Annyeong, akhirnya part 3 selesai dibuat. maaf ya kalau kependekan dan agak aneh -___- abisnya, lagi buntu lagi. mudah2an part 4 nya sukses dibuat ya… doakan yang terbaik bagi saya dan ff gaje ini🙂 gomawo. happy reading *trilingual*
——————

Cast:

– Shin Hee Yeon     – Lee HyukJae

– Cho Kyuhyun     – Choi Siwon

[seperti biasa] beberapa peran pembantu

————————————————–

Akhirnya, setelah seminggu aku terus belajar dengan Kyuhyun-ssi, hari yang paling aku tunggu tiba. Olimpiade Matematika itu akan kuhadapi hari ini. Kyuhyun-ssi dan guru Matematika kami, Park Seonsaengnim, ikut menemaniku, memberi dukungan. “Hee Yeon-ah, ada yang mencarimu!” teriak Eomma dari bawah. He? Siapa pagi-pagi begini sudah datang? Tidak tahu, apa aku mau olimpiade? Hehehe… Langsung saja aku yang sudah rapi dengan seragam sekolah, tidak lupa menyambar tasku dan turun.

“Nugu?” tanyaku sambil meneguk susu yang sudah disediakan Eomma di meja makan. “Molla. Namja.” Jawab Eomma. Ng? Namja? Siapa lagi sih? *berasa ikutan eksis di sekolah* “Dia ada di ruang tamu.” Ujar Eomma. Aku segera berjalan ke ruang tamu. Kulihat namja itu sedang duduk dengan tenang, memperhatikan setiap foto keluargaku. “Tunggu sebentar ya, Kyuhyun-ssi. Apa kau sudah sarapan?” tanyaku, yang sepertinya membuatnya kaget.

Dia menoleh padaku dalam waktu sepersekian detik. “Ah, aku sudah sarapan. Baiklah aku tunggu.” Jawabnya. Datar. Suaranya terdengar datar. Wajah malaikatnya itu sudah kembali memperhatikan foto keluargaku lagi. Segera saja aku berbalik dan melahap sarapanku. “Nugu?” kali ini Eomma yang bertanya. “Memang dia tidak memperkenalkan diri tadi?” tanyaku. “Appa yang menemuinya.” Ujar Eomma. “Ng? Oh…” ujarku.

“Eomma, doakan aku ya. Sampai jumpa.” Aku mengecup pipi Eomma dan berangkat. “Kaja!” seruku. Kyuhyun-ssi lagi-lagi terkejut. Ia melihatku. “Waeyo?” tanyaku. Ekspresinya tetap sama. Dingin, datar. Kami berjalan keluar rumahku. “Naik mobilku saja ya. Katanya Park Seonsaengnim akan langsung menyusul ke tempat olimpiadenya.” Ujar Kyuhyun-ssi datar. Kenapa dengannya. Aku hanya mengangguk.

Dia membukakan pintu mobil untukku. “Gomawo.” Ujarku pelan. Dia tidak mengindahkannya dan langsung memutari mobilnya. Dia melirik sekilas ke arahku yang sedang memandang ke luar jendela. Tidak lama kemudian, dia sudah melajukan mobilnya perlahan. Kami sama-sama diam. Aku tidak mau memulai pembicaraan karena sikapnya yang dingin itu.

~~~~~

“Semoga berhasil.” Ujar Kyuhyun-ssi padaku, memberi semangat. Tapi suaranya saja tidak terdengar semangat, bagaimana bisa membuat orang lain semangat? “Ne.” sahutku lalu masuk ke dalam ruangan test-ku. Aku duduk di tempat yang sudah di sediakan dan melihat ke sekitar. Kulihat anak-anak yang mengikuti olimpiade. Mereka sedang asik bercanda dengan beberapa teman, sedangkan yang lain, yang tidak bercanda, sedang asik belajar. Kenapa aku cuma sendiri dan tidak tahu harus apa? Tega sekali. Ah biarlah. Yang penting aku harus memberikan yang terbaik!

KRIIING! Bel berbunyi dan seorang guru masuk. “Annyeong, Go Seonsaengnim iminda.” Ujar seonsaengnim itu lalu tidak lama setelahnya ia mengedarkan soal dan lembar jawabannya.

