Annyeong ^^ saya sengaja nge-post par 4 nya sekarang, jadi besok bisa melanjutkan ke part 5 nya🙂 oh ya, saya blm tau mau bikin ini jadi berapa part, jadi…. yang bersedia menjadi pembaca setia saya [#eh] saya sangat berterima kasih… *bow* oh ya, Happy Reading untuk part 4 One Yeoja, Three Namja :))
————————————

Cast:

– Shin Hee Yeon       – Lee HyukJae          – lagi-lagi, ada peran pembantu *)

– Choi Siwon               – Cho Kyuhyun

*) ingat, sebuah film tidak akan sukses tanpa adanya peran pembantu a.k.a figuran (?)

—————————

[Hee Yeon POV]

“Kau mau pesan apa?” tanya Kyuhyun-ssi melihat padaku. Wajahnya terlihat sangat polos. Matanya yang cukup besar dan selalu bersinar setiap saat, membuatku terpaku. “Hee Yeon-ah, mau pesan apa?” tanya Kyuhyun-ssi lagi. “Ah, nado.” Ujarku kaku. “Baiklah. Dua jajangmyun dan dua yujacha.” Ujar Kyuhyun-ssi pada pelayan yang saat ini sedang mencatat pesanan kami.

Selama menunggu makanan datang, aku hanya diam. Oh ya, bagaimana ya kabarnya Siwon-ssi? Apa dia sudah keluar dari rumah sakit? I belum mengunjunginya lagi. Ah, lagi pula kenapa dia bisa di sana ya saat itu? Pikiranku terus melayang hingga akhirnya aku menyadari namja di depanku ini sedang memperhatikanku. “Waeyo?” tanyaku. Kyuhyun-ssi tidak terlihat kaget, malah tersenyum. Senyum yang sangat menawan. Bibirnya terus tersenyum padaku, hingga aku bingung.

“Waeyo?” tanyaku lagi, ketus. “Kalau kau diam begitu, kau terlihat cantik ya.” Ujarnya. I merasakan pipiku memanas. Segera saja kedua tanganku memegang dua sisi pipiku. “YA! Kau membuatku malu tahu!” ujarku. “Akui saja, aku tampan kan?” ujar Kyuhyun-ssi. “Kau kenapa sih? Aneh!” ujarku, sinis sambil mengalihkan pandanganku ea rahan kecil di sisi restaurant. “Hee Yeon-ah, congmal saranghae.” Ujar namja itu, membuatku menoleh ke arahnya.

“I tahu kok. Kamu sudah mengucapkan itu ribuan kali. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Lagi pula, Appa pasti marah kalau aku punya namjachingu.” Ujarku. “Waeyo?” tanya Kyuhyun-ssi. “Ah, kau ini. Appa itu orangnya keras. Sekali tidak, tetap tidak. Beliau saja sempat berpikir, kalau aku mau jadi pacarmu ketika aku ingin bilang aku mau ikut olimpiade.” Ujarku. “Ah begitu ya… Lalu kudengar, HyukJae-ssi menyatakan cintanya padamu. Apa kau juga menolaknya?” tanya Kyuhyun-ssi. I hanya menangguk.

