Annyeong haseyo (^-^)/ ini FF kedua saya… mohon komentarnya. gak papa kok kalau dibilang jelek juga gak apa2. ikhlas. suwer .__.v
Oh ya, saya sih berharap ya, judulnya cocok sama ceritanya .__. maklum, kelemahan saya itu ada di judul dan pas bikin ending .__.
Oke, Happy Reading, Readers. ;D

—-

Casts:

– Shin Hee Yeon    – Cho Kyuhyun

– Lee HyukJae        – Choi Siwon

– dan beberapa artis pendukung (?)

—-

Annyeong haseyo! Perkenalkan, namaku Shin Hee Yeon! ^^ Diusiaku yang baru saja beranjak 17 tahun, aku masih setia dengan status single-ku yang tak kunjung berubah sejak dulu. Orang-orang bilang aku memiliki paras yang cantik, kepribadian yang baik, dan aku sangat pintar. Bahkan IQ yang kumiliki saat ini juga menunjukkan kalau aku bukan wanita bodoh. Dan tahun ini menjadi tahun terakhirku di sekolah ini, SMA yang cukup dipandang baik di Seoul.

Dan demi keinginan orang tuaku yang sangat ingin aku bisa meneruskan usaha keluargaku yang sudah sangaaaaat maju, aku rela mengikuti kelas akselerasi dan meninggalkan sahabat-sahabatku yang kini masih duduk di kelas 2 SMA. “Haaahh~~” desahku pelan ketika melihat namja aneh yang selama ini mengincarku kembali merusak pemandangan indah di depan mataku. “Ya! Kenapa kau selalu memasang ekspresi menyebalkan itu tiap kali aku masuk ke kelasmu?” tanya namja aneh yang bernama LeeHyukJae. “Apa aku ada urusan denganmu?” tanyaku sinis.

“Emm~ Sepertinya sih tidak ada.” Jawabnya santai. “Ka.” Usirku. “Mwo??” wajahnya terlihat sangat terkejut meski sudah berkali-kali kuusir dia selama setahun ini. Sebenarnya sih dia itu seharusnya menjadi kakak kelasku di sini, tapi seperti yang kalian tahu… Sudahlah!! “Kau tidak tuli, kan?” tanyaku tetap sinis. “Ani… Aku jelas-jelas mendengarnya. Kenapa kau terus mengusirku selama setahun ini, Hee Yeon-ah?” tanyanya, lembut. Suaranya itu… Salah! Nada suaranya itu… Terlalu lembut untuk ukuran namja berusia 18 tahun.

“Mianhae. Tapi aku hanya bersikap baik pada orang yang baik juga.” ketusku. “Mwo?! Jadi kau pikir aku tidak baik?” wajahnya semakin terkejut. Matanya seakan-akan bisa keluar kapan saja dari tempatnya. “Em… Tidak juga sih. Hanya…. Aku lelah melihatmu. Aku kasihan sebenarnya padamu. Apa yang kau cari dariku?” tanyaku. Dia tertawa kecil dan memalingkan wajahnya. “Waeyo?” tanyaku. “Ani… Hanya saja—“ “Lee HyukJae-ssi, bisa kau pergi dari hadapanku?” tanyaku tiba-tiba. Terlihat sekali wajahnya yang sangat terkejut.

