Annyeong haseyo, chingu-deul~ akhirnya Part 2 nya selesai dibikin. maaf banget ya kalau ada kurang-kurangnya. maklum ini lanjutan ff kedua, dan otak lagi gak mau berputar dengan baik .___. yasudahlah, dari pada banyak omong, selamat membaca🙂 jangan lupa comment-nya ya🙂
—————-

Cast:

– Shin Hee Yeon     – Lee HyukJae

– Cho Kyuhyun      – Choi Siwon

– beberapa peran pembantu (?)

———————————————–

Sejak kejadian petang itu, aku tidak pernah berani menemui namja itu padahal seharusnya kami rutin belajar matematika untuk Olimpiade Matematika yang akan segera kuikuti. Sudah hampir seminggu aku tidak melihatnya di ball room-nya. Kadang aku juga tanpa sadar menunggu namja itu keluar dari kamarnya. “Hhh~” desahku sembari mengambil cemlian di tangan kananku. Minat belajar matematikaku sedang turun saat ini. Bosan dan tidak mengerti materinya. Park Seonsaengnim juga hanya memberiku soal-soal sedangkan ada beberapa materi yang belum diajarkannya. Bagaimana bisa aku kerjakan? Aish~

SREEEK!

Aku menoleh. Kulihat pintu itu akhirnya terbuka setelah seminggu ini terus tertutup. Dan kulihat lagi, namja itu keluar dengan kaos putih polosnya dan celana selutut. Namja itu tidak lupa membawa PSP dan… Mwo? Buku cetak matematika? Apa… Dia mau mengajakku belajar lagi? Deg deg deg deg… Kurasakan jantungku berpacu dua kali, atau mungkin ratusan kali lebih cepat dari sebelumnya. Mata indah itu melihat ke arahku yang masih melongo tidak percaya. Ketika tersadar sedetik kemudiannya, aku langsung mengalihkan pandanganku ke layar HP-ku, pura-pura sedang main game.

“Ya! Kulihat kau tidak pernah belajar. Lompatlah ke sini. Kau harus belajar!” ujarnya seraya mengibas-ngibaskan tangannya memanggilku. Aku menoleh ke arahnya sebentar. “Tidak mau. Malas!” ujarku. “Ya sudah.” Dia duduk di kursinya dan mulai memainkan game di PSP-nya. Aku hanya diam. “Kalau kau tidak mau belajar, mundur saja dari olimpiade ini. Aku akan memberikan kesempatan ini pada murid yang lain.” Ujarnya sambil tetap tekun pada PSP-nya. Aish~ apa maksud namja ini sih?

Aku tetap diam, tidak menggubris ucapannya. Kutolehkan kepalaku ke kiri, melihat awan yang seperti ombak bergulung. “Cepat ambil soal-soalmu! Akan kuajarkan cara cepatnya.” Ujarnya. Aku terkejut dan langsung menoleh. Namja itu sudah duduk di kursi, di sebelahku. Ya. Di ball room-ku. “YA! Kenapa kau melompat tiba-tiba?” tanyaku ketus. “Sudah cepat!!” ujarnya ketus, juga. Tangannya menarikku agar berdiri. Dengan malas, kulangkahkan kakiku ke dalam kamar untuk mengambil soal-soal matematika yang belum kusentuh.

“Ini.” Ujarku seraya memberikan soal-soal itu padanya. Dia meraihnya dan memahami soal itu dalam waktu sekitar tiga menit. Setelah selesai memahami soal-soal memuakkan itu, dia memutar badannya sehingga kini dia menghadap ke arahku. Aku menoleh dan ikut memutar badanku sehingga kini kami saling berhadapan. Dengan tekun, dia mulai mengajariku. Awalnya aku tekun memperhatikannya, tapi tiba-tiba saja mataku mengarah pada kelopak matanya. Sesekali kulihat kelopak itu turun dengan cepat, tanda dia berkedip. Lalu aku mengarahkan pandanganku ke arah hidungnya yang mancung. Dan terakhir, bibirnya. Bibir yang pernah menyentuh bibirku seminggu yang lalu.

