annyeong, sebenarnya saya udah menyelesaikan cerita ini. readers hanya perlu tunggu sampai saya post semua part nya. ok? keep reading, readers. and no silent readers. comment please ^^

————————–

[Siwon POV]

Kupandangi gelang yang kini berada di tanganku. Kupandangi lama-lama dan aku teringat lagi padanya. “Aku benar-benar ingin tahu kenapa kau disana…”  Kau benar-benar mau tahu kenapa? Baiklah, akan kuberitahu ya, Hee Yeon-ssi!!

Ttok ttok ttok…

“Masuk.” Ucapku tanpa mengalihkan pandanganku dari gelang yang diberikan Hee Yeon-ssi padaku. “Siwon-ssi, sudah ditunggu Appa dan Eomma untuk sarapan.” Ujar seorang pelayanku. Aku hanya melirik sekilas padanya. “Ne.” jawabku. Pelayan itu langsung menutup pintu kamarku. Dan lagi-lagi kupandangi gelang itu. Gelang biasa dengan ukiran nama yeoja itu. Hee Yeon.

Kusimpan gelang itu di laci pribadiku dan dengan segera melangkahkan kakiku dengan malas ke ruang makan. Kulihat Appa dan Eomma sudah duduk di sana. Dengan adikku juga tentunya. Choi Minho. “Pagi, Hyung.” Sapa adikku. Aku hanya melirik sekali ke arahnya tanpa menggubris sapaannya itu.

Segera saja aku duduk di kursi di sebelahnya yang sudah menjadi kursiku selama ini. “Eomma sudah buatkan waffle kesukaanmu.” Ujar Eomma sambil memberikan satu piring berisi waffle padaku. “Ne.” tanpa basa-basi, aku mulai melahap waffle kesukaanku itu. “Hyung, bagaimana pesta semalam? Apa seru?” tanya Minho. “Biasa saja.” Jawabku.

“Tentu saja biasa. Kau kan pergi sendiri.” ledek Minho. “Jangan bicara selagi makan.” Ujarku dingin. Appa hanya melirikku dengan tatapan usil dan melanjutkan sarapannya. Minho langsung diam dan melanjutkan sarapannya. “Mau tambah?” tanya Eomma. Aku menggeleng dan Eomma mengangguk. Segera kuteguk kopi espresso yang juga kesukaanku dan pergi dari ruang makan.

Aku duduk di halaman belakang rumah sambil memandang langit pagi yang cerah.

“S… Siwon-ssi…”

“Ne?”

 “Aku…. Benar-benar ingin tahu kenapa waktu itu kau disana…”

“He? Di mana?”

“Di belakang sekolah. Saat kau menyelamatkan aku.”

“Hanya kebetulan lewat.”

Teringat lagi di kepalaku, ucapanku padanya semalam.

“Kau sudah mengatakan hal itu ribuan kali. Bisakah kau tidak mengucapkan kata itu lagi? Aku bosan.”

Haruskah aku sesinis itu padanya? Sinis ya… Jahat sekali aku ternyata T_____T

“Siwon-ssi, kenapa kau dekat-dekat yeoja itu?”

“Urusanmu?”

“Bukan. Tapi perlu kau tahu, dia itu murahan!”

“….”

“Aku hanya tidak mau kau terjebak rayuannya!”

“Tidak ada yang merayu dan dirayu. Arasseo?”

Kenapa… aku merasa tidak terima ya ketika Taeyeon-ssi menghina Hee Yeon-ssi? Tapi aku tidak berani membela lebih jauh dari itu. Auk rasa aku harus menjaganya. Rasanya aku harus selalu di dekatnya, melindunginya, dan selalu di sisinya. Seperti saat Hyo Jin bersamaku.

“Hyung, sedang apa?” suara Minho mengejutkanku. “Merenung.” Jawabku. “Hee Yeon Noona?” tanyanya sok tahu. “Tidak. Tidak juga.” jawabku. “Hyung, berhentilah jadi orang yang introvert. Kau harus sering-sering curhat sama aku.” tanya Minho. “Hhh~,” aku mendesah, “kenapa dia harus pergi secepat itu ya?” gumamku. “Kau rindu Hyo Jin Noona ya?” tanya Minho.

“Ng? Ya. Tentu saja. Selama tiga tahun, dia yang mengisi hariku. Dia yang menhibur dan… Sudahlah.” Aku mulai teringat lagi kenanganku bersama Hyo Jin. “Hyung, apa Hee Yeon Noona cantik?” tanya Minho. “Tidak. Biasa saja menurutku. Tapi dia cerdas, baik…” jawabku. “Begitu ya… Hyung belum bisa melupakan Hyo Jin Noona?” tanyanya lagi. “Ya! Kenapa kau berisik sekali sih? Mengganggu!” aku membentak dongsaeng-ku satu-satunya. Wajah polosnya seketika berubah takut. “Mi-mianhae, Hyung~” ujarnya takut-takut. “Ani. Aku yang minta maaf.” Jawabku diikuti desahanku yang kesekian kalinya.

