan aku… aku tidak bermaksud membuatmu, membuat Kyuhyun-ssi dan tentunya Siwon-ssi khawatir padaku. Aku juga tidak bermaksud membuat Appa, Eomma, dan Oppa sedih memikirkan aku. Aku baik-baik saja, HyukJae-ssi. Aku berjanji, ketika aku membuka mataku nanti, aku akan selalu berada di sisi kalian bertiga. Selamanya. Aku akan menjadi orang yang lebih baik. Tolong maafkan aku…. Batin Hee Yeon dalam hati. Lagi-lagi air mata yeoja itu mengalir.

“Kau menangis ya? Kau bisa mendengarku berarti? Apa kau juga bisa mendengar Kyuhyun dan Siwon?” tanya HyukJae-ssi, tak terasa air matanya ikut mengalir. “Hee Yeon-ah…. Aku benar-benar mencintaimu. Maukah kau membuka matamu? Biarkan aku melihat mata indahmu itu. Sekali saja…” ujar HyukJae penuh harap. Yeoja itu tidak bergeming.

~~~~~

Dua tahun kemudian…

“Yeon-ah, bagaimana keadaanmu?” tanya Shin Dong pada adiknya yang masih terbaring di rumah sakit. “Yeon-ah, aku dan Nari Eonni sudah menikah. Kapan kau akan menyusul kami? Kau tahu? Oppa-mu ini sedih karena kau tidak bisa datang! Maka cepatlah buka matamu, dan nanti kita berfoto bersama. Berlima. Kau, Oppa, Nari, Eomma, dan Appa. Ok? Buka matamu, dongsaengku sayang….” Shin Dong mengecup kening Hee Yeon.

Besok adalah hari ulang tahun Hee Yeon yang ke 19, dan ketiga namja yang dicintainya selalu datang selama dua tahun itu. Meskipun HyukJae dan Siwon tidak terlalu sering datang karena kesibukan mereka, tapi setiap harinya Kyuhyun selalu datang untuk menemani Hee Yeon. Dan hari ini, Kyuhyun datang lagi.

“Annyeong Hyung.” Sapa Kyuhyun ketika melihat Shin Dong yang sedang duduk di sofa. “Ah, kau datang lagi ya. Hehehe… apa tidak bosan? Bagaimana kuliahmu?” tanya Shin Dong, ramah. “Iya. Aku selalu berharap Hee Yeon membuka matanya. Kuliahku lancar-lancar saja.” Jawab Kyuhyun sambil mengelus rambut panjang Hee Yeon dan duduk di tepi kasurnya, menghadap ke arah Shin Dong. “Kau masih mencintai adikku ya?” tanya Shin Dong. Kyuhyun mengagguk penuh semangat.

“Apa kau tidak lelahh menunggunya terbangun dari koma?” tanya Shin Dong. “Tidak akan, Hyung. Sampai kapanpun, akan kutunggu dia.” Ujar Kyuhyun mantap. “Kalau begitu dia sadar, dia tidak mengenalimu bagaimana? Koma selama dua tahun itu, bisa membuatnya kehilangan banyak memori.” Ujar Shin Dong, mengambil perkiraan terburuk. “Aku tidak peduli, Hyung. Aku akan membantunya mengingat semua yang dilupakannya. Akan kubantu dia mengingatmu, Shin Ahjussi, Shin Ahjuma, Siwon-ah, dan HyukJae-ah. Juga Seohyun-ah dan Min-ah. Kalau perlu…. Musuh terbesarnya, Taeyeon-ah.” Ujar Kyuhyun lebih mantap.

“Kau namja yang baik ya. Aku senang kalau Hee Yeon bisa bersamamu. Tapi kulihat, dua temanmu juga mencintai adikku. Apa kalian bersaing?” tanya Shin Dong, usil. “Sepertinya begitu Hyung. Aku tidak peduli siapa yang akan dipilih Hee Yeon, tapi aku akan senang kalau dia bahagia.” Jawab Kyuhyun sembari menoleh ke arah Hee Yeon. “Begitu ya..” Shin Dong berdiri dan menghampiri adiknya. “Hee Yeon-ah, sadarlah! Namja ini menunggumu terus! Kalau dia jadi perjaka tua, Oppa akan menyalahkanmu!!” ujar Shin Dong, bercanda pada adiknya yang tetap diam seribu bahasa. “Hahaha… Hyung bisa saja.” Kyuhyun tertawa kecil melihat tingkah Shin Dong pada adiknya.