Dengan wajah tidak bersalah aku tetap memandangnya. “Waeyo, Hee Yeon-ah? Apa salahku? Aku hanya menyukaimu…” katanya. Suaranya memelas kali ini. “Mianhae, tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu itu.” kataku. Ucapanku ini mungkin sudah didengarnya ribuan kali karena setiap harinya dia selalu datang ke kelasku dan mengucapkan hal yang sama. Karena namja itu tidak juga beranjak dari tempatnya, maka aku pergi. Meninggalkannya. Meninggalkan kelas yang kini hanya ada dia, dia, dan dia.

~~~~~

Sudah hampir tengah malam, dan langit sedang tidak berbintang. Kemana mereka semua? Bahkan bulan pun enggan menampakkan dirinya. “YA!! Kenapa kau tidak hadir malam ini?!” pekikku dari tepian ball room yang kini sedang kududuki. “Wae?? Waeyo?” desahku pelan. “Waeyo?! Kenapa malam ini kau jahat sekali? Kenapa tidak muncul? Kenapa membiarkanku sendiri?” pekikku lagi.

“Ya, yeoja!” seseorang mengejutkanku hingga hampir membuatku terjengkang. Aku menoleh dan mendapati seorang namja tampan sedang duduk di kursi, di ball room-nya. “Kau bicara padaku?” tanyaku bingung. “Ada siapa lagi disini selain kau dan aku, hah?” dia malah balik bertanya. Nadanya ketus. “Wae?” tanyaku tanpa beranjak dari tempatku. “Kenapa kau berteriak-teriak? Kau tahu? Ini sudah malam!” jawabnya tetap ketus. “Lalu?” tanyaku sinis. “Aish~ tidakkah kau mengerti? Pekikanmu itu menggangguku!” katanya sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. “Mian.” Kataku ketus dan mengalihkan pandanganku ke langit yang masih juga sepi.

Tiba-tiba saja HP-ku berbunyi. Kulihat layar HP-ku sebelum menjawab panggilan itu. Hanya nomor. Lalu kuangkat panggilan itu dengan malas. “Yeoboseyo? Nuguseyo?” tanyaku bersamaan dengan saapan. “…” “Yeoboseyo?” ulangku. “Hee Yeon-ah?” suara seorang namja. “Ne. Nuguseyo?” tanyaku lagi. “Bisa kau ke taman sekarang?” tanya namja di seberang sana. “Aku tidak akan pergi kalau kau tidak memberi tahuku siapa kamu.” tolakku.

“Ini aku… Lee HyukJae.” Jawab namja itu. YA! Kenapa tengah malam begini dia tetap menggangguku sih?! Aku menoleh pada namja yang masih asik duduk di ball room-nya sambil memainkan sebuah game di PSP-nya. “Mian aku tidak bisa.” Tolakku. “Wae?” tanya HyukJae-ssi. “Ya aku tidak bisa saja. Lagi pula sudah malam. Aku tidak boleh keluar.” Ujarku memberi alasan seadanya. “Aku akan mengantarmu nanti. Bagaimana?” tawarnya. “Mianhae HyukJae-ssi.” Kataku.

“AAH!!!” namja yang sedang asik main PSP itu berteriak kesal. Aku menoleh secepat kilat. “YA! Bisa kau diam? Aku sedang menerima telepon!” teriakku pada namja yang kini melongo kaget. “Yeoboseyo?” segera saja aku kembali pada percakapanku di telepon. “Kau sedang bersama siapa?” tanya HyukJae-ssi. Haruskah aku berbohong? Aku sangat tidak ingin diganggu malam ini. “Namja.” Jawabku singkat dan jelas tidak berbohong. “Ya! Kau pikir aku bodoh? Jelas aku tahu yang berteriak itu seorang namja!” HyukJae-ssi terdengar kesal.