“Hhhh… Susah sekali menjadi pacarmu ya?!” ujarnya frustasi. I tidak menjawab. Mianhae, Kyuhyun-ssi. Habis mau bagaimana lagi? I bingung. Sepertinya aku sedang jatuh cinta pada dua namja sekaligus. Mana mungkin aku berkencan denganmu, sementara tiap aku bersamamu, aku sering memikirkan HyukJae-ssi. Dan mana mungkin aku berkencan dengan namja itu, kalau saat aku bersamanya, yang aku pikirkan adalah kau? Mana bisa….

~~~~~

Dua minggu kemudian.

“Shin Hee Yeon-ssi!” aku berhenti melangkahkan kakiku masuk ke dalam kelas, ketika seseorang memanggilku. Min-ssi. Mau apa dia? “Ne?” sahutku dingin. “Ah, kau ini. I minta maaf selama ini sering sinis. Oh ya, kudengar kau berhasil meraih medali perak ya olimpiade kemarin?” tanyanya sambil menggandengku masuk kelas. “Ne. Wae?” tanyaku. “Chukkhae!” teriaknya sambil memberiku sekotak hadiah. “Apa ini?” tanyaku. “Hadiah untukmu.” Ujarnya.

“Untuk apa? I tidak berulang tahun kok.” Ujarku seraya melangkah ke kursiku. Dia mengikutiku dengan kotak hadiah itu di tangannya. “Sebagai hadiah persahabatan dan hadiah karena kau sudah mendapatkan medali perak.” Ujarnya sambil tersenyum. Kulihat senyum tulus di wajahnya dan sepertinya dia tidak bohong. “Gomawo.” I berdiri dan memeluknya dengan hangat. “Ah, ne!” dia menyambut pelukanku.

“Boleh aku buka?” tanyaku. Dia mengangguk senang. Kubuka bungkus itu perlahan. Sebuah syal berwarna putih, dengan topi hangatnya. “Gomawo, Min-ssi!!” ujarku sambil memeluknya lagi. “Ah kalian disini!!” Taeyeon-ssi berlari menghampiri kami. “Waeyo?” tanyaku. “Ah ini. Datang ya!” Taeyeon-ssi memberi kami sebuah undangan. “Ini…. Apa?” tanyaku dan Min-ssi hampir bersamaan. “Pesta dansa sekolah. Datang ya. Jangan lupa kalian bawa pasangan!” ujarnya.

Ah, hampir lupa! Dia kan Ketua Modern Dance, pantas saja kalau ada pesta dansa. “I tidka berminat.” Ujar Min-ssi sambil mengembalikan undangan itu. “Datanglah, temani aku.” Ujar Donghae-ssi. I, Taeyeon-ssi, dan Min-ssi terkejut melihat kedatangan namja itu yang tiba-tiba. “Mau apa sih kau?” tanya Min-ssi. “Ayolah, datang. Temani aku.” Bujuk Donghae-ssi. “Sudah ya, pergi dulu!” Taeyeon-ssi kembali memberikan undangan Min-ssi pada yeoja itu dan berlalu. I hanya duduk di kursiku sambil diam memandang undangan di tanganku.

~~~~~

“Kau akan pergi dengan siapa?” tanya Kyuhyun-ssi malam itu, dari ball room kamarnya. I hanya angkat bahu, tanda tak tahu. “Kau akan datang kan?” tanyaku. “Tidak. Untuk apa? Bersenang-senang? Cih~ buang-buang waktu.” Ujar namja itu sambil berkacak pinggang. “Kau ini. Jangan terus-terusan belajar. Nanti kau botak!” ujarku sembarangan. “Lebih baik bermain game daripada hura-hura tidak jelas begitu!” ujarnya.

“Dasar! Selalu game. Kau selalu menomor satukan game itu ya?” tanyaku. “I game maniac. Hati-hati pada GameKyu.” Ujarnya. I tertawa terbahak-bahak. Belum pernah kulihat namja ini berucap seperti itu di sekolah. Wajahnya terlihat polos, tanpa dosa.

[Jagiya manhi muhguh~ Uga! Uga!] kudengar HP-ku berdering, tanda panggilan masuk. Kuambil HP-ku dari saku celana jeans-ku dan kulihat layar HP-ku sebelum menjawab telepon. HyukJae-ssi. “Yeoboseyo?” ujarku sembari berdiri menuju tepi ball room. Kusandarkan tanganku pada pagar ball room. “Hee Yeon-ah…”

“Mau pergi denganku?” tanyanya. I melirik sekilas ea rah Kyuhyun-ssi yang sedang asik bermain dengan PSP-nya. “Pesta dansa itu ya…” aku menegakkan tubuhku. “Ne. Apa kau sudah ada teman?” tanya HyukJae-ssi. “Belum ada yang mengajakku.” Ujarku. Hatiku terasa berbunga-bunga saat ini. “Ah, baguslah kalau begitu. Mau pergi denganku?” tanya HyukJae-ssi. “Tentu.” Jawabku, pasti. “Gomawo, Hee Yeon-ah. Besok kujemput jam 7 ya.” Ujarnya. “Ne. Sampai jumpa besok.” Ujarku lalu menutup telepon.

