Annyeong, sebentar lagi kita akan mencapai part terakhir. jadi tetap baca ya🙂 jangan lupa… oke? oh ya, ditunggu commentnya ;)) terima kasih….. selamat membaca, titip komentar yaaa🙂

———–

Sudah enam bulan ini, Hee Yeon koma. Sedangkan Kyuhyun, HyukJae, dan Siwon sudah menyelesaikan SMA-nya dan mulai sibuk dengan kuliah mereka. Tapi sesibuk apa pun mereka, mereka bertiga tetap menyempatkan berkunjung ke rumah sakit. Berharap ketika mereka datang, Hee Yeon akan membuka matanya. Berharap ketika yeoja itu membuka matanya, salah satu dari mereka bertigalah yang pertama dilihatnya. Tapi selama enam bulan itu, Hee Yeon tidak juga membuka matanya.

“Hee Yeon-ah… Hari ini aku datang lagi. Aku berhasil lulus dengan nilai memuaskan dan aku sudah memutuskan untuk kuliah di Kyunghee University. Aku berharap kau cepat memuka matamu, jadi kita bisa kuliah bersama…” ujar Kyuhyun di sela-sela mengamati wajah damai Hee Yeon. Kepala yeoja itu tidak lagi di perban, tapi luka di kepalanya masih membekas di sana.

KLIK! Kyuhyun menoleh. Dilihatnya Siwon berdiri di depan pintu, enggan menghampiri Kyuhyun dan Hee Yeon. Kyuhyun hanya memberi senyum kecil pada Siwon. “Annyeong.” Sapa Siwon. “Annyeong.” Balas Kyuhyun. “Siwon-ssi… Aku permisi dulu ya. Jaga Hee Yeon dengan baik, ok?” ujar Kyuhyun lalu pergi. Siwon hanya mengangguk.

“Hee Yeon-ah… Kau lihat ini tidak? Aku masih memakai gelang pemberianmu waktu itu. Dan kau percaya tidak? Aku tidak pernah melepaskan gelang ini sekali pun. Saat mandi pun aku tetap memakainya, dan sampai kapanpun akan tetap kupakai. Walaupun tidak banyak kenangan yang kita buat, tapi aku rindu melihatmu di sekolah. Aku rindu saat kau memintaku untuk tidak menjadi orang yang dingin lagi dan harus lebih banyak tersenyum. Aku melakukannya, Hee Yeon. Hanya untukmu. Jadi…. Maukah kamu membuka mata itu untukku? sekali saja.” Ujar Siwon sambil mengelus punggung tangan Hee Yeon yang sama sekali tidak merespon.

“Hee Yeon-ah… Aku benar-benar menyesal tidak sempat mengucapkan ini padamu, padahal aku ingin sekali kau mendengarnya. Hee Yeon-ah, saranghaeyo…” Siwon mengecup kening yeoja yang masih tetap tidak bergeming itu lama sekali. Tiba-tiba air mata Siwon mengalir dan jatuh di pipi yeoja itu. “Maaf Hee Yeon-ah, aku tidak sengaja.” Siwon menghapus air mata di pipi Hee Yeon. Tapi tidak lama kemudian, Hee Yeon mengeluarkan air matanya. Perlahan tapi air mata itu terus mengalir.

“Hee Yeon-ah…. Kau bisa mendengarku?? Tolong buka matamu… Tolong jangan tinggalkan aku seperti Hyo Jin-ah meninggalkanmu. Sudah cukup aku kehilangannya…” Siwon menggenggam tangan Hee Yeon erat. Jemari Hee Yeon bergerak. Siwon benar-benar senang melihatnya. Tapi setelah lama menunggu, yeoja itu tak juga membuka matanya. “Tolong…. Buka matamu, Hee Yeon. Aku tidak akan memaksamu mencintaiku….” Siwon mengusap pelan pipi Hee Yeon.