“Ya sudah. Kenapa tanya?” tanyaku. “Siapa namja itu?” tanya HyukJae-ssi. “Haruskah kau mencampuri urusanku?” tanyaku sinis. “Hee Yeon-ah, aku benar-benar harus bicara padamu.” HyukJae-ssi menolak menjawab pertanyaanku. “Dari tadi kau juga sudah bicara. Cepatlah, aku mulai mengantuk.” Ketusku. “Tapi aku tidak bisa bicara di telepon.” Katanya. “Kalau begitu besok saja, di sekolah.” jawabku. “Jincha? Kau tidak akan mengusirku lagi kan besok?” tanyanya. “Tergantung. Kalau kau datang saat aku sedang malas, ya kau kuusir. Kalau tidak, ya tidak.” Jawabku. “Aish~ kenapa kau selalu mempersulitku sih?” tanya HyukJae-ssi. Aku hanya diam. Bingung mau menjawab apa.

Tiba-tiba namja yang sedang duduk di ball room itu kembali berteriak. “YA!!” seruku padanya. Dia mendelik kaget lagi padaku dan tidak lama setelahnya kembali menekuni game-nya. “Mianhae HyukJae-ssi, aku harus tidur.” Kataku. “Hee Yeon-ah, tunggu.” HyukJae-ssi memanggil namaku tapi sudah keburu kuputus panggilan itu. Dengan malas aku menurunkan kedua kakiku ke lantai dan duduk di kursi ball room-ku. Hanya diam. Menyandarkan punggungku pada kursi.

Aku menoleh sebentar pada namja yang masih bermain PSP itu. “Ya namja!” panggilku. “Ne?” sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya dari PSP-nya. “Kau murid di sekolahku bukan?” tiba-tiba dia menghentikan permainannya dan menoleh ke arahku. Dia hanya diam dan berdiri tiga detik kemudian. Berjalan mendekati ball room-ku. Aku hanya memandangnya bingung. “Waeyo?” tanyanya pelan. “Anio. Rasanya aku pernah melihatmu. Tapi dimana ya…” gumamku pelan sambil mengalihkan pandangan ke lantai ball room yang memantulkan wajahku tipis.

“Perasaanmu saja mungkin.” Jawabnya lalu duduk di pagar ball room-nya yang mengarah ke ball room-ku. “Geureyo? Rasanya tidak. Aku benar-benar pernah melihatmu. Di…. Ah! OMO! Kau ini kan, Ketua Eksul Matematika??” ujarku dengan nada terkejut. Dia melirik padaku. “Lalu kenapa?” tanya namja itu. “Siapa namamu? Aku tidak tahu…” ujarku. “Untuk apa tahu?” ketusnya padaku. “Aku kan siswi akselerasi, mana kenal orang-orang dari kelas lain?” ujarku sambil mengerucutkan bibirku. Dia melompat ke ball room-ku. “YA! Apa yang kau lakukan?!” tanyaku kaget.

Namja yang kini sudah berdiri di ujung ball room-ku memandang lekat pada wajahku yang sepertinya mulai memerah. “Shin Hee Yeon. Siswi akselerasi kelas 3-4, IQ 140. Ya kan?” ujarnya. Aku terbelalak kaget. Kenapa namja ini bisa tahu tentangku sedangkan aku tidak tahu tentangnya. “M-mwo? Ke-kenapa kau… tahu aku?” tanyaku terbata. “Karena rencananya aku mau mengajakmu ikut Olimpiade Matematika.” Ujarnya. “Mwo?! A-aku?!” tanyaku tidak percaya.

YA Shin Hee Yeon! Bangun! Apa kau tertidur di ball room saat ini? Seseorang bangunkan aku!! “Ne. Kau. Kalau begitu…” dia melirik jam tangannya. “Temui aku besok jam istirahat di kelasku. Arasseo?” tanyanya. “Ke-kelasmu? Di mana?” tanyaku. “3-1.” Jawabnya singkat lalu kembali ke ball room-nya dan masuk ke kamarnya. Dia meninggalkanku sendirian di ball room-ku yang kini hanya terdengar suara jangkrik.

“OMO~” gumamku pelan.

