Annyeong haseyo🙂 selalu diawali dengan ‘Halo’ kan? hehehe… gimana part-part sebelumnya? ditunggu banget lho comments nya. hehehe🙂 oke, Happy Reading ya, jangan lupa comments

————

Apa ini yang dinamakan cinta? Tapi kenapa harus tiga namja sekaligus? Tidak bisakah rasa cinta itu datang satu persatu? Membiarkanku memilih yang terbaik.Hal yang paling kuinginkan saat ini adalah waktu berjalan dengan cepat agar aku cepat berpisah dari mereka semua. “Hhhh~” aku mendesah selagi menunggu Siwon-ssi kembali.

Kutolehkan wajahku ke arah namja itu menghilang tadi. Tidak lama kemudian, dia kembali membawa segelas minuman untukku. “Gomawo…” ujarku seraya meraih gelas yang disodorkannya padaku. “Ne.” dia tersenyum manis dan kembali duduk di sebelahku. Manis. Manis sekali. Ah, bertapa tampannya namja ini. Deg! Asshh! Haruskah aku merasakan debaran ini pada setiap namja? YA! Hee Yeon-ssi, jangan bersikap seperti ini. Biasa saja lah….

“Hee Yeon-ssi…” panggilnya. Aku menoleh. “Emm… Bagaimana…” dia terlihat bingung. “Emm… Apa kau suka dengan kelas akselerasimu?” tanyanya akhirnya. “Ne. Cukup menyenangkan.” Ujarku seraya meneguk minuman soda yang kemudian menggelitik tenggorokanku. “Ah, baguslah kalau begitu. Oh ya, selamat atas medali perak yang kau dapat tempo hari, ya.” Ujarnya sambil mengulurkan tangannya padaku. “Ng?” aku melihat tangannya yang masih terulur itu.

“Ah, ne. Gomawo.” Aku menjabat tangannya itu dengan malu-malu. Ah! Gelang itu. “Kau memakainya ya?” tanyaku setelah kami selesai berjabatan. Dia memandang tangan kanannya. “Ne.” dia mengangguk sembari menebarkan senyumnya padaku. Oh tidak! Senyum itu tepat mendarat di hatiku. Oh Tuhan, haruskah aku gila karena namja??

Ah ini semua salahku. Kenapa kubiarkan status single ku ini terus melekat padaku? Ah, babo!!

“S… Siwon-ssi…” panggilku. “Ne?” tanyanya. Kami tidak lagi berpandangan. Pandangan kami entah kemana. Aku jelas memandangi gelasku yang masih terisi minuman, dan sepertinya dia sibuk memainkan tangannya. “Aku…. Benar-benar ingin tahu kenapa waktu itu kau disana…” ujarku. “He? Di mana?” dia malah balik bertanya. “Di belakang sekolah. Saat kau menyelamatkan aku.” Jawabku. Aku sedikit takut dan ragu. Sepertinya dia enggan membicarakan hal itu lagi.

“Hanya kebetulan lewat.” Jawabnya. “Apa…. Appa-mu tidak marah? Aku minta maaf yang sebesar-besarnya.” Aku memutar-mutar jariku di mulut gelas. “Sudahlah. Yang sudah berlalu, biar saja berlalu. Seperti air menglair. Jangan diingat. Apalagi yang buruk.” Ujarnya. “Begitu ya… Maaf ya Siwon-ssi.” Ujarku. “Kau sudah mengatakan hal itu ribuan kali. Bisakah kau tidak mengucapkan kata itu lagi? Aku bosan mendengarnya.” Ujarnya dingin.

Aku benar-benar takut jadinya berbicara dengannya. “Emmm… Siwon-ssi, aku ke sana dulu ya.” Ujarku sambil menunjuk ke arah HyukJae-ssi yang sedari tadi duduk di kursi bar sambil meneguk minuman sodanya. “Kau datang bersamanya?” tanya Siwon-ssi. “Ne.” anggukku. Seketika wajahnya berubah semakin mengerikan, membuatku bergidik ngeri. “Cepat ke sana. Sebelum dia berpikir yang tidak-tidak.” Ujarnya sambil memalingkan wajahnya dariku.