“Oh ya. Hyung pulang sebentar ya mau jemput Eomma dan Appa. Kau bisa menjaga adikku kan?” tanya Shin Dong. “Ah, ne Hyung. Tenang saja.” Kyuhyun tersenyum simpul. “Baiklah. Awas kau macam-macam dengannya!” ujar Shin Dong sambil menepuk-nepuk bahu Kyuhyun yang hanya senyum-senyum. Setelah memastikan Shin Dong keluar, Kyuhyun memutar badannya hingga kini dia berhadapan dengan Hee Yeon yang tetap damai dalam istirahatnya yang sudah 2 tahun ini.

“Hee Yeon-ah, kapan kau akan membuka matamu itu? aku benar-benar rindu… Tapi…. Sampai kapan pun kau koma, aku akan selalu menunggumu. Aku tidak akan membuka hatiku ini selain untukmu, sebelum kau membalas cintaku. Setidaknya, aku tahu bagaimana isi hatimu. Ya kan?” “Oh ya, Hee Yeon. Semalam aku memimpikanmu. Kau bilang dalam mimpiku, kalau kau baik-baik saja. Kau bilang, aku tidak perlu mengkhawatirkanmu. Apa itu benar? Tapi melihatmu tidak membuka matamu saat ini, aku tidak yakin kau baik-baik saja. Maukah kau datang ke mimpiku setiap malam? Dan terus bilang padaku, bahwa kau tidak apa-apa? Tapi kau harus buktikan. Kalau kau benar-benar tidak apa-apa. Kau harus membuka matamu.” Kyuhyun mencolek hidung mancung Hee Yeon. “Ingat itu ya Hee Yeon! Ashhh… rasanya, ingin sekali aku memanggilmu Jagi….” Kyuhyun memandang wajah itu lama, dalam, dan…

Perlahan didekatkannya bibirnya dengan bibir Hee Yeon. Gadis koma itu hanya diam, tidak membalas. Kyuhyun melepaskan ciuman itu, perlahan. “Hee Yeon-ah… maafkan aku ya. Aku tidak bermaksud menciummu begitu. Ini kali keduanya aku menciummu tanpa permisi. Pokoknya kalau kau sadar nanti, aku akan menciummu dengan permisi. Aku janji.” Kini Kyuhyun merasa dirinya seperti orang gila. “Hee Yeon, jangan membuatku seperti orang gila lebih lama lagi ya. Cepatlah sadar, ingat aku… Cho Kyuhyun. Ok?” Kyuhyun mengusap rambut Hee Yeon lembut dan beranjak dari tepi kasur. Ia berdiri di pinggir jendela, menatap keluar. Memandang awan yang saat ini sedang cerah, tapi tidak seperti hatinya dan harinya yang selalu mendung.

“Nu—nuguseyo?” sebuah suara serak mengejutkan Kyuhyun hingga membuat namja itu segera berbalik. Dilihatnya yeoja yang baru beberapa menit lalu memejamkan matanya, kini sudah membuka matanya. “Apa kau tidak mengenaliku, Hee Yeon-ah?” tanya Kyuhyun seraya mendekat. Yeoja itu terdiam lama sekali. Seperti berusaha mengingat sesuatu. “Akkh…” yeoja itu meringis kecil. “Waeyo? Mana yang sakit?” tanya Kyuhyun seraya mendekatkan wajahnya pada yeoja itu. Hee Yeon hanya diam, tidak menolak.

Yeoja itu diam. Memandang wajah namja itu lekat-lekat. “Aku…. Tidak bisa mengingat namamu.” Ujar Hee Yeon pelan. Kyuhyun terdiam, Hee Yeon terlihat sedih. “Gwenchana. Aku akan membantumu kalau kamu sudah sehat nanti. Bagaimana?” tanya Kyuhyun sambil tersenyum. Saat ini perasaannya senang, tapi juga sedih. Yeoja yang paling dicintainya, kini tidak bisa mengingat namanya.

Sudah sejam ini, Hee Yeon tersadar. Dokter juga sudah memeriksa keadaanya. “Perkembangan yang sangat pesat. Padahal, tadinya saya sudah pesimis dia tidak bisa diselamatkan. Oh ya, kalau ada apa-apa, tekan bell saja ok?” ujar dokter bernama Kim Jongwoon itu ramah sembari melihat ke arah Hee Yeon yang masih diam di kasurnya. Hee Yeon masih belum bertenaga untuk bangkit. “Kamsahamnida.” Kyuhyun membungkuk sambil terus tersenyum, walaupun hatinya sedikit sakit.