~~~~~

“Hee Yeon-ah! Bangun!” suara Eomma memekakkan telingaku. Kubuka mataku perlahan. “Kenapa tidur disini?” tanya Eomma. “Mwo?” jadi aku belum masuk ya sejak semalam? Apa… Namja aneh yang bilang aku ikut Olimpiade Matematika juga dalam mimpi? Apa HyukJae-ssi yang menghubungiku tengah malam juga hanya mimpi? Aku bingung dibuatnya. “Cepat mandi. Kau bisa terlambat nanti.” Ujar Eomma. Aku hanya mengangguk dan berjalan dengan gontai ke kamar mandi.

Seperti biasa, selesai mandi aku selalu berjalan ke ball room-ku untuk sekedar menghirup udara pagi. “Ya yeoja! Jangan lupa nanti ya!” seru seorang namja sambil mengeluarkan kepalanya dari pintu. Aku menoleh ke arahnya. Itu kan… Namja yang semalam? “Eh? Ng?” aku bingung. Dia terlihat lebih bingung lagi karena melihatku yang bingung. “Waeyo? Kau kan harus menemuiku jam istirahat nanti!” serunya. Ah! Bukan mimpi!! “Ah, ne!” aku mengangguk dan masuk ke dalam kamar.

Segera kuikat satu rambutku. Kusambar jam tangan, HP, mantel, dan tasku dan segera berlari ke lantai satu untuk sarapan. Kulihat Appa masih di sana, di ruang makan, membaca koran. “Appa.” Ujarku sambil duduk di kursi makanku. Appa menurunkan korannya dan melihat ke arahku. “Ne?” sahutnya. “Appa tahu tidak siapa keluarga yang tinggal di rumah sebelah?” tanyaku. “Ng? Ne. Waeyo?” tanya Appa. “Appa tahu siapa nama anak laki-lakinya? Yang satu sekolah denganku.” Ujarku. “Ne. Waeyo?” tanya Appa lagi.

“Anaknya itu kan, Ketua Eksul Matematika di sekolah. Dan tadi malam, dia bilang aku harus menemuinya saat jam istirahat. Dia mengajakku—“ “Tidak boleh!” sergah Appa sambil meletakkan korannya di meja. Eomma yang sedang meletakkan semangkuk sarapan di depanku ikut terkejut. “Waeyo? Aku bisa mengukir prestasi, Appa!” ujarku. “Kau harus menyelesaikan sekolah dulu!” sergah Appa lagi. “Mwo? Appa, dia mengajakku ikut Olimpiade Matematika! Kenapa Appa menolaknya seperti dia memintaku jadi pacarnya?” tanyaku. Appa tediam. Kudengar Appa mendesah lega. “Appa kira—“ “Ah, Appa.” Aku menyendok sedikit-sedikit sarapanku ke dalam mulut.

~~~~~

“Hee Yeon-ah!” kudengar suara HyukJae-ssi dari belakang. Aku berhenti melangkah dan berbalik. Dia baru saja berhenti berjalan tepat setelah kubalikkan badanku. “Semalam itu—“ “Bicara saja.” Ujarku. Dia menggeleng. “Ikut aku yuk!” ajaknya sambil melemparkan senyumnya yang bisa membuat semua yeoja pingsan seketika. “Kemana?” tanyaku. Dia hanya menunjuk ke belakangku. Aku berbalik dan melihat spot yang ditunjuknya. Aku mengangguk kecil.

Tangan namja yang setiap hari mengejarku itu, menggandeng tanganku dengan riang. Ditariknya aku agar mengikutinya berlari ke bawah pohon itu. Setibanya di spot yang dimaksud, dia menghela napasnya panjang. “Cepat. Aku harus menemui seseorang sebentar lagi.” Ujarku sambil melihat jam tangan. “Nugu?” tanyanya. “Bukan urusanmu. Cepat katakana yang mau kau katakan.” Ujarku.

“Ah, ne… Hee Yeon-ah, seperti yang kau ketahui. Selama ini kan aku menyukaimu, bahkan bisa dibilang aku cinta mati padamu.” Namja itu terlihat sangat serius. Aku hanya mengangguk. “Jadi… Maukah kau menerima cintaku?” tanyanya. “Mianhae, HyukJae-ssi. Seperti yang selama ini kau ketahui. Selama ini kan selalu menolakmu, bahkan mengusirmu. Kenapa kau masih mengejarku juga? Kenapa tidak mencintai yeoja lain? Di sekitarmu banyak yang menginginkanmu.” Jawabku lembut. Aku berusaha tidak kasar kali ini padanya.

“Arasseo. Tapi yang kuinginkan hanya kamu. Cuma kamu. Shin Hee Yeon.” Ujarnya seraya meraih tanganku. Kulepaskan kedua tangannya itu pelan. “Mianhae, HyukJae-ssi. Aku tidak bisa. Aku tidak mau menyakiti perasaanmu kalau aku menerima cintamu.” Kataku sambil memaksakan sebuah senyum di wajahku. “Arasseo. Mianhae sudah mengganggumu selama ini.” Ujarnya pelan. Kupandangi wajahnya lekat-lekat. Entah karena alasan apa, kutarik namja itu dan kupeluk. “Mianhae, HyukJae-ssi.” Kataku di pelukannya.

Aku tidak peduli apa reaksinya. Awalnya dia tidak membalas pelukanku yang tiba-tiba ini tapi setelah beberapa detik, kurasakan kedua tangannya membalas pelukanku. “Gwenchanayo,, Hee Yeon-ah.” Ujarnya.