“Untuk apa dia berpikir macam-macam?” tanyaku. “Aku tidak mau merusak reputasi baikku menjadi namja perebut yeojachingu. Sudah sana.” Usirnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Dia tidak akan berpikir macam-macam karena aku bukan siapa-siapanya.” Ujarku seraya berdiri meninggalkan namja yang kini menatapku heran. Aku berpapasan dengan Taeyeon-ssi yang menatapku tajam. Lagi-lagi tatapan itu! Kenapa sih dengan yeoja ini? Menyebalkan sekali!! BUGG! Dia menabrak ujung bahuku dengan bahunya. “Akh!!” aku memegang bahu kiriku yang ditabraknya. “Ups. Maaf! Sengaja!” ujarnya. Tatapannya tetap tidak berubah.

Kuabaikan ucapannya dan berjalan menuju namja yang sepertinya sudah menungguku. “Ah, HyukJae-ssi. Maaf ya meninggalkanmu terlalu lama.” Kataku sambil membungkuk minta maaf. “Tidak apa-apa.” Senyum yang tulus diberikannya untukku. Aku suka saat dia tersenyum padaku. Kulirik jam di pergelangan tanganku. Masih jam 8. Aku masih punya waktu tiga jam sebelum Appa bisa marah-marah padaku.

Alunan music seketika berubah menjadi mellow. Kutolehkan kepalaku ke belakang. Semua temanku sudah berdansa dengan pasangannya masing-masing. “Mau berdansa?” tanya HyukJae-ssi seraya mengulurkan tangannya mengajakku berdansa. Aku hanya mengangguk sembari mengambil uluran tangannya. Namja itu mengajakku ke tengah ruangan dan kami berdansa.

“HyukJae-ssi…” aku memandang wajah humorisnya yang sedari tadi terus menatap wajahku. “Apa…. Kau masih menyukaiku?” tanyaku ragu. “Hee Yeon-ah… Aku tidak pernah menyukaimu.” Ujarnya. Heh?! Apa-apaan sih namja ini? Semakin hari semakin aneh! Dasar namja aneh!! “Aku mencintaimu. Sampai kapan pun.” Jawabnya. Dadaku kembali berdebar. Bisakah jantungku berdetak dengan normal? Haruskah aku pergi ke dokter untuk memperbaiki detak jantungku???

“Begitu ya…” aku menundukkan kepalaku. Memperhatikan setiap langkah kecil yang kami buat bersama. “Apa kau… Mau memberiku kesempatan?” tanya HyukJae-ssi padaku. Aku benar-benar bingung sekarang. “HyukJae-ssi…. Maukah kau mengantarku pulang sekarang?” tanyaku. “Eh? Kenapa?” tanyanya bingung. “Aku… Sedikit pusing.” jawabku asal. “Ah jincha?! Baiklah kita pulang sekarang!” wajah humorisnya langsung menunjukkan kekhawatiran luar biasa.

“HyukJae-ssi tidak perlu sekhawatir itu. Aku hanya pusing sedikit.” Ujarku seraya meraih tangannya. Kaki yang terus melangkah menarikku keluar dari ruangan itu berhenti dan berbalik menghadapku. Aku kembali berdebar melihat tatapannya yang begitu dalam. “Tenanglah…” ujarku sambil tersenyum kecil. “Jincha?” tanyanya. Aku mengangguk pasti. “Baiklah.” Jawabnya.

~~~~~

“Gomawo, HyukJae-ssi sudah mengantarku.” Ujarku. Aku merasa lega sekarang karena tidak harus terus-terusan memikirkan Kyuhyun-ssi. Ya, seperti yang aku bilang sebelumnya. Setiap bersama HyukJae-ssi, yang aku pikirkan adalah Kyuhyun-ssi begitu juga sebaliknya. Dan hal yang aneh adalah, setiap bersama Siwon-ssi, aku merasa aman. Apa karena badan kekarnya? .__.

“Ne. Cepat sembuh ya. Jangan buat aku khawatir.” Namja itu lagi-lagi tersenyum hangat padaku. Senyum yang juga penuh kekhawatiran. “Ne. Mianhae…” aku membalas senyumnya. “Masuklah dan istirahat.” HyukJae-ssi mengacak rambutku dengan lembut, tanpa merusak model rambutku. “Ne.” aku menangguk.

Kubalikkan badanku dan membuka pintu mobilnya. “Tunggu!” dia menahan tanganku. Aku menoleh ke arahnya. “Waeyo?” tanyaku. Dia hanya diam. Aaasshh!! Bibirnya seksi sekali kalau dilihat lama-lama begini >///< Tuhan selamatkan aku!!!!! Tiba-tiba saja tangan namja ini menarikku dan…. CHUUU~~~

Lagi-lagi hal ini terjadi!!!! AAAAAAAAHH!!! Bunuh aku sekarang!!! Perlahan dia melepaskan bibirnya dari bibirku. Dadaku semakin berdebar sehingga aku takut, HyukJae-ssi bisa mendengarnya. “Mianhae.” Ucapnya cepat ketika melihat ekspresiku yang terkejut. Aku hanya diam. “Mianhae…” ujarnya lagi. Aku masih diam. Tidak percaya dengan apa yang kualami belakangan ini. Tuhan, bisakah kau telan aku sekarang? “Gw-gwen-gwenchana…” ujarku terbata.