Setelah dokter pergi, Kyuhyun kembali berjalan menghampiri Hee Yeon. Wajah yeoja manis itu kini terlihat bingung. Seperti tidak tahu apa-apa. “Joneun… Cho Kyuhyun imnida.” Ujar Kyuhyun sambil tersenyum. Hee Yeon hanya diam, tidak bergeming. “Kyuhyun.” lanjutnya menyebutkan nama panggilan. “Arasseo.” Jawab Hee Yeon datar. “Apa Hee Yeon-ah ingat dengan Shin Dong Oppa?” tanya Kyuhyun lembut. Dia hanya diam. “Dia adalah Oppa-mu. Sekarang dia sudah menikah dengan Nari Noona.” Ujar Kyuhyun. “Begitu ya… Kalau…. Appa dan Eomma? Apa…. Mereka ada?” tanya Hee Yeon.

“Ne. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Apa kepalamu terasa sakit?” tanya Kyuhyun. “Anio… Apa Kyuhyun-ssi selalu datang ke sini?” tanya Hee Yeon. “Ne. Siwon-ah dan HyukJae-ah juga. Tapi akhir-akhir ini mereka sibuk dengan kuliah mereka. Siwon-ssi sekarang juga sudah mulai meneruskan usaha keluarga mereka, sedangkan HyukJae-ssi sibuk dengan latihan dance-nya. Nanti kalau kau sudah sehat, aku akan mengajakmu bertemu mereka.” Jawab Kyuhyun. “Gomawo…” ujar Hee Yeon.

————- to be continue —————

SEBENTAR LAGI…. SELESAI🙂 tetap baca yaaa🙂 keep reading, keep comments, and no silent readers. thanks a lot :))

Annyeong, ini dia part 8 nya🙂 happy reading, dan jangan lupa comment nya yaaaaa🙂

—————–

[Hee Yeon POV]

“Siwon-ssi!” aku berlari mengejar Siwon-ssi. Dia berhenti dan membalikkan badannya sehingga saat ini kami saling berhadapan. Tinggiku hanya sepundaknya, membuatku semakin lelah menghadapnya. Jadi kuputuskan untuk mundur selangkah agar tidak terlalu mendongak. “Waeyo?” tanya namja itu dingin. Ah, apa memang seperti itu dia? Menyebalkan sekali!

“Emm…. Begini. Aku hanya berharap, kau tidak salah dengan perasaanmu itu. Tapi sebelum semua ini terlalu jauh, sebaiknya kita jaga jarak saja.” Ujarku, takut-takut. “Wae?” tanyanya, masih dingin tapi kudengar nada tak suka dari mulutnya. “Aku hanya tidak mau jadi yeoja gila. Arasseo?” jawabku. “Baiklah kalau itu yang kau mau.” Dia mengangguk pasrah. “Kamsahamnida, Siwon-ssi. Tolong jaga gelang berhargaku dengan baik ya. Dan… bisa kau tersenyum untuk terakhir kalinya padaku?” tanyaku enteng. “Untuk apa?” tanyanya, enteng. “Biar kukenang senyum itu. Kalau kau tersenyum, kau terlihat lebih tampan. Jadi sebaiknya, sering-seringlah tersenyum.” Ujarku.

Kulihat beberapa yeoja di sekelilingku memandangku dengan wajah ‘awas ya kumakan kau hidup-hidup sebentar lagi’. “Arasseo, Siwon-ssi?” tanyaku. “Ne.” jawabnya sambil tersenyum. Senyum yang sangat manis. Seketika itu juga, aku ingin menangis. Ingin sekali aku bilang padanya, “Siwon-ssi, jangan dengarkan perkataanku tadi. Aku hanya bercanda!” tapi itu tidak mungkin. Jadi setelah dia tersenyum begitu manis padaku, aku segera berbalik dan berlari sekencang-kencangnya. Menuju suatu tempat yang jarang dikunjungi siswa.

Atap sekolah. Di sini lah aku sekarang. Berdiri di tepi gedung sekolah. Kurasakan angin menerpa tubuhku. Kuhirup udara itu dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku.

“Apa aku egois?”

“Apa aku jahat?”

“Apa aku akan sanggup?”

“Apa aku…. Bisa kehilangan mereka semua?”

“Apa—“ “Akhh!” kurasakan seseorang memeluk tubuhku dari belakang. “Mianhae, Hee Yeon-ah!” kutolehkan kepalaku. “Taeyeon-ssi? Sedang apa disini?” tanyaku. “Mianhae…” ujarnya. Aku tidak mengerti yang dia katakan. “Kau kenapa?” tanyaku sambil balik badan. Kami berhadapan. Kulihat air mata di wajahnya. “Maafkan aku yang sebesar-besarnya, Hee Yeon-ssi. Maaf!” Taeyeon-ssi mendorongku hingga aku terjengkang jatuh. Jatuh ke bawah. Dari atap sekolah.