~~~~~

“Mianhae aku terlambat!” ujarku sambil tersengal-sengal karena berlari ke kelas Si Ketua Eksul Matematika. Dia hanya melirik sebentar padaku. “Ini. Isi formulirmu. Kalau sudah, serahkan padaku.” Katanya. Beberapa yeoja di kelas itu memandangku seolah ingin memakanku hidup-hidup karena dengan santainya mendekati namja yang dielu-elukan di sekolah ini. Aku hanya mengangguk dan segera mengambil map berisi selembar formulir dan beberapa lembar syarat. Aku segera berbalik tapi tangan namja itu mencegahku pergi.

Tiba-tiba saja dadaku berdebar tidak karuan. Aku berbalik. “Ne?” ujarku pelan. Aku mulai takut dengan pandangan kurang bersahabat yeoja di kelas itu. Beberapa seperti sesak napas karena namja ini memegang tanganku dan beberapanya lagi sudah seperti harimau yang siap menerkamku kapan saja kalau berani macam-macam. “Tunggu aku nanti malam di ball room.” Bisiknya di telingaku. Seketika saja aku membatu. Bisikan lembutnya membuatku bergidik. Tidak, hatiku yang bergidik. Membuat jantungku seperti akan meledak beberapa saat lagi.

Para yeoja di kelas namja itu berteriak mengerikan ketika namja ini membisikiku. “Biar kuantar. Kau tidak aman.” Ujar namja itu sambil mendorongku keluar dari kelasnya. Aku hanya diam dengan sebuah map di tanganku. OMO, namja ini tinggi sekali. Tinggiku hanya mencapai lehernya. Pandangan namja itu tetap lurus ke depan, tanpa menghiraukanku yang sesekali melirik ke arahnya. Akhirnya kuberanikan mengintip namanya yang terpasang di kemeja sekolahnya. Cho Kyuhyun.

“Gomawo, Kyuhyun-ssi.” Ujarku ketika kami sudah sampai di depan kelasku, 3-4. “Ne.” jawabnya lalu berbalik kembali ke kelasnya yang 50 meter dari kelasku. Aku berbalik dan masuk ke dalam kelas. Tapi semua terasa aneh. Bahkan yeoja di kelasku memandangku dengan mengerikan. “Waeyo?” tanyaku takut-takut. “Ada hubungan apa kau dengannya?” tanya seorang yeoja bernama Taeyeon, yang menjadi Ketua Eksul Modern Dance. “Dengannya? Dengan siapa?” tanyaku bingung.