~~~~~~

“Lelah ya?” tanya Kyuhyun-ssi padaku setelah olimpiade itu berakhir. Aku mengangguk kecil. “Dimana Park Seonsaengnim?” tanyaku pelan. Aku sudah tidak bersemangat sejak selesai tes tadi. “Sudah kembali ke sekolah. Kau kenal Kim Taeyeon-ssi?” tanya Kyuhyun-ssi. Aish~ untuk apa namja ini membicarakan yeoja yang sangat menyebalkan itu? “Ne. Waeyo?” ujarku yang sedetik kemudian mengalihkan pandangan ke luar jendela seperti pagi tadi. “Jangan dekat-dekat dia lagi ya.” Ujar Kyuhyun-ssi. Aku langsung menoleh ke arahnya. “Waeyo?” tanyaku. “Jangan dekat-dekat saja.” Jelasnya yang tidak membuatku mengerti. Aku kembali melihat ke luar jendela. “Jelas aku tidak pernah mendekatinya.” Gumamku.

“Kyuhyun-ssi, kenapa kau dingin sekali hari ini?” tanyaku akhirnya. “Tidak apa-apa.” Jawabnya sambil terus memandang ke jalan. Aku mulai kesal. “Bisa tidak kau menepi sebentar?” tanyaku. “Waeyo?” tanya Kyuhyun-ssi. “Menepi saja dulu.” Ujarku. Akhirnya dia menepi. “Waeyo?” tanya namja itu lagi. “Sebenarnya kau kenapa sih?” tanyaku. “Hanya itu?” tanya dia. Kakinya hendak menginjak gas.