Betapa sempurnanya namja ini. Dianugerahi wajah yang tampan, otak yang cerdas, dan dikelilingi yeoja yang sangat mencintainya. Oh ya, tidak lupa. Dia berasal dari keluarga yang cukup berada, bahkan bisa dibilang sangat berada. Tiba-tiba saja kepalanya mendongak, sehingga mata kami sama-sama bertemu. Seketika kurasakan wajahku memerah, aku malu sekali. “Kenapa memperhatikan aku begitu? Aku tampan ya?” ujarnya polos. Atau sok polos?

“Eh? Ng…” aku berusaha mencari alasan yang tepat dan masuk akal. “Tidak usah mencari-cari alasan. Kau suka aku ya? Tapi kau malu?” cibirnya. “Mwo? YA! Kyuhyun-ssi, kau sudah merebut ciuman pertamaku, dan sekarang kau masih berani bicara begitu? Haah!” desahku kesal. “Kekeke… Mianhae. Aku tidak bermaksud mengambil hal itu darimu. Tapi… aku tidak tahan melihat bibirmu yang menggoda itu.” ujarnya sambil menegakkan tubuhnya. Sesaat ia mengulet dan kembali pada soal-soal itu.

“Kyuhyun-ssi, apa kau tidak lelah mengajariku?” tanyaku. “He?” dia melirik ke arahku. “Kenapa lelah?” dia balik bertanya. Aku hanya menggeleng. “Kalau begitu, kau tidak boleh bertanya hal itu lagi padaku, ok?” ujarnya sambil membentuk bulatan dengan ibu jari dan telunjuknya.  Aigo~ wajahnya imut sekali. Aku hanya mengangguk kecil. Kuperhatikan lagi dia yang sekarang sudah menjelaskan aku rumus-rumus baru.

Setelah dua jam belajar akhirnya kami sama-sama bosan. “Kyuhyun-ssi…” panggilku. Dia hanya menoleh ke arahku. “Kenapa tidak punya yoejachingu?” tanyaku, sedikit ragu. “Waeyo?” tanyanya. “Aish     ~ aku kan bertanya padamu. Kenapa balik bertanya?” tanyaku padanya. Dia tidak menjawab. “Kalau begitu jawab pertanyaanku yang ini.” Ujarku sambil memutar badan ke arahnya. Dengan posisi yang sama, kini wajahnya menatapku datar, nyaris dingin. Aku sedikit takut dibuatnya.

“Kenapa kau selalu bersikap dingin di sekolah?” tanyaku enteng. Sedetik kemudian dia mengalihkan pandangannya dariku. Aku hanya diam menunggu jawabannya. “Kau tahu tidak? Aku sebenarnya merasa bersalah sudah menciummu waktu itu.” ujarnya. Sekarang aku ikut-ikutan mengalihkan pandanganku. Aku menatap ke bawah, ke lantai. Kudengar desahannya. “Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku, Kyuhyun-ssi?” tanyaku padanya. “Aku pun tidak tahu kenapa.” Jawabnya.

Kurasakan tangan namja itu meraih tanganku. “Would you be my girl?” tanyanya tiba-tiba. Dan tiba-tiba juga, aku rasa tubuhku membeku. Aku harus jawab apa? Aku bingung!! Bagaimana bisa? Seseorang sepertiku dalam waktu dekat sudah dua namja menyatakan cintanya padaku? Bagaimana bisa? Pertama, namja aneh bernama Lee HyukJae dari kelas 3-2 yang terus-menerus mengejarku sejak aku resmi menjadi siswi akselerasi kelas 3-3. Kedua, namja super pintar bernama Cho Kyuhyun dari kelas 3-1 yang belakangan ini mengajarkanku dan mengambil ciuman pertamaku. Kalau si namja super diidolakan di sekolahku, Choi Siwon yang sekelas dengan Kyuhyun-ssi juga menyatakan cintanya padaku, akan jadi apa aku ini?