Ketika aku berbalik, kulihat Kyuhyun-ssi sudah tidak ada di ball room-nya. Senyumku seketika menghilang. Apa kau marah, Kyuhyun-ssi?

~~~~~

Besoknya, seperti yang dijanjikannya, dia menjemputku jam 7 di rumahku. “Eomma, Appa. I berangkat ya.” Ujarku. Kedua orang tuaku menangguk dan aku pergi. I memakai mantel putihku untuk menutupi gaun yang aku pakai. “Kaja.” Ujarku. Namja yang sedari tadi berdiri memunggungiku, berbalik dan tersenyum. Kugandeng tangan namja itu.

Dalam waktu singkat, kami sudah sampai di tempat tujuan. Dan seperti biasanya, lagi-lagi aku memikirkan Kyuhyun-ssi. “Ah, kenapa sih?!?!” batinku kesal. Sepertinya HyukJae-ssi menyadari perubahan mood-ku dan bertanya padaku, “Ada apa?” “Ng? Gwenchanayo.” I tersenyum dan melepaskan mantelku. Kuberikan pada seseorang di pintu masuk, yang segera menyimpan mantelku dengan rapi.

HyukJae-ssi memegang pinggangku. I merasa canggung dan lagi-lagi, jantungku berdebar karenanya. “Kenapa tadi pakai mantel?” bisiknya lembut sambil membawaku ke tengah ruangan. “Kau pikir aku tidak malu apa?” bisikku padanya. Kami mulai menari dengan riang karena lagu yang diputar sedikit nge-beat.

Sejam kemudian, aku mulai merasa lelah. “HyukJae-ssi, aku duduk di sana ya. Lelah.” Ujarku sambil menunjuk sofa panjang berwarna hitam di sudut ruangan. “I temani ya.” Ujarnya, sembari menahan tanganku. “Tidak usah. Bersenang-senanglah.” Ujarku sambil melepas tangannya dengan lembut. I melangkahkan kakiku ke sofa itu dan….

“Kau sudah sembuh?” tanyaku pada namja yang sedang duduk sendiri di sofa itu. Di tangannya ada segelas minuman soda. Namja ini terlihat semakin gagah saja, dengan balutan jas hitam dan dasi yang menghias kemejanya. Siwon-ssi menoleh ke arahku. “Ne. Mungkin karena gelang pemberianmu itu.” ujarnya. Tak kutemukan sisi dingin dirinya, yang biasa ditunjukkannya di sekolah.

“Hehe, bisa saja. Oh ya, kau sendirian?” tanyaku, masih berdiri di hadapan namja yang masih duduk itu. “Ne.” ujarnya. Akhirnya aku berjalan dan duduk di sebelahnya. “Siwon-ssi,” aku menghela napas sekali dan namja itu memandang ke arahku. “Kenapa kau disana?” tanyaku. Kulihat ekspresi bingung di wajah tampannya. Aish~ kenapa ketika terlihat bingung, wajahnya imut sekali >,<

“Disana? Dimana?” dia malah balik bertanya padaku. “Ketika pot itu—“ “Jangan bahas lagi ya. Tidak penting bagaimana aku bisa disana. Yang penting kau selamat dan baik-baik saja.” Ujarnya sambil tersenyum manis. Manis. Sangat manis hingga membuat jantungku berdebar kencang. Aah, aigo~ bagaimana ini? Kenapa tampan sekali dia??? Jas hitamnya, dasinya, kemejanya, dan terlebih… senyum yang langsung menunjukkan lesung pipinya itu!! OMO~

“Kau mau minum?” tanya Siwon-ssi. I tidak bisa menjawab, karena sepertinya aku sudah terhipnotis dengan wajah tampannya. “Hee Yeon-ssi, kau baik-baik saja kan?” tanya Siwon-ssi. I tersadar sedetik hanya untuk mengangguk. “Baiklah. Tunggu sini ya.” Dia berdiri dan hilang di kerumunan orang-orang.

AAAAA!!! Hatiku terus menjerit-jerit melihat wajahnya. Oh My God! What should I do?? Kutolehkan kepalaku dan melihat HyukJae-ssi sedang berbincang-bincang dengan Seohyun-ssi yang sepertinya datang sendiri. Melihat senyum HyukJae-ssi, membuat jantungku semakin berdebar. Lalu teringat kembali kejadian memalukan itu. Ketika Kyuhyun-ssi mendapatiku sedang memperhatikannya. Wajahnya!! Oh Tuhan, kenapa jadi begini??? -_____-‘

————————– to be continue ————————-

akhirnya, part 4 selesai dibuat. yang udah baca, terima kasih yang sebanyak-banyaknya yaaaaa *bow*
jangan lupa comment-nya ok?? hehehehe
no silent readers, please~~
gomawo…. doakan saya supaya bisa terus berkarua, ok??? ^^
 
sampai jumpa di part 5🙂
Three Namja~

HyukJae, Kyuhyun, Siwon