Halo halo!! Ini FF kedua saya dan bukan tentang boy band yang sudah lumayan lama dengan debutnya. FF ini tentang Boy Band baru, namanya Boy Friend. udah pada tahu belum? kalo belum…. cepet baca profile nya yaaa :)) ooke? Oh iya, tapi dari Boy Friend ini, cuma 2 member yang saya pakai, yaitu si kembar! Cho Kwangmin dan Cho Youngmin. mereka kembar asli loh ._. Oke. Happy Reading. Enjoy! Don’t forget to comment🙂 thank you ({})

————-

Cast:

Kim Haera (anggap saja itu readers ya)

Cho Kwangmin

Cho Youngmin

Cho Kyuhyun

Min Ra

————-

Sudah empat tahun ini aku menjalin hubungan dengan Cho Kwangmin, kakak kelasku di sekolah sejak SMP. Dia setahun lebih tua dariku. Oh ya, dia punya saudara kembar, namanya Cho Youngmin. Kemiripan wajah mereka, membuat sebagian besar orang sering salah mengenali mereka. Untung saja, tanda pengenal a.k.a nama siswa yang tertempel di blazer murid tidak pernah lupa mereka gunakan sehingga mempermudah sebagian besar orang itu untuk mengenalinya.

Dan hari ini, aku merasa badanku tidak enak. Sebenarnya aku berniat untuk istirahat di rumah saja, tapi aku ingat kalau aku sudah berjanji dengan Kwangmin Oppa untuk menemaninya mencari kado untuk Eomma-nya yang akan berulang tahun minggu depan, jadi kubatalkan niatku untuk tidak masuk sekolah. Lagi pula aku rasa aku masih bisa tahan ^^

Seperti biasa, Kwangmin Oppa menjemputku pagi ini di rumah. “Annyeong Jagi-ya!” sapa Kwangmin Oppa yang saat ini baru saja masuk SMA. “Annyeong Oppa-ya!” sapaku balik sambil menaiki motornya. “Eomma, kami berangkat ya!” ujarku sambil melambai pada Eomma yang mengantarku sampai halaman rumah. Eomma mengangguk. “Sampai jumpa nanti, Ahjuma.” Kwangmin Oppa melajukan motornya perlahan. Kulingkarkan tanganku di perutnya, berpegangan erat-erat karena Oppa-ku ini mulai melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Untung saja, tidak lupa aku kenakan helm yang dibawanya, spesial untukku.

Sepuluh menit kemudian, aku sampai di sekolahku. SMP yang cukup terpandang di Seoul. Ya. Seperti yang aku bilang, dia setahun lebih tua dariku. Jadi aku masih SMP. Tahun ini aku lulus dari sini. “Belajar yang serius ya, Jagi-ya!” ujar Kwangmin Oppa sembari menyimpan helm yang tadi aku pakai. “Ne. Oppa juga ya!” jawabku. Suaraku sedikit serak, karena aku memang sedang tidak enak badan. “Jagi, kamu sakit ya?” tanya Kwangmin Oppa sambil memegang keningku. Beberapa anak yang melihat tingkah Oppa hanya senyum-senyum, ada juga sih yang seperti jealous sama aku, secara Oppa dan kembarannya, Youngmin Oppa, adalah dua namja yang terkenal di sekolahku.

“Aaa~ gwenchana Oppa-ya. Sudah sana, berangkat. Nanti terlambat.” Aku menyingkirkan tangannya yang lembut dari keningku dengan lembut. “Kenapa masuk kalau sakit?” tanyanya. “Aku tidak apa-apa, Oppa. Sudah berangkat ya.” Ujarku sambil tersenyum manis padanya