Aku menahan napasku hingga dadaku terasa sesak. “A-aku belum bisa memberi jawabannya.” Jawabku. “Gwenchanayo. Akan kutunggu.” Jawabnya. Dia melirik jam tangannya. “Aigo~! Sudah jam lima rupanya! Aku bisa terlambat bermain!!” dia berdiri dan merapikan barang-barangnya. Kyuhyun-ssi, apa kau berusaha mengalihkan pembicaraan kita? “Permainan online ya?” tanyaku. “Ne! Aku harus menang hari ini!!” serunya bersemangat. Aku tersenyum padanya. “Semoga berhasil ya!!” kataku sambil menepuk bahunya.

~~~~~

“Hee Yeon-ssi!” seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh. “Ne?” aku tersenyum padanya. Kulihat wajah namja ini semakin ceria ketika kulemparkan senyumanku padanya. Yah, sekarang aku sudah tidak merasa terbebani kalau namja aneh ini dekat-dekat denganku. Kurasa dia juga sudah menyerah. Belum sempat dia membuka mulutnya, teman sekelasnya, Lee Donghae, menghampiri kami. “Kalian sudah jadian? Takluk juga kau rupanya dengan sahabatku ini!” ujar Donghae-ssi. “He? Apa maksudmu? Takluk? Jadian? Bicara apa sih namja ini?” tanyaku pada HyukJae-ssi. “Ah, Donghae-ah. Kau salah sangka! Kami tidak jadian. Aku sudah menyerah untuk mendapatkan hatinya.” Jawab HyukJae-ssi enteng. “Mwo? Kau menyerah? Bagaimana mungkin? Ya! Yeoja, bagaimana bisa kau menolaknya?” tanya Donghae-ssi tidak percaya.

Aku hanya diam. “Sudah ya, jangan hiraukan dia.” HyukJae-ssi menggenggam tanganku dan menarikku pergi. “Apa kau ada acara sore nanti?” tanya namja itu padaku. Sambil berjalan menuju kelas dia tetap menggandeng tanganku. “Em… Molla. Kalau aku tidak belajar matematika lagi dengan Kyuhyun-ssi, aku tidak ada acara.” Jawabku. “Ng? ah iya! Aku lupa! Kau akan ikut Olimpiade Matematika bukan? Chukkhae!” ujarnya sambil merangkulku. DEG!

Apa ini? Kenapa aku merasa jantungku berdebar? Debaran ini juga kurasakan ketika Kyuhyun-ssi menciumku! Mana mungkin aku bisa jadi begini? Apa ini…. Cinta? Mana mungkin? Masa aku, Shin Hee Yeon, jatuh cinta dengan dua namja sekaligus?! “HyukJae-ssi, bisa kau lepaskan rangkulanmu?” bisikku. “He? Waeyo? Kau tidak suka?” tanyanya. “Bu-bukan… Lihat mata para yeoja itu. Mereka bisa saja memangsaku ketika di kelas!” jawabku, tetap berbisik.

“Sebelum dia memangsamu, akan kumangsa mereka!” jawabnya sambil terkekeh. “Ya!!!” aku menyikut dadanya. “Akhh!” dia mengaduh sembari melepaskan rangkulannya dariku. Aku hanya tersenyum. “Kenapa kau tidak memanggilku ‘Oppa’ lagi seperti kemarin?” tanya HyukJae-ssi. “Mianhae, HyukJae-ssi. Mungkin kemarin aku khilaf. Tidak akan kulakukan lagi.” Ujarku, bercanda. “Ah kau ini! Aku lebih senang kau panggil aku ‘Oppa’ karena terdengar lebih muda, begitu. Usia kita juga tidak jauh berbeda. Panggillah aku ‘Oppa’.” ujarnya panjang lebar. “Ah, anio.” Tolakku.

“Waeyo? Hitung-hitung sebagai ganti kau tidak mau jadi yeojachingu-ku!” katanya sambil menarikku ke rangkulannya lagi. Ia merangkulku lebih erat. “Jangan lari dariku ya, kalau kau tidak mau jadi yeojachingu-ku!” bisiknya tepat di telingaku. Aku bergidik dan lagi-lagi jantungku berpacu kencang.

“Gomawo, sudah mengantar sampai kelas.” Ujarku. “Ne.” dia menangguk lalu kembali ke kelasnya. Saat aku masuk ke dalam kelasku sendiri, lagi-lagi aku merasakan aura mengerikan itu. Aura yang sama seperti kurasakan ketika aku diantar namja bernama Cho Kyuhyun. “Waeyo?” tanyaku dingin. “Cih! Betapa murahannya dirimu! Baru saja menolak Eunhyuk-ah, lalu kau gandeng Si Namja Pintar Cho Kyuhyun, dan sekarang kau berbalik pada Eunhyuk-ah? Cih!” Taeyon-ssi melemparkan padangan memuakkan padaku.