Hee Yeon-ssi, aku tidak tahu ini cinta atau bukan. Tapi yang jelas… Kumohon… Tunggu aku sampai mengetahuinya ya.

~~~~~

[HyukJae POV]

“Kenapa berani sekali kucium bibir mungilnya itu ya? Babo, Eunhyuk!!” Aku memukul kepalaku sendiri dengan kepalan tangan. “Aisshh~~ BABO!!” gerutuku. “Kalau yeoja itu tidak menerima cintaku…. Apa dia sudah menerima Kyuhyun-ah? Dia kan sedang dekat dengan namja itu…” pikirku. “Ah, tapi memangnya Kyuhyun-ah sudah menyatakan perasaannya?” aku mulai bertanya-tanya.

“Ah… Hee Yeon-ah! Kenapa kau membuatku jadi galau begini sih? Setiap malam yang aku pikirkan hanya kau. Walaupun aku sudah bilang untuk menyerah mendapatkanmu, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan paras cantikmu dan senyum hangatmu yang belakangan kau berikan padaku!!” aku menghentak-hentakkan kakiku di lantai kamar. Frustasi.

“Hee Yeon-ah, jangan kencan dengan Kyuhyun-ah~~~”

[Kyuhyun POV]

“Hhhh~~ apa maksud ucapan Hee Yeon semalam ya? Kenapa dia menangis begitu? Tak pernah kulihat dia menangis begitu…. Apa salahku? Kenapa dia memintaku berhenti mencintainya? Apa dia sudah memutuskan untuk mencintai HyukJae-ssi? Kenapa kau tega, Hee Yeon!!” aku berkacak pinggang sambil mondar-mandir di kamarku.

Tapi… Kenapa juga aku mencintainya? Karena dia pintar? Mmm… menurutku, masih banyak yeoja yang lebih pintar dibanding dia. Hhhh~~~ “Kyu, kau sudah sarapan?” “AAAH!!!” aku berteriak dan berbalik. Kulihat wajah Eomma sudah memandangku dengan kesal. “YA!! Ini Eomma-mu! Kenapa berani-beraninya berteriak begitu?!” bentak Eomma. “M-mm…. Mianhaeyo, Eomma… Tadi… Aku sedang kesal…” jawabku takut-takut.

“Kau ini!!” Eomma berbalik dan menutup pintu kamarku tanpa banyak bicara lagi. Assshh…. Hee Yeon… jangan minta aku untuk berhenti mencintaimu lagi, ya… Tapi tapi… kalau dia bilang begitu… apa benar dia sudah menerima HyukJae-ssi jadi kekasihnya??” aku benar-benar frustasi sekarang.

~~~~~

[Hee Yeon POV]

Sejak pulang semalam, aku baru tidur dua jam. Dan sekarang aku mulai mengantuk, tapi tidak bisa tidur. Bagaimana bisa? Haduh… Sekarang hari-hariku dipernuhi dengan kata-kata “Bagaimana Bisa?”. Kuirik jam dinding kamarku. Sudah jam 12 siang, dan aku belum makan sejak pagi. Aku tidak merasa lapar. Sejak tadi yang kulakukan hanya diam, merenung. Galau. Begitu ya?

“Maafkan aku ya, Kyuhyun-ssi. Aku tidak bermaksud begitu padamu. Tapi… aku sepertinya harus melepas kalian satu persatu. Aku bingung kalau cintaku harus terbagi tiga.” Gumamku sambil memandang ke luar. Ke ball room. Ball room yang penuh kenangan. Kenangan antara aku dan namja super pintar itu. “Hhhh~~ sekarang waktunya bilang pada HyukJae-ssi.” Ujarku sembari mencari HP-ku. Asshh! Dimana sih aku meletakkannya??

Aku menyapu pandangan dan menemukan benda kecil itu di lantai BALL ROOM-ku. “Astaga! Haruskah aku ke sana?!” jeritku, pelan. “Bagaimana kalau Kyuhyun-ssi sedang di sana? Aku tidak mau rasa itu kembali lagi!!” jeritanku sedikit semakin keras. Aku ragu-ragu melangkahkan kakiku ke ball room itu. “Tuhan, jangan hadirkan orang itu di ball room-nya.” Ujarku sambil memegang knop pintu ball room-ku. Perlahan kugeser pintu ball room-ku dan melihat ke kanan. Rumah namja itu.

Kosong. Kuberanikan diriku melangakah mengambil HP-ku. “Ah, untung tidak hilang!” ujarku. Dengan cepat aku berbalik. BUUUG!! DUUG!! Aku terjatuh ke lantai karena menabrak sesuatu. HP-ku ikut jatuh dan ketika kutolehkan kepalaku, benda mungilku itu berada di sangat-sangat-sangat tepi ball room. “Ah!! HP-ku…” aku berusaha meraihnya dan… dapat!

Segera kutolehkan lagi kepalaku, melihat apa yang aku tabrak barusan. “K-k-kk… Kau…?” ujarku terbata.

————- to be continue —————-

gimana ceritanya? hehehehe…. dont forget to comments please. no silent readers. terima kasih ya yang udah baca ff ini :))

Iklan