ANNYEONG🙂 AKHIRNYA, HANYA TINGGAL SELANGKAH MENUJU AKHIR CERITA ONE YEOJA THREE NAMJA 🙂 apa kalian terus baca setiap part nya? saya harap begitu ^^ oh ya, baca part ini juga ya, biar tahu akhirnya🙂 walaupun FF ini gaje, saya harap kalian senang dengan ke-tidak-jelas-an FF ini ._. hehehehe

——————————-

#CHAPTER 10

Hee Yeon mulai bisa mengingat 65% memorinya yang hilang selama ia koma dua tahun. Dan ini sudah bulan ke 10-nya sejak ia keluar dari rumah sakit. “Kyuhyun-ah, aku ingin ke kampusmu. Boleh?” tanya Hee Yeon di telepon. “Andwe. Sebentar lagi aku pulang. Kau tunggu saja di rumah. Memang kenapa?” tanya Kyuhyun sambil menyalakan mobilnya. “Begitu ya? Padahal aku ingin sekali melihat kampusmu. Apa bagus?” tanya Hee Yeon. “Tentu saja. Kapan-kapan akan kuajak kamu ke kampusmu.” Kyuhyun tersenyum kecil menjawab pertanyaan Hee Yeon yang seperti anak-anak.

“Baiklah. Kyuhyun-ah, kapan aku akan bertemu dua temanku yang lain itu? Aku ingin tahu wajah mereka.” Ujar Hee Yeon tiba-tiba. Kyuhyun mendesah pelan, sembari berharap Hee Yeon tidak mendengar desahannya. “Akan aku usahakan secepatnya. Ok? Aku akan segera pulang. Kau mau kubelikan makan malam?” tanya Kyuhyun. “Ne. Belikan aku jajangmyun ya.” Jawab Hee Yeon. “Baiklah. Sudah dulu ya. Sampai jumpa nanti malam.” Kyuhyun menyudahi teleponnya. Segera dipacunya mobil miliknya menuju restaurant tempat jajangmyun terenak dijual.

~~~~~

“Enak sekali Kyu. Dimana kau beli? Ajak aku kesana ya!” Hee Yeon melahap jajangmyunnya di ruang makan. Kyuhyun hanya tersenyum melihat tingkah Hee Yeon. “Dimana Appa dan Eomma-mu, Hee Yeon-ah?” tanya Kyuhyun sambil menyapu pandangannya. “Sedang pergi. Katanya mau ke rumah Shin Dong Oppa.” jawab Hee Yeon. “Lalu kau sendiri?” tanya Kyuhyun. Hee Yeon hanya mengangguk. “Tadinya Eomma tidak mau ikut, khawatir aku kenapa-kenapa. Tapi aku bilang saja, kamu akan segera datang. Jadi Eomma ikut Appa.” Jawab Hee Yeon.

“Begitu ya? Kalau aku tidak datang bagaimana?” tanya Kyuhyun. “Aku akan tetap bilang begitu. Aku tidak mau Eomma dan Appa mencemaskanku berlarut-larut. Lagi pula, orang tuamu juga ada di rumah kan? Aku bisa ke rumahmu kapan saja.” Jawab Hee Yeon sambil tersenyum simpul. Senyum yang selama ini dirindukan Kyuhyun. Senyum yang sudah lama tidak dilihatnya.

“Hee Yeon-ah…” Kyuhyun memandang yeoja itu dalam-dalam. Membuat jantung Hee Yeon berdegup kencang. “N-ne?” sahut Hee Yeon sambil menyingkirkan mangkuk jajangmyun di hadapannya. “Kita ke ball room-mu yuk?” ajak Kyuhyun. “Wae?” tanya Hee Yeon, bingung. “Disana banyak kenangan kita. Kita berdua. Hanya kita berdua. Nanti kalau kita sudah bertemu dengan HyukJae-ssi dan Siwon-ssi, aku akan meminta mereka mengajakmu ke tempat yang banyak kenangannya. Bagaimana? Mungkin bisa membantumu.” Jawab Kyuhyun. “Arasseo. Kaja!” Hee Yeon menarik tangan Kyuhyun bersemangat.

Mereka kini sudah duduk di kursi di ball room Hee Yeon. Mereka diam, hanya memandang ke sekeliling. “Memang tampak tidak asing. Tapi tidak ada yang kuingat. Apa yang membuatku lupa ingatan pun, aku tidak ingat.” Ujar Hee Yeon memecah keheningan. “Jangan dipaksakan. Nanti juga ingat kok.” Kyuhyun mengusap kepala Hee Yeon dengan lembut. Hee Yeon sangat menikmatinya. Ditangkapnya tangan namja itu dan dia meletakkan tangan Kyuhyun di pipinya.