“Lalu apa urusanmu?” tanyaku yang masih berdiri di depan pintu. Dia berjalan cepat ke arahku dan menarik kerah bajuku. “Kim Taeyeon-ssi!!” seseorang beteriak ke arahnya dan dia menoleh. Segera dia melepaskan cengkramannya dari kerahku. Aku ikut menoleh ketika dia sudah melepaskannya. Mwo? Siapa dia? Tubuhnya… Sangat sempurna!! >///<

“Memalukan!” seru namja itu pada Taeyeon-ssi. “Mianhae, Siwon-ah.” Ujarnya. HA?! Si-siwon? Choi Siwon? Si Ketua Taekwondo sekaligus anak pemilik sekolah ini?! “Jangan kau rusak reputasi sekolah ini dengan perlakuanmu.” Ujar namja itu dingin. Tatapannya sangat datar dan dingin. Sama seperti Kyuhyun-ssi. Apa semua namja popular harus begitu? Ah, rasanya HyukJae-ssi tidak. Dia tetap menjadi namja humoris. Bahkan aku tidak tahu apa yang membuatnya bisa begitu terkenal di sekolah ini. “Arasseo. Mianhae. Tidak akan kuulangi.” Taeyeon-ssi tertunduk malu, sambil sesekali melirik tajam padaku yang hanya diam.

“Dan kau….” Dia melirik tanda pengenal di dadaku. Aku malu dan langsung menyahut. “Shin Hee Yeon.” Ujarku. “Ne. Shin Hee Yeon-ssi, semoga berhasil dengan olimpiademu.” Ujarnya kemudian berbalik diikuti beberapa temannya. Aku hanya memandang dengan cuek lalu berjalan ke bangkuku di dekat jendela.

“Hee Yeon-ah, beruntung sekali dirimu!” ujar temanku, Seohyun-ssi. “Wae?” tanyaku singkat. Kuambil buku matematika dari dalam tasku dan mulai mengerjakan soal-soal yang belum kukerjakan kemarin ketika Kyuhyun-ssi datang ke rumah. “Sudah dua namja yang mendekatimu. Apa mereka sudah menyatakan perasaan mereka padamu?” tanya Seohyun-ssi. “Cih~ Apa maksudmu, Seohyun-ssi?” tanyaku. “Jangan pura-pura polos, Hee Yeon-ah.” Ujarnya sambil mengibaskan tangannya.

“Heh… Namja aneh itu sih sudah menyatakannya.” Jawabku. “HA? Jincha?!” wajahnya terlihat tidak percaya. “Ne.” jawabku singkat. “Lalu kau terima kan??” tanyanya. Kulihat wajahnya bahagia karena teman sekaligus (sebenarnya) juniornya ini sudah tidak menjomblo lagi. “Anio.” Jawabku singkat. Seketika ekspresinya berubah. Mulutnya terbuka lebar, begitu juga matanya. “Wae?” tanyaku. “Harusnya aku yang bertanya padamu!! Kenapa kau tolak dia?” tanya Seohyun-ssi. “Molla.” Jawabku sambil tetap mengerjakan soal matematikaku.

“Kalau Kyuhyun-ssi?” tanya Seohyun-ssi. “Maksudmu?” tanyaku seraya melirik padanya. “Apa dia juga sudah menyatakannya padamu?” tanya Seohyun-ssi sambil menarik kursinya ke sebelahku. Apa aku harus bilang bahwa namja itu bukan saja menyatakan perasaannya padaku, tapi juga mengambil ciuman pertamaku? Ah, babo Seohyun-ssi!! “Kenapa mau tahu?” tanyaku ketus. Kualihkan pandanganku dari soal-soal yang kini membuatku muak.

“Jawab saja…” ujarnya sambil menepuk bahuku. “Hee Yeon-ssi, bisa ikut aku?” tanya Kyuhyun-ssi yang tahu-tahu sudah di hadapanku dan Seohyun-ssi. Kami berdua terlonjak kaget. Wajahnya lagi-lagi terlihat dingin dan menyeramkan. Apa harus selalu begitu agar terlihat berwibawa? Aku justru membencinya! “Ne.” aku mengangguk kecil. “Kaja.” Dia menarik lenganku dan dengan cepat aku sudah mengikutinya.