Setelah lama di sana, akhirnya Siwon memutuskan pulang. Sangat berat langkah Siwon meninggalkan yeoja itu, tapi setiap malam Shin Ahjuma atau Shin Dong atau bahkan Shin Ahjussi datang untuk menjaganya. “Open your eyes, as soon as possible. I miss you so damn much….” Siwon mengecup pipi Hee Yeon dan melangkah pergi.

Tepat ketika Siwon membuka pintu, muncul HyukJae di hadapannya. “Jaga Hee Yeon sampai keluarganya datang ya.” Ujar Siwon sambil lalu. HyukJae masuk secepatnya dan berjalan menghampiri Hee Yeon yang terbaring. Ini namja ketiga yang mengunjunginya. Hee Yeon boleh saja koma, tapi ia dapat merasakan kehadiran tiga orang yang dicintainya ini setiap hari. Ingin rasanya Hee Yeon membuka matanya sekarang dan bilang, aku tidak apa-apa. Aku ingat kalian. Aku sayang kalian. Aku minta maaf karena membuat kalian terlalu khawatir padaku. Tapi semua itu tidak dapat dilakukannya, karena saat ini rohnya sedang berada di suatu tempat.

“How are you, Hee Yeon? Feeling better than yesterday? I hope so. Hee Yeon-ah, please open your eyes. I really miss you… I miss your smile, your voice, and of course when you asked me to never chase you anymore. I miss everything about you…” HyukJae mengusap pelan kepala Hee Yeon. HyukJae-ssi… maafkan aku… aku tidak bermaksud membuatmu, membuat Kyuhyun-ssi dan tentunya Siwon-ssi khawatir padaku. Aku juga tidak bermaksud membuat Appa, Eomma, dan Oppa sedih memikirkan aku. Aku baik-baik saja, HyukJae-ssi. Aku berjanji, ketika aku membuka mataku nanti, aku akan selalu berada di sisi kalian bertiga. Selamanya. Aku akan menjadi orang yang lebih baik. Tolong maafkan aku…. Batin Hee Yeon dalam hati. Lagi-lagi air mata yeoja itu mengalir.