“Kau sentuh pipiku saja ya…. Jangan pegang kepalaku lagi.” Ujar Hee Yeon. “Waeyo? Apa sakit? Maaf ya.” Kyuhyun terlihat panik. Hee Yeon menggeleng pelan. “Aku merasa lebih baik kalau kau sentuh pipiku. Tanganmu… hangat.” Ujar Hee Yeon. Selama mereka berdua, Hee Yeon tidak pernah seperti ini. Kyuhyun senang dengan Hee Yeon yang sekarang karena ia bisa bersama dengannya lama-lama, tanpa yeoja itu berusaha menghindar. Bahkan Kyuhyun sedikit bersyukur, karena yeoja ini tidak ingat pernah memintanya berhenti mencintainya.

Sudah pukul 12 malam sekarang. Kyuhyun menolehkan kepalanya dan melihat Hee Yeon sudah tidur. Sedari tadi, Hee Yeon bersandar di dada Kyuhyun sambil tertidur. Diangkatnya Hee Yeon perlahan dan di bawanya ke kamar yeoja itu. Direbahkannya tubuh kelelahan itu di kasurnya yang empuk. “Sleep well, Hee Yeon. I hope you can’t remember the last words that you ever said to me.” Ujar Kyuhyun sembari menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik Hee Yeon.

Kyuhyun melangkah ke ball room Hee Yeon. Tapi tidak lama kemudian, dirasakannya tangan seseorang melingkar di perutnya. Tubuh Kyuhyun sempat menegang, tapi ketika dilihatnya itu tangan Hee Yeon, ia merefleksikan tubuhnya. “Kenapa terbangun?” tanya Kyuhyun. Hee Yeon menempelkan pipinya di punggung tegap Kyuhyun. “Apa aku pernah mencintaimu Kyuhyun-ah?” tanya Hee Yeon. Kyuhyun hanya diam. Ia tidak mau terdengar terlalu PD di depan Hee Yeon. “Mungkin. Memang kenapa?” tanya Kyuhyun. “Anio. Aku hanya merasa nyaman kalau dekat denganmu. Kau itu… namja yang pintar ya?” tanya Hee Yeon.

“Eh?” Kyuhyun membalikkan badannya hingga kini mereka berhadapan. “Aku melihat di buku SMA-ku. Sepertinya kita lumayan dekat ya? Apa saja yang pernah kau lakukan untukku?” tanya Hee Yeon. “Kita pernah belajar bersama. Saat itu aku memintamu ikut olimpiade matematika.” Jawab Kyuhyun. “Jongmal? Waa!! Apa aku menang?” tanya Hee Yeon senang. “Lihat itu. Itu medali dan piala yang kau dapat.” Kyuhyun menunjuk sebuah piala dan medali yang tergantung dan tersimpan rapi di kamar Hee Yeon. “Ah arasseo. Kyuhyun-ah… Aku juga baca diary-ku beberapa hari lalu. Apa segitu cintanya aku pada kalian bertiga ya?” tanya Hee Yeon. “Mwo?” Kyuhyun terlihat bingung. Lebih tepatnya, pura-pura bingung.

“Ne. Aku menulis aku cinta kamu, Lee HyukJae. Tapi aku juga cinta kamu, Cho Kyuhyun. Dan tiba-tiba aku cinta Choi Siwon. Aku benar-benar penasaran dengan dua orang itu. Apa kau sudah hubungi…” BUZZ!! HP Hee Yeon bergetar sekali.

To: Hee Yeon

Hee Yeon-ah, apa kabar? Ingin segera berkunjung ke rumahmu – HyukJae

“Kyuhyun-ah, HyukJae mengirimiku sebuah pesan. Dia bilang ingin segera ke rumahku. Tapi ini kan sudah jam 12 lewat.” Ujar Hee Yeon. “Kalau begitu, mungkin besok. Sebaiknya tidur sekarang.” Ujar Kyuhyun. “Tapi aku ingin lebih banyak mengenang lagi.” Tolak Hee Yeon. “Besok saja.” Kyuhyun mendorong tubuh Hee Yeon masuk ke kamar. Tapi tangan yeoja itu tidak lepas dari tangannya.

“Temani aku sampai Appa dan Eomma pulang, ya.” Pinta Hee Yeon, manja. “Kenapa kau jadi manja begini Hee Yeon?” tanya Kyuhyun sambil mengikuti langkah Hee Yeon. “Molla.” Hee Yeon naik ke tempat tidurnya sedangkan Kyuhyun menghempaskan tubuhnya di sofa kecil di kamar Hee Yeon. “Ini!” Hee Yeon melemparkan bantal dan selimutnya pada Kyuhyun. “Mwo? Kau yang pakai selimut.” Kyuhyun menghampiri Hee Yeon dan menyelimuti yeoja itu. “Andwe. Kau kan menemaniku. Jadi kau yang pakai. Lagi pula tidak dingin kok.” Tolak Hee Yeon. “Kalau begitu, aku lebih kebal darimu.” Kyuhyun menekan selimut itu. Hee Yeon hanya cemberut.