~~~~~

“Ternyata aku sudah keduluan ya?” tanya Kyuhyun-ssi begitu kami sampai di belakang sekolah. “Maksudmu?” tanyaku singkat. Kutolehkan kepalaku ke belakang. Kudapati temannya, Sungmin-ssi berdiri di sana. Sekitar 100 meter dari kami. “Jawab saja.” Ujarnya. “Bagaimana bisa jawab? Aku saja tidak mengerti maksudmu!” jawabku ketus. Kutolehkan kepalaku sekali lagi ke belakang. Temannya sudah hilang.

Kyuhyun-ssi memutar kepalaku sehingga aku menatapnya. Dengan terpaksa aku mendongak agar dapat melihatnya dengan jelas. “Kau sudah jadi yeojachingu-nya ya?” tanya Kyuhyun-ssi. Aku tertawa mendengarnya. “Kau cemburu ya?” tanyaku. “He? Jelas tidak. Untuk apa?” tanyanya datar. “Karena kemarin kau juga menyatakan cintamu padaku. Kau takut ya kalau aku sudah jadian dengan HyukJae-ssi?” tanyaku. “Tentu saja. Kalau kau dan dia sudah jadian, sama saja aku merebutmu darinya!” jawabnya dingin.

“Tenang saja, aku masih single kok. Tapi jangan harap bisa mendapatkanku dengan mudah ya.” Ujarku sambil berlalu pergi. Melangkahkan kakiku dengan enteng kembali ke kelas. Hah~ kenapa semua ini terjadi begitu cepat sih? Selama setahun belakangan yang kurasakan hanya kejaran aneh tak jelas dari si namja yang juga aneh, Lee HyukJae-ssi. Dan setelahnya, seorang namja paling pintar di sekolah, mengajakku ikut olimpiade dan bahkan memintaku jadi yeojachingu-nya dan bahkan (lagi) dia berhasil merebut ciuman pertamaku itu.

PRAAAK!! Aku terjatuh ke aspal yang kasar. Kurasakan kakiku terasa perih karena goresan yang kubuat. “Aah~!” aku mengaduh kecil. Kurasakan seseorang tengah memelukku erat. Aku melihat ke bagian perutku yang diikat dengan tangan seseorang. Sepertinya seorang namja. Perlahan dia melepaskan pelukan itu.