~~~~~

[Kyuhyun POV]

Apa itu dia? Sudah pulang ya? Kenapa cepat sekali? Ini kan masih jam setengah 10 kurang. Pesta selesai jam 12 nanti. Ada apa ya? Apa dia sakit? Aku berdiri dan berjalan menuju tepi ball room-ku. Kulihat pintu mobil HyukJae-ssi terbuka sedikit, sepertinya yeoja ini akan segera keluar. Kutunggu sedetik… Dua detik… Tiga detik… “Kenapa tidak keluar juga?” gumamku.

YA! Ini sudah dua menit!! Kenapa tidak keluar sih? Apa jangan-jangan… Yeoja itu akhirnya keluar. Dengan kaku dia berjalan memasuki pekarangan rumahnya. Mobil HyukJae-ssi sudah kembali melaju. Aku hanya diam memperhatikan langkah gontai yeoja itu yang sekarang sudah masuk ke dalam rumahnya. Kutunggu yeoja itu keluar ke ball room-nya.

SREEEKK!! Benar dugaanku. Tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu, dia sudah berdiri di ball room-nya. “HyukJae-ssi menciumku.” Ujarnya pelan tapi bisa kudengar dan jelas membuatku hampir mati berdiri. Aku diam. Membatu. Membisu. Bisakah kau buat aku tuli, Tuhan? Bisa kau buat hatiku terbuat dari baja agar aku tidak merasakan rasa sakitku ini? Bisakah kau lakukan itu sekarang Tuhan? Saat ini…

Kulihat yeoja itu berjalan ke arahku. Dia berdiri menghadapku dari ball room-nya. “Waeyo?” ujarnya. Suaranya bergetar. “Kau kenapa?” tanyaku. “Kenapa aku… yang merasakan semua ini?” tanyanya. Aku tidak tahu dia bicara apa. “Kau kenapa?” tanyaku lagi. BRUUUK!! Dia langsung jatuh terduduk di ball room-nya. Di hadapanku. “Hee Yeon-ah!!” aku langsung melompat melewati pagar ball room-ku dan ball room-nya.

“Hee Yeon-ah!” aku memegang kedua bahunya. Kulihat air mata mengalir di pipinya. “Kau kenapa…?” tanyaku bingung. “Kenapa aku harus menyukai kalian semua???!” tanyanya dengan suara keras, tapi tetap menunduk. Dia tidak memandangku. “Maksudmu apa? Siapa yang kau masksud dengan ‘kalian’?” tanyaku.

Dia menanggis sesenggukkan. “Jangan menangis…” aku tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Kutarik yeoja itu perlahan, ke dalam dekapanku. “Berhenti menangis… Aku tidak sanggup melihatmu begitu.” Aku mengelus punggungnya. “Bisakah kau berhenti mencintaiku, Kyuhyun-ssi?” tanya yeoja itu. Aku terkejut dibuatnya. Ada apa sih dengan yeoja ini?! Bikin kesal saja lama-lama.

“Kau kenapa sih?” tanyaku dengan sedikit ngotot. “Bisakah kau mengabulkan permintaanku yang satu itu? Aku mohon…” ujarnya sambil mendongak memandangku. Wajahnya… Terlihat benar-benar frustasi. Dia kenapa sih?

—————————- to be continue —————————————-

Okeh, part 5 udah selesai. sekarang lanjut ke part 6 ya🙂 jangan lupa comment. no silent readers, please~ thanks :))