~~~~~

[Siwon POV]

“Aaaakkh!!!” BRUUUK!!!

Aku terkejut dengan makhluk yang jatuh secara tiba-tiba di hadapanku. Dan aku lebih terkejut lagi melihat siapa yang jatuh. “Hee Yeon-ssi!?!” aku langsung berjongkok di depannya. Darah mengalir dari hidung dan kepalanya. “Hee Yeon-ssi!!” aku mengguncang tubuhnya. Dia pingsan. Segera kuangkat tubuhnya.

“Kim Seonsaengnim!!” teriakku memanggil guru olah raga kami. “Mwo?! Siwon-ssi, cepat bawa ke rumah sakit!!” Kim Seonsaengnim langsung melemparkan kunci mobilnya padaku begitu melihat aku menggendong Hee Yeon yang sudah bersimbah darah.

Segera kupacu mobil itu ke rumah sakit. “Bertahanlah, Hee Yeon-ssi…” entah bagaimana caranya, tiba-tiba air mataku mengalir begitu saja. “Maaf Anda bisa tunggu di sini.” Seorang suster mencegahku masuk. Aku diminta duduk di ruang tunggu.

Tidak lama kemudian, kulihat HyukJae-ssi berlari. Apa yang namja itu lakukan?! “Siwon-ah!” dia berteriak memanggil namaku ketika dia melihatku. “Bagaimana keadaannya!?” tanya HyukJae-ssi. “Mana kutahu. Dia masih di dalam. Apa yang kau lakukan?” tanyaku. “Aku dengar dari Kim Seonsaengnim.” Jawabnya sambil tersengal-sengal.

Tidak lama kemudian, datanglah namja yang satu lagi. Kyuhyun-ssi. Aish~ apa lagi sih dia?! Kulihat perubahan raut wajah juga terjadi pada HyukJae-ssi yang sepertinya tidak suka dengan kehadiran namja satu ini. “Bagaimana keadaannya?!” tanya Kyuhyun-ssi. “Mana kami tahu!” jawab HyukJae-ssi dengan kesal.

Dan tidak lama kemudian, seorang suster keluar. “Kondisinya kritis. Sekarang dia masih belum sadar. Sebaiknya kalian berdoa untuk keselamatannya. Apa kalian sudah menghubungi keluarganya?” tanya suster itu. “Akan kuhubungi.” Ujar Kyuhyun-ssi seraya mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa tombol.

Dia pergi untuk bicara dengan keluarganya. “Dokter masih menjahit luka di kepalanya.” Lanjut suster itu lalu pergi. “Begitu ya…” aku benar-benar takut kehilangannya. Sama seperti aku takut kehilangan Hyo Jin. Seketika itu juga aku gemetar. “Kau kenapa Siwon-ah!?” tanya HyukJae-ssi. Aku menangis dan terus gemetar. Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. “Siwon-ah! Kau kenapa?!” tanya HyukJae-ssi.

“Hyo Jin….” Entah kata-kata itu keluar dari mana. “Hyo Jin?! Siapa dia?! Siwon-ah, kau kenapa?” tanya HyukJae-ssi. “Akkhh!!” aku menundukkan kepalaku sembari menyembunyikan wajahku. “Siwon-ah…” HyukJae-ssi merebut HP dari saku bajuku dan menghubungi seseorang. Sepertinya dia menghubungi adikku karena sekitar 15 menit kemudian, Minho datang.