Aku menoleh sedetik setelahnya. Mwo? “Choi Siwon-ssi?” aku terkejut. Aku menoleh ke belakang, melihat apa yang pecah. Sebuah pot yang kini sudah hancur berkeping-keping. “Gwenchanayo?” tanya namja itu, hingga membuatku menoleh. Kulihat wajahnya semakin pucat. “Ah, ne. Neo… Gwenchanayo?” tanyaku, tapi namja itu hanya tersenyum kecil. Kulihat darah segar mengalir dengan sempurna, menodai keningnya. “YA! Kau berdarah!” seruku.

BRUUKK!! Dia langsung terjatuh pingsan. Aku terkejut. “Siwon-ssi!! YA!!” teriakku, mengguncang tubuhnya. Apa lagi ini?! Aaahh!!! “Siwon-ssi!!” aku mengguncang tubuhnya. “TOLONG!!!” teriakku keras. Tiba-tiba air mataku menetes dengan sempurna dan terjatuh ke rok sekolahku. “Siwon-ssi, sadarlah!! TOLONG!!” aku terus berteriak, hingga seorang yeoja yang sangat kukenal, Seohyun-ssi menoleh.

“YA, Hee Yeon-ah! Apa yang kau…. Siwon-ssi!!” dia langsung berlari menghampiriku. “Waeyo?” tanya Seohyun-ssi. Wajahnya terlihat panik, tapi tidak sepanik aku. “Molla. Dia… Tolong dia…” ujarku sambil terus menangis. Kepala namja itu kini berada di pangkuanku, sehingga membuat rok yang kupakai banjir darah. “Sebentar!” Seohyun-ssi berdiri dan segera berlari mencari pertolongan. Tidak lama kemudian, yeoja itu membawa beberapa namja dan segera membawa Siwon-ssi ke rumah sakit.

“Seohyun-ssi…” aku menangis di pelukan yeoja itu. “Tenanglah. Dia tidak apa-apa. Kalau sudah tenang, ceritakan padaku ya. Sekarang sebaiknya kita kembali ke kelas dan ganti pakaianmu.” Ujar Seohyun-ssi lembut. Dia merangkulku yang masih menangis ke kelas. Beberapa orang di kelas menoleh ketika melihat kedatangan kami. “Kau kenapa, Hee Yeon-ah?” tanya Min. “YA! Rok-mu!! Kenapa banyak darah? Kemejamu juga! Waeyo?” tanya Min dengan suara yang sangat terkejut.

Aku tidak menghiraukan pertanyaan yeoja itu dan segera duduk di kursiku. Seohyun mengikutiku dan menarik kursinya ke sebelahku seperti biasa. “Sudah ya, jangan menangis lagi. Sekarang pasti dia sudah ditangani dokter.” Ujar Seohyun-ssi sambil mengusap punggungku. “Tapi dia terluka karena aku, Seonhyun-ssi!” ujarku sambil menatapnya dan kembali menutup wajahku dengan kedua telapak tangan.