“Jangan berlagak bodoh. Jelas-jelas kami melihatmu dengannya!” seru Min dengan wajah datarnya. “Eh? Nugu? HyukJae-ssi?” tanyaku polos. “Aish~ masih berlagak bodoh ya? Apa kau memang bodoh?” tanya Taeyeon sinis. “Aku benar-benar tidak mengerti maksud kalian.” Tukasku. “Namja yang barusan itu, baboya!” seru Min. Oh, Kyuhyun-ssi? “Kyuhyun-ssi? Waeyo?” tanyaku. “Mwo? ‘Waeyo?’ Kau masih bertanya kenapa? Aish~ kau ini ya!” Taeyeon berjalan mendekatiku yang masih berdiri di depan kelas.

“Adik manis, tidak ada seorang yeoja pun yang pernah didekatinya. Bahkan kami semua pun ditolaknya mentah-mentah! Bagaimana bisa seorang yeoja sepertimu bisa mendekatinya? Kau pakai guna-guna apa?” tanya Taeyeon semakin sinis. “MWO?! Guna-guna?! Kalian bicara apa sih?” tanyaku bingung. “Cih! Satu hal yang perlu kau ketahui! Kau-bukan-levelnya!” tukas Taeyeon kasar lalu berbalik. Rambut panjangnya mengenai wajahku. Ng? Apa sih mereka? Aneh.

~~~~~

Sepulang sekolah, aku melihat HyukJae-ssi sedang duduk di spot kami tadi. Wajahnya terlihat murung, setidaknya tidak seperti biasanya. Kuberanikan diri duduk di sebelahnya. “Apa kau marah padaku?” tanyaku sambil menyandarkan punggungku. Dia tersenyum tipis lalu menoleh ke arahku. “Marah? Waeyo?” dia balik bertanya padaku. “Karena…. Aku menolakmu?” ujarku. “Cih! Kenapa juga harus marah?” dia mengusap lembut kepalaku. “Lalu kenapa?” tanyaku. “Kuantar pulang yuk!” ujarnya seraya menarik tanganku.

Kami berdua hanya saling diam. Aku merasakan perubahan pada diriku. Selama HyukJae-ssi mengejar-ngerjarku, aku selalu ketus padanya. Tapi setelah dia menyatakannya secara serius dan aku juga menolaknya secara serius, aku merasa lebih hangat padanya. “HyukJae-ssi…” aku memanggilnya. “Ne?” sahutnya pelan. Ditendangnya kaleng minuman soda yang tergeletak di aspal menjadi sampah. “Apa kau benar-benar cinta aku?” tanyaku malu-malu. Dia terkekeh.

“Kenapa bertanya lagi? Apa kau akhirnya menyadarinya dan menerima cintaku?” tanyanya. Aku hanya diam. “Aku tidak tahu. Memangnya di sekolah ini, atau di dunia ini yang kau cintai hanya aku?” tanyaku. “Ne. Sampai saat ini.” Ujarnya. “Sebenarnya sejak kapan?” tanyaku. “Ng?” dia menoleh padaku sambil terus berjalan. “Sejak kapan kau suka aku?” tanyaku. “Sejak kau kelas 1 SMA.” Ujarnya. Aku kembali terdiam. Bagaimana bisa dia menyimpan rasa itu selama satu tahun setengah hingga akhirnya aku bisa seangkatan dengannya.

Sebenarnya juga, aku tidak punya alasan untuk tidak menerima cintanya. Dia juga salah satu namja yang dikejar-kejar di sekolah. Setidaknya menempati peringkat ketiga setelah Choi Siwon Si Ketua Taekwondo sekaligus anak pemilik sekolah dan Cho Kyuhyun Si Ketua Ekskul Matematika yang baru saja menjadi salah satu temanku. “Aemm… HyukJae-ssi, apa sangat sakit ketika aku menolak cintamu?” tanyaku pelan. “Hmmm… Rasa sakitnya seperti satu per nol.” Jawabnya. Mwo? Satu per nol itu kan tak hingga. Apa sesakit itu? “Apa sesakit itu?” tanyaku. “Awalnya iya. Tapi setelah kupikir-pikir untuk apa juga aku memaksamu mencintaiku?” tanya HyukJae-ssi.