~~~~~~

Pagi menjemput. Kyuhyun masih tertidur di sofa Hee Yeon ketika yeoja itu membuka matanya. Hee Yeon sperti sering melakukan ini, ia berjalan ke ball room-nya dan menarik napas disana. Menghirup udara pagi.

“Ada sesuatu di kepalamu.”

“Ha!? Mana?!” “Aah-aah-aah!!”

“Kau diam dulu.” CHU~~

Hee Yeon merasa tubuhnya tidak seimbang dan sebuah (halah) tangan menahan tubuhnya. “Gwenchanayo?” tanya Kyuhyun. “Ne…” napas Hee Yeon tersengal-sengal. Kyuhyun mengajak Hee Yeon duduk. “Waeyo? Ingat sesuatu?” tanya Kyuhyun. “Ne.” Hee Yeon mengangguk kaku. “Ingat apa?” tanya Kyuhyun, penasaran. “Saat kau menciumku.” Jawab Hee Yeon tanpa ragu. Kyuhyun terdiam. “Kau bohong ya saat itu padaku?” tanya Hee Yeon. “He?” Kyuhyun lagi-lagi pura-pura bingung. “Iya. Apa benar saat itu ada ‘sesuatu di kepalaku’?” tanya Hee Yeon, penasaran.

Kyuhyun merasakan wajahnya memerah. “Ya kan? Jujur saja… aku tidak marah kok. Lagi pula kau sudah mengambilnya dariku.” Ujar Hee Yeon, setengah memaksa. “Memang iya. Tapi perlu kau tahu…. Bibirmu itu terlalu menggodaku. Jadi begitu…” Kyuhyun mengusap kepalanya sendiri. Hee Yeon hanya mengangguk-angguk. “Ok… Gwenchana.” Hee Yeon tersenyum simpul lagi. Yang kesekian kalinya, sejak Hee Yeon siuman.

~~~~~

“Hee Yeon-ah, bagaimana kabarmu?” tanya HyukJae siang itu di sebuah kedai makan tempat HyukJae dan Hee Yeon janjian bertemu. “Baik.” Jawab Hee Yeon singkat. Dirinya merasa sedikit canggung dengan namja satu ini. “Aku dengar dari Kyuhyun…. kau….” HyukJae menggantungkan kata-katanya, enggan melanjutkan. “Ne. Maka itu, aku mau kita secepatnya bertemu. Bantu aku mengingat semuanya ya. Mau kan?” tanya Hee Yeon. “Tentu.” HyukJae tersenyum kecil. Apa pun akan kulakukan untuk membuatmu mengingatku, mengingat semuanya, Hee Yeon-ah.

Hee Yeon menyantap makan siangnya pelan-pelan, sambil berusaha mengingat kenangannya dengan HyukJae. “HyukJae-ah… Apa ada sahabat lain selain kau, Kyuhyun-ah, dan Siwon-ah yang perlu kuingat?” tanya Hee Yeon di sela-sela kegiatan makannya. “Em… Ada. Seohyun-ah dan Min-ah.” Jawabnya. “Siapa mereka? Aku mau bertemu.” Ujar Hee Yeon. “Sayang sekali. Seohyun-ah sekarang tinggal di Jepang, dan Min-ah sedang di Eropa.” Jawab HyukJae. Seketika wajah Hee Yeon berubah sedih. “Tenang saja. Nanti akan kuminta Siwon-ah membantumu keliling sekolah lama kita.” Ujar HyukJae sambil menepuk punggung tangan Hee Yeon dengan lembut.

~~~~~

“Kau… itukan gelangku.” Ujar Hee Yeon sembari menunjuk gelang perak yang digunakan Siwon di pergelangan tangannya. “Ne. Dulu, saat aku terkena pot karena menyelamatkanmu, kau memberiku ini. Sebagai ucapan terima kasih dan maaf.” Jawab Siwon sambil menunjukkan gelang itu. “Wah, ternyata… Aku pernah mencelakakanmu ya? Hahaha… Maaf ya.” Hee Yeon tersenyum kecil. “Gwenchana.” Siwon tersenyum padanya. Senyum yang sangat dikenal Hee Yeon. Senyum yang sangat disukainya. Senyum yang membuatnya bisa lumer kapan saja. Tapi semua rasa itu, sudah tidak dirasakan Hee Yeon lagi. Semua sudah berubah.

Setelah empat jam berkeliling sekolah, Hee Yeon mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Hanya sedikit kenangan tentang HyukJae yang setiap hari mengejarnya. Dan seorang namja yang cukup tampan saat itu, datang menghampirinya dengan HyukJae. Bukan Siwon dan bukan Kyuhyun. Siapa namja itu? Apa…. Dia juga berperan dalam ingatannya?

—————— to be continue, end part ————————

Terima kasih banyak ya yang udah setia baca, walaupun kalian silent readers tapi gak papa lah~ setidaknya ada yang baca. wkwkwkw… oke, siap-siap ke bagian akhir cerita ya😉