“Kau menangis ya? Kau bisa mendengarku berarti? Apa kau juga bisa mendengar Kyuhyun dan Siwon?” tanya HyukJae-ssi, tak terasa air matanya ikut mengalir. “Hee Yeon-ah…. Aku benar-benar mencintaimu. Maukah kau membuka matamu? Biarkan aku melihat mata indahmu itu. Sekali saja…” ujar HyukJae penuh harap. Yeoja itu tidak bergeming.

~~~~~

Dua tahun kemudian…

“Yeon-ah, bagaimana keadaanmu?” tanya Shin Dong pada adiknya yang masih terbaring di rumah sakit. “Yeon-ah, aku dan Nari Eonni sudah menikah. Kapan kau akan menyusul kami? Kau tahu? Oppa-mu ini sedih karena kau tidak bisa datang! Maka cepatlah buka matamu, dan nanti kita berfoto bersama. Berlima. Kau, Oppa, Nari, Eomma, dan Appa. Ok? Buka matamu, dongsaengku sayang….” Shin Dong mengecup kening Hee Yeon.

Besok adalah hari ulang tahun Hee Yeon yang ke 19, dan ketiga namja yang dicintainya selalu datang selama dua tahun itu. Meskipun HyukJae dan Siwon tidak terlalu sering datang karena kesibukan mereka, tapi setiap harinya Kyuhyun selalu datang untuk menemani Hee Yeon. Dan hari ini, Kyuhyun datang lagi.

“Annyeong Hyung.” Sapa Kyuhyun ketika melihat Shin Dong yang sedang duduk di sofa. “Ah, kau datang lagi ya. Hehehe… apa tidak bosan? Bagaimana kuliahmu?” tanya Shin Dong, ramah. “Iya. Aku selalu berharap Hee Yeon membuka matanya. Kuliahku lancar-lancar saja.” Jawab Kyuhyun sambil mengelus rambut panjang Hee Yeon dan duduk di tepi kasurnya, menghadap ke arah Shin Dong. “Kau masih mencintai adikku ya?” tanya Shin Dong. Kyuhyun mengagguk penuh semangat.

“Apa kau tidak lelahh menunggunya terbangun dari koma?” tanya Shin Dong. “Tidak akan, Hyung. Sampai kapanpun, akan kutunggu dia.” Ujar Kyuhyun mantap. “Kalau begitu dia sadar, dia tidak mengenalimu bagaimana? Koma selama dua tahun itu, bisa membuatnya kehilangan banyak memori.” Ujar Shin Dong, mengambil perkiraan terburuk. “Aku tidak peduli, Hyung. Aku akan membantunya mengingat semua yang dilupakannya. Akan kubantu dia mengingatmu, Shin Ahjussi, Shin Ahjuma, Siwon-ah, dan HyukJae-ah. Juga Seohyun-ah dan Min-ah. Kalau perlu…. Musuh terbesarnya, Taeyeon-ah.” Ujar Kyuhyun lebih mantap.

“Kau namja yang baik ya. Aku senang kalau Hee Yeon bisa bersamamu. Tapi kulihat, dua temanmu juga mencintai adikku. Apa kalian bersaing?” tanya Shin Dong, usil. “Sepertinya begitu Hyung. Aku tidak peduli siapa yang akan dipilih Hee Yeon, tapi aku akan senang kalau dia bahagia.” Jawab Kyuhyun sembari menoleh ke arah Hee Yeon. “Begitu ya..” Shin Dong berdiri dan menghampiri adiknya. “Hee Yeon-ah, sadarlah! Namja ini menunggumu terus! Kalau dia jadi perjaka tua, Oppa akan menyalahkanmu!!” ujar Shin Dong, bercanda pada adiknya yang tetap diam seribu bahasa. “Hahaha… Hyung bisa saja.” Kyuhyun tertawa kecil melihat tingkah Shin Dong pada adiknya.

“Oh ya. Hyung pulang sebentar ya mau jemput Eomma dan Appa. Kau bisa menjaga adikku kan?” tanya Shin Dong. “Ah, ne Hyung. Tenang saja.” Kyuhyun tersenyum simpul. “Baiklah. Awas kau macam-macam dengannya!” ujar Shin Dong sambil menepuk-nepuk bahu Kyuhyun yang hanya senyum-senyum. Setelah memastikan Shin Dong keluar, Kyuhyun memutar badannya hingga kini dia berhadapan dengan Hee Yeon yang tetap damai dalam istirahatnya yang sudah 2 tahun ini.

“Hee Yeon-ah, kapan kau akan membuka matamu itu? aku benar-benar rindu… Tapi…. Sampai kapan pun kau koma, aku akan selalu menunggumu. Aku tidak akan membuka hatiku ini selain untukmu, sebelum kau membalas cintaku. Setidaknya, aku tahu bagaimana isi hatimu. Ya kan?” “Oh ya, Hee Yeon. Semalam aku memimpikanmu. Kau bilang dalam mimpiku, kalau kau baik-baik saja. Kau bilang, aku tidak perlu mengkhawatirkanmu. Apa itu benar? Tapi melihatmu tidak membuka matamu saat ini, aku tidak yakin kau baik-baik saja. Maukah kau datang ke mimpiku setiap malam? Dan terus bilang padaku, bahwa kau tidak apa-apa? Tapi kau harus buktikan. Kalau kau benar-benar tidak apa-apa. Kau harus membuka matamu.” Kyuhyun mencolek hidung mancung Hee Yeon. “Ingat itu ya Hee Yeon! Ashhh… rasanya, ingin sekali aku memanggilmu Jagi….” Kyuhyun memandang wajah itu lama, dalam, dan…