“Hyung kau kenapa?” tanya adikku itu. Segera kupeluk dirinya yang terlihat khawatir. “Jangan ambil dia…” ujarku. “Hyung….” Dia mengelus punggungku. “Hyung sebaiknya kita pulang.” Ajak Minho. “Tidak! Di dalam Hyo Jin sedang kritis!!” ujarku. “Ha? Hyo Jin? YA! Kau bicara apa sih? Di dalam itu Hee Yeon-ah!!” seru HyukJae-ssi.

Aku bingung. Apa sih ini?! “Hyung ayo kita pulang! HyukJae Hyung, aku… titip Noona padamu ya.” Ujar Minho seraya menarik tanganku agar pergi dari rumah sakit. Aku tidak bisa menghentikan getar di tubuhku.

“Hyung mau sampai kapan terus begini? Tidak bisa kah Hyung relakan Hyo Jin Noona pergi?” tanya Minho di mobil. Aku masih menangis. *kebayang gak Siwon frustasi, nangis? T_____T* “Hyung, Hyo Jin Noona sudah tenang di sana. Jangan kau lakukan hal yang sama dengan Hee Yeon Noona.” Ujar Minho. “Dia…. Tidak akan meninggalkanku kan?” tanyaku pada Minho. “Tidak Hyung. Kau harus berdoa untuknya. Lakukan apa yang kau lakukan ketika hal yang sama terjadi pada Hyo Jin Noona.” Ujar Minho sambil menepuk bahuku.

~~~~~

[Kyuhyun POV]

“Yeoboseyo?” “Ah… Ahjuma. Ini… Cho Kyuhyun.” ujarku ragu. “Ah, ne. Waeyo? Bukankah ini masih jam sekolah?” tanya Shin Ahjuma. “Ne. Begini Ahjuma. Hee Yeon… dia di rumah sakit sekarang. Ada kecelakaan tadi di sekolah.” ujarku. “MWO?! OMO~ Ba-bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Shin Ahjuma. “Masih kritis. Ahjuma… Bisa datang ke sini sekarang?” tanyaku. “Ne. Kamsahamnida, Kyuhun-ssi.” “Ne, ne.” jawabku. Tidak lama, telepon ditutup.

Kulihat Siwon-ssi dibawa keluar oleh seseorang. Adiknya? Lalu aku pergi menghampiri HyukJae-ssi yang sedang duduk di ruang tunggu. “HyukJae-ssi, ada apa dengan Siwon-ssi? Siapa laki-laki satunya?” tanyaku. “Dia gemetar. Dan… menyebut-nyebut nama Hyo Jin. Laki-laki itu adiknya.” Jawab HyukJae-ssi dingin. Namja ini… kenapa?

“YA! Kau kenapa sih?” tanyaku akhirnya. Aku benar-benar kesal dengan sikap dinginnya. Aku tahu betul namja seperti apa dia ini. Dia bukan orang yang dingin. Sebenarnya dia orang yang periang karena aku selalu melihatnya bersikap begitu di sekolah. “Maksudmu apa?” tanya HyukJae-ssi. “YA! Aku bertanya padamu kenapa kau balik bertanya?” tanyaku kesal. “Cih~! Apa itu urusanmu?” tanya HyukJae-ssi. “Apa kau cemburu denganku?” tanyaku, usil.

“Cih~! Maksudmu apa?” tanya HyukJae-ssi. “Ya kau pasti paham lah. Aku setiap malam bisa bertemu dengannya, sedangkan kau hanya bisa bertemu dengannya di sekolah dan waktu-waktu tertentu. Apa kau cemburu?” tanyaku. “Cih~~ cemburu dengan namja sepertimu? Kalau dipikir-pikir sih, aku bisa saja cemburu padamu. Tapi untuk apa?” tanya HyukJae-ssi. “Karena aku-lah yang memiliki ciuman pertamanya.” Jawabku.

Matanya terbelalak kaget, mulutnya terbuka juga, menandakan dia super kaget. “Waeyo?” tanyaku, mengejek. “K-kk-kau? YA—“ “Aku menciumnya lebih dulu, sebelum kau menciumnya di mobil setelah pulang pesta itu.” sahutku sebelum dia menyelesaikan perkataannya.