Aku diam kembali. Tidak terasa kami sudah sampai di depan rumahku. “Gomawo Oppa sudah mengantarkanku.” Ujarku. Matanya membulat seketika seperti melihat hantu. “Waeyo?” tanyaku. “Tadi kau memanggilku apa?” tanyanya. “Ya! Kau tidak tuli kan, namja aneh?” tanyaku. “A-ani… Tadi kau panggil aku apa?” tanyanya lagi. Aku tidak menjawabnya. “Mau masuk?” tanyaku. Dia menggeleng sambil tersenyum manis padaku.

“Baiklah. Sampai jumpa.” Aku melambaikan tanganku padanya sambil tersenyum tulus. Senyum paling tulus yang pernah kulemparkan padanya. Senyum pertamaku untuknya. Untuk namja aneh yang selalu mengejarku selama ini. Aku memandangi punggungnya yang kini sudah hilang di tikungan.

“Hee Yeon-ah!” suara seseorang menghentikanku memperhatikan tikungan itu. Aku mendongak dan melihat Kyuhyun-ssi sudah di ball room-nya sambil memegang buku cetak matematika. Aku mengerti maksudnya. “Ne.” sahutku malas lalu masuk ke dalam rumah. Segera saja kuganti pakaianku dengan pakaian rumah. Ketika kubuka pintu ball room-ku, aku sudah melihat namja itu duduk di kursi ball room-ku. “Wa! Ya! Kau membuatku kaget!” sergahku. Dia hanya menoleh sekilas lalu kembali menekuni buku matematikanya yang penuh rumus.

“Tunggu sebentar. Kuambilkan cemilan dan teh hangat untukmu.” Ujarku. Dia hanya diam. Jadi kubalikkan badanku dan berjalan menuju dapur. Eomma yang sedang duduk sambil menonton TV menoleh padaku yang jarang sekali saat sore hari mengambil cemilan. “Ada temanmu?” tanya Eomma. “Ng? Ne.” jawabku singkat. “Kapan dia masuk?” tanya Eomma. “Tetangga sebelah, Eomma.” Jawabku. “Oh.” Sahut Eomma singkat.

Setelah teh hangat dan cemilan siap, kubawa mereka semua ke kamarku. Aku berjalan ke ball room-ku. Namja itu masih di sana dan masih menekuni bukunya. “Ini.” Aku meletakkan makanan dan minumannya di meja. Dia tidak menggubrisku. “Katamu malam, kenapa sore?” tanyaku. Akhirnya dia menutup buku matematikanya dan menoleh ke arahku. Dia memandangku lama sekali. Aku memiringkan kepalaku. “Wae?” tanyaku singkat.

“Ada sesuatu di kepalamu.” Ujarnya. “Ha!? Mana?!” aku berdiri dengan panik dan segera mengacak-acak rambutku berharap ‘sesuatu di kepalaku’ itu pergi. Dia berdiri dan memegang kedua tanganku yang sedang sibuk dengan rambutku. “Aah-aah-aah!!” aku mulai ketakutan dengan ‘sesuatu di kepalaku’ ini. “Kau diam dulu.” Kyuhyun-ssi membungkuk sedikit di depanku. Aku kembali berdebar-debar. CHUUU~~~

—————————————— to be continue ———————————————

gimana chingu-deul? ehehe… mian ya kalau jelek .___. sumfeh deh, maaf banget!!! ><

baru buat ff dan perasaan saya sih, ff yang pertama jeleknya gak nahan .__. saya sih berharapnya ya… ada perkembangan

mianhae chingu-deul!!! saya berjanji! suatu saat akan membuat ff yang super-duper bagus .___.v <– janji!!!

oh ya, jangan jadi silent readers ya, please kasih comment😉 gomawo~~~