Aku memegang tangannya, tiba-tiba. “Tunggu~” ujarku. Aku menunduk, menutupi wajahku yang memerah karena malu. Dia mengurungkan niatnya melajukan mobil. “Jelaskan padaku ada apa? Aku tidak mengerti.” Ujarku seraya mendongak, menatap wajahnya.

~~~~~

[Kyuhyun’s POV]

Yeoja ini! Tidak tahu ya kalau aku sedang cemburu? Kenapa masih tanya juga sih? Tiba-tiba saja, tangan lelahnya itu memegang tanganku. “Tunggu~” katanya. Aku melihatnya menatapku. Kulihat di kedua pelupuk matanya, sepertinya air matanya akan segera tumpah. “Kamu kenapa, Kyuhyun-ssi?? Aku bingung~” ujarnya. Akhirnya aku melihat air mata itu meleleh, membasahi kedua pipinya. Aku hanya menatapnya.

“Apa aku mengerikan?” tanyaku. Dia terdiam. Kulihat senyum tipis menghias wajahnya. “YA! Bisa tidak kau tidak bertanya begitu?” ujarnya sambil memukul lenganku. “Asssh!” aku mengusap lenganku yang sakit. “Kau bertanya begitu, dengan wajahmu yang begitu! Bagaimana bisa kujawab?!” ujarnya. “Mianhae.” Ujarku. Akhirnya kulajukan mobilku.

“Kyuhyun-ssi, sebenarnya kau kenapa? Kenapa tidak jawab pertanyaanku?” tanya yeoja yang kini terus memandangku lekat-lekat. “Gwenchanayo. Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan HyukJae-ssi?” tanyaku. “Mwo? Hubungan apa?” tanya Hee Yeon. Aku hanya diam. “Kyuhyun-ssi, kan aku sudah bilang padamu, aku dan HyukJae-ssi tidak ada hubungan apa-apa. Kami hanya teman. Kalau itu yang membuatmu jadi dingin begini padaku, apa itu namanya kau cemburu?” tanya Hee Yeon.

“Kurasa.” Ujarku. Dia hanya diam. “Wae?” tanya Hee Yeon. “Wae? Maksudmu?” aku tidak mengerti. “Kenapa kau cemburu? Sebegitu sukanya kau padaku?” tanya Hee Yeon, datar. “Perlu kau tahu, ya Hee Yeon-ah. Aku tidak pernah mencintai seorang yeoja seperti aku mencintaimu.” Ujarku. Dia memalingkan wajahnya. “Aku belum pernah berhubungan dengan namja sebelumnya.” Kata-katanya barusan membuatku terkejut setengah mati!

“Ba-bagaimana bisa? Usiamu sudah tujuh belas, dan belum pernah berpacaran?” aku benar-benar terkejut. “Ne. Makanya itu… Ketika kau menciumku… Aku bingung harus bagaimana.” Ujarnya. “Mianhaeyo, Hee Yeon-ah.” Ujarku. “Tapi… Apa kau belum juga menemukan jawabannya? Apa kau mau menerimaku?” tanyaku. “Mianhae, Kyuhyun-ssi. Aku bingung….” Jawab yeoja itu. Apa yang membuatnya bingung? Apa dia mencintai HyukJae-ssi?

[Author POV]

“Apa kau keberatan kalau kita makan siang dulu?” tanya Kyuhyun sambil melirik jam tangannya. Sebenarnya kalau mereka makan saat ini, sudah bukan waktunya makan siang karena jam tangan namja itu sudah menunjukkan hampir jam tiga. “Ah, baiklah.” Jawab Hee Yeon seraya mengangguk setuju. “Kau mau makan dimana?” tanya Kyuhyun. “Terserah kamu.” ujar yeoja itu sambil mengeluarkan HP-nya dari tas. Dilihatnya sudah ada lima missed call dan tiga pesan masuk.

Yeoja itu mengecek siapa yang menghubungi dan mengirim pesan padanya. Semua dari HyukJae-ssi. Dibacanya pesan singkat itu satu persatu. Hee Yeon-ah, semoga berhasil. Lalu dilanjutkannya ke pesan ke dua. Bagaimana tesmu hari ini? Sukses? Hee Yeon hanya tersenyum, tanpa membalas pesan itu dan melanjutkan ke pesan ke tiga. Hee Yeon-ah, apa kau sudah makan? Kalau belum, makanlah. Jaga kesehatanmu. Oh ya, kenapa tidak angkat teleponku? Aku mengkhawatirkanmu. Sampai jumpa di sekolah.

Hee Yeon mendesah sekali, membuat namja di sebelahnya menoleh. “Waeyo?” tanya Kyuhyun. “Ah? Anio. Gwenchana.” Hee Yeon tersenyum dan kemudian menekan tombol ‘reply’ di HP-nya. Mianhaeyo, HyukJae-ssi. Tes baru saja selesai. Aku bisa melewatinya. Doakan agar aku menang ya. Aku dan Kyuhyun-ssi baru saja mau pergi makan. Aku baru membuka HP-ku, dan menyadari lima missed call darimu. Maaf ya, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir. Lalu setelah yakin dengan isi pesannya, ditekannya tombol ‘send’. Lagi-lagi yeoja itu mendesah. “Waeyo?” tanya Kyuhyun sambil lagi-lagi menoleh.

“Gwenchana. Hanya mendesah. Apa itu mengganggumu? Maaf.” Hee Yeon mengalihkan wajahnya ke jendela. BUUZZZ!! HP Hee Yeon bergetar sekali. Yeoja itu membuka pesan singkat yang diterimanya. Ah, begitu ya. Tentu saja aku akan mendoakanmu. ^^ selamat makan siang, Hee Yeon-ah. Tanpa disadari yeoja itu, ternyata senyum manis mengembang di bibir yeoja itu, menghias wajah cantiknya. “Siapa sih? HyukJae-ssi??” batin Kyuhyun dalam hati ketika melihat senyum merekah di wajah cantik yeoja itu.

“Kita makan disini saja ya?” tanya Kyuhyun pada Hee Yeon sambil menunjuk sebuah restaurant. “Kyuhyun-ssi, makanan disini mahal. Lebih baik disana.” Hee Yeon menunjuk restaurant yang ukurannya lebih kecil di seberang restaurant yang dimaksud Kyuhyun. “Ah, tidak apa. Aku yang traktir. Yaaa… Sebagai bayaran atas kerja kerasmu.” Ujar Kyuhyun. “Anio.” Hee Yeon menggeleng mantap. “Sudahlah, jangan membantah!!” Kyuhyun berteriak lantang, membuat yeoja itu terdiam. Takut membalas bantahan namja di sebelahnya ini yang akhirnya memarkirkan mobilnya di restaurant yang dipilih Kyuhyun.

—————————————– to be continue ————————————————————-

gimana gimana? hehehhehe ^^ semoga kalian suka yaaaa🙂 maaf kalau ada salah-salah typing nyaaa. jangan lupa comment dan baca ff nya terus yaa :p gomawo… doakan saya agar terus berkarya dalam bidang per fanfic-an. ok? ^^o
sampai jumpa di part 4 ya readers😀