Perlahan didekatkannya bibirnya dengan bibir Hee Yeon. Gadis koma itu hanya diam, tidak membalas. Kyuhyun melepaskan ciuman itu, perlahan. “Hee Yeon-ah… maafkan aku ya. Aku tidak bermaksud menciummu begitu. Ini kali keduanya aku menciummu tanpa permisi. Pokoknya kalau kau sadar nanti, aku akan menciummu dengan permisi. Aku janji.” Kini Kyuhyun merasa dirinya seperti orang gila. “Hee Yeon, jangan membuatku seperti orang gila lebih lama lagi ya. Cepatlah sadar, ingat aku… Cho Kyuhyun. Ok?” Kyuhyun mengusap rambut Hee Yeon lembut dan beranjak dari tepi kasur. Ia berdiri di pinggir jendela, menatap keluar. Memandang awan yang saat ini sedang cerah, tapi tidak seperti hatinya dan harinya yang selalu mendung.

“Nu—nuguseyo?” sebuah suara serak mengejutkan Kyuhyun hingga membuat namja itu segera berbalik. Dilihatnya yeoja yang baru beberapa menit lalu memejamkan matanya, kini sudah membuka matanya. “Apa kau tidak mengenaliku, Hee Yeon-ah?” tanya Kyuhyun seraya mendekat. Yeoja itu terdiam lama sekali. Seperti berusaha mengingat sesuatu. “Akkh…” yeoja itu meringis kecil. “Waeyo? Mana yang sakit?” tanya Kyuhyun seraya mendekatkan wajahnya pada yeoja itu. Hee Yeon hanya diam, tidak menolak.

Yeoja itu diam. Memandang wajah namja itu lekat-lekat. “Aku…. Tidak bisa mengingat namamu.” Ujar Hee Yeon pelan. Kyuhyun terdiam, Hee Yeon terlihat sedih. “Gwenchana. Aku akan membantumu kalau kamu sudah sehat nanti. Bagaimana?” tanya Kyuhyun sambil tersenyum. Saat ini perasaannya senang, tapi juga sedih. Yeoja yang paling dicintainya, kini tidak bisa mengingat namanya.

Sudah sejam ini, Hee Yeon tersadar. Dokter juga sudah memeriksa keadaanya. “Perkembangan yang sangat pesat. Padahal, tadinya saya sudah pesimis dia tidak bisa diselamatkan. Oh ya, kalau ada apa-apa, tekan bell saja ok?” ujar dokter bernama Kim Jongwoon itu ramah sembari melihat ke arah Hee Yeon yang masih diam di kasurnya. Hee Yeon masih belum bertenaga untuk bangkit. “Kamsahamnida.” Kyuhyun membungkuk sambil terus tersenyum, walaupun hatinya sedikit sakit.

Setelah dokter pergi, Kyuhyun kembali berjalan menghampiri Hee Yeon. Wajah yeoja manis itu kini terlihat bingung. Seperti tidak tahu apa-apa. “Joneun… Cho Kyuhyun imnida.” Ujar Kyuhyun sambil tersenyum. Hee Yeon hanya diam, tidak bergeming. “Kyuhyun.” lanjutnya menyebutkan nama panggilan. “Arasseo.” Jawab Hee Yeon datar. “Apa Hee Yeon-ah ingat dengan Shin Dong Oppa?” tanya Kyuhyun lembut. Dia hanya diam. “Dia adalah Oppa-mu. Sekarang dia sudah menikah dengan Nari Noona.” Ujar Kyuhyun. “Begitu ya… Kalau…. Appa dan Eomma? Apa…. Mereka ada?” tanya Hee Yeon.

“Ne. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Apa kepalamu terasa sakit?” tanya Kyuhyun. “Anio… Apa Kyuhyun-ssi selalu datang ke sini?” tanya Hee Yeon. “Ne. Siwon-ah dan HyukJae-ah juga. Tapi akhir-akhir ini mereka sibuk dengan kuliah mereka. Siwon-ssi sekarang juga sudah mulai meneruskan usaha keluarga mereka, sedangkan HyukJae-ssi sibuk dengan latihan dance-nya. Nanti kalau kau sudah sehat, aku akan mengajakmu bertemu mereka.” Jawab Kyuhyun. “Gomawo…” ujar Hee Yeon.

————- to be continue —————

SEBENTAR LAGI…. SELESAI🙂 tetap baca yaaa🙂 keep reading, keep comments, and no silent readers. thanks a lot :))