Min-ssi menghampiri kami. “Waeyo?” tanyanya. Belum sempat Seohyun-ssi menjawab pertanyaannya, seorang namja masuk dan langsung berteriak “CHOI SIWON-SSI TERLUKA!! SEKARANG SEDANG DIBAWA KE RUMAH SAKIT!!” seketika itu juga, air mataku kembali terjatuh. “Eotteoke?” tanyaku pada Seohyun-ssi. “Ah? Apa ini semua karena… Siwon-ssi?” tanya Min yang kemudian menarik bangkunya ke sebelah kami. Aku mengangguk kecil.

~~~~~

“Eomma, aku ijin pulang terlambat hari ini. Aku mau menjenguk temanku yang sakit. Boleh ya?” tanyaku pada Eomma di telepon. “Nugu?” tanya Eomma. “Em… Siwon-ssi.” Jawabku. “Namja? Tidak biasanya. Kenapa dengannya?” tanya Eomma. “Nanti saja, aku ceritakan di rumah. Boleh kan aku menjenguknya?” tanyaku lagi. “Ne. Jangan pulang terlalu malam. Ingat besok kau masih harus sekolah. Hati-hati.” Jawab Eomma. “Arasseo.” Ujarku. Eomma kemudian memutus sambungan.

Aku berjalan ke loker dan segera mengganti pakaianku dengan pakaian bebas yang aku simpan di loker. Tak lupa aku memakai mantel kesayanganku dan segera berangkat ke rumah sakit. “Mau kemana?” tanya HyukJae-ssi ketika kami bertemu di halte sekolah. “Ng? Mau ke rumah sakit.” Jawabku. “Mau kuantar?” tanya HyukJae-ssi. Bagaimana ini? Sikapnya barusan membuatku sedikit berdebar. Tapi tak apa juga menerima tawarannya, kan aku bisa diantar pulang .__.

“Boleh.” Jawabku. “Naiklah.” Ujarnya sambil memberi tanda untuk naik ke motornya. Setelah memakai helm, kami langsung tancap gas ke rumah sakit. Mengunjungi Siwon-ssi.

~~~~~

“Annyeong~” sapaku pelan. Kulihat tidak ada siapa-siapa di sana. Perban di kepalanya membuatku ingin menangis lagi. Kulihat wajah tampan itu menoleh ke arahku. “Annyeong, Siwon-ssi. Maaf menganggu istirahatmu.” Ujarku sembari melangkahkan kaki mendekati kasur pasiennya. “Ne.” jawabnya singkat. Kutolehkan kepalaku. HyukJae-ssi tidak ada, mungkin menunggu di luar.

“Mianhae, Siwon-ssi. Karena aku—“ “Kalau kau kesini hanya untuk meminta maaf dan menyesal tentang apa yang terjadi siang tadi, sebaiknya kau pulang. Kau hanya mengangguku.” Ujarnya. Aku semakin merasa bersalah. Apa dia marah padaku? “Ta-tapi aku—“ “Kalau kau terus begitu, sebaiknya pulang sekarang.” Kata Siwon-ssi lagi, seakan mengingatkanku pada ucapannya beberapa saat lalu.

“Arasseo. Gomawo, Siwon-ssi.” Ujarku. Dia menatap wajahku lekat-lekat. “Untuk apa?” tanyanya sinis. “Karena sudah menyelamatkan aku. Kau melarangku meminta maaf. Jadi aku berterima kasih padamu.” Ujarku. “Cih~! Kalau hanya itu yang ingin kau katakan, pulanglah sekarang. Sudah hampir jam enam.” Ujarnya. “Ne. Kalau begitu, terima ini ya. Sebagai ucapan terima kasihku.” aku memberikan gelang kesayanganku padanya.

“Untuk apa?” tanya Siwon-ssi dingin. “Appa memberikan itu padaku ketika aku berusia enam tahun. Itu sangat berharga untukku, jadi tolong jaga baik-baik ya.” Ujarku. “Kalau berharga, kenapa diberikan?” tanya Siwon-ssi. Aku diam. “Tidak tahu. Yang jelas, aku rasa kau pantas memilikinya. Jaga dia dengan baik ya, seperti aku menjaga gelang itu dengan baik.” Ujarku. Dia hanya memandang gelang itu. “Kalau begitu, sampai jumpa di sekolah. Cepat sembuh ya. Annyeong!” aku membungkuk dan pergi.

——————————————– to be continue —————————————————–

gimana? jelek ya? haduuuuh maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaf *bow*

tolong di comment ya, biar bisa diperbaiki untuk part 3 dan selanjutnya :)))

gomawo yang udah baca, no silent readers yaaa🙂

kamsahamnida…. sampai jumpa di part selanjutnyaaaa😉