“Kyuhyun-ssi!” aku menoleh, begitu juga dengan HyukJae-ssi. Kulihat Shin Ahjuma berlari ke arah kami, bersama dengan seorang pria cukup gendut *maaf* yang sepertinya adalah kakaknya Hee Yeon. “Annyeong Ahjuma.” Aku membungkukkan badanku diikuti dengan HyukJae-ssi yang sepertinya baru tahu kalau Ahjuma ini adalah ibunya Hee Yeon.

“Bagaimana keadaan Hee Yeon-ah?” tanya Shin Ahjuma terlihat sangat khawatir. “Masih kritis. Maafkan aku, Ahjuma belum bisa menjaga Hee Yeon-ah dengan baik. Padahal kita bertetangga dan aku juga lumayan dekat dengannya.” Ujarku, menyesal. Aku tulus mengucapkan hal ini. Bukan mau cari muka. “Ah…. Kau pasti Oppa-nya Hee Yeon?” tanyaku, ragu-ragu. “Ah, ne ne ne. Shin Dong. Shin Dong Hee.” Ujarnya seraya mengulurkan tangannya padaku. “Joneun Cho Kyuhyun imnida, wa Lee HyukJae-ssi.” Ujarku sambil mengenalkan HyukJae-ssi pada Oppa-nya Hee Yeon.

“Annyeong.” Ujarnya ramah. “Hyung, bukankah kau sedang di luar negeri?” tanyaku pada Shin Dong Hyung. “Ah, kebetulan aku memang sedang dalam perjalanan pulang dari luar negeri. Lalu setiba di rumah, Eomma langsung bilang Hee Yeon-ah kecelakaan.” Jawab Shin Dong Hyung.

[HyukJae POV]

“Hyung bukankah kau sedang di luar negeri?” tanya Kyuhyun-ah pada Shin Dong Hyung. Sepertinya anak ini tahu banyak tentang keluarga Hee Yeon-ah. Apa…. Hee Yeon-ah banyak cerita pada Kyuhyun-ah tentang keluarganya? Tapi kenapa? Apa Hee Yeon-ah jatuh cinta pada namja super pintar di sekolah? Kalau iya…. Wajar saja sih. Dan aku juga…. mengerti.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Ternyata Min-ah yang telepon. “Yeoboseyo?” ujarku, sedikit malas. “HyukJae-ah, bagaimana keadaan Hee Yeon-ah?” tanyanya. Eh? Sepertinya ini bukan Min-ah. Suaranya…. Berbeda. “Nuguseyo?” tanyaku. “Ah, mianhae. Ini aku, Seohyun.” Jawabnya. “OH! Ne. Dia masih kritis. Apa Siwon-ah sudah kembali?” tanyaku. “Tadi dia kembali hanya untuk mengambil tasnya, sepertinya dia pulang. Wajahnya pucat.” Jawab Min-ah. “Begitu ya? Baiklah.” Jawabku. Aku sedikit khawatir dengan namja super tampan itu. Eits! Tidak, mungkin dia tampan. Tapi jauh lebih tampan aku *-*

“Kalau Hee Yeon-ah sudah sadar, sampaikan salamku untuknya ya. Oh ya… sepulang sekolah, aku dan Min-ah akan menyempatkan diri untuk ke rumah sakit.” Ujar Seohyun-ah. “Ne. Akan kusampaikan.” Jawabku. “Ne. Annyeong.” Dia menutup telepon. “Oh ya, tadi siapa yang membawa Hee Yeon-ah ke rumah sakit?” tanya Shin Ahjuma. “Em… Tadi ada teman kami satu lagi. Namanya Siwon, Choi Siwon. Anak pemilik sekolah.” jawab Kyuhyun tanpa malu memuji Siwon. Sebenarnya anak ini cinta tidak sih sama Hee Yeon?!

“Sekarang dia dimana?” tanya Shin Ahjuma. “Dia sepertinya terlalu shock, jadi dijemput pulang oleh adiknya.” Jawab Kyuhyun. “Oh arasseo. Kalau dia datang lagi, sampaikan salam Ahjuma padanya ya. Bilang juga kalau Ahjuma ingin bertemu dia secepatnya, Ahjuma ingin berterima kasih padanya.” Ujar Ahjuma sambil tersenyum kecil. “Ne.” Kyuhyun mengangguk. Aku benar-benar merasa bodoh di antara mereka semua.

Shin Dong Hyung tidak henti-hentinya berdoa demi keselamatan adiknya.

—————– to be continue —————————

gimana? hehehe…. ditunggu bgt ya commentnya… hehehe…. selamat membaca part 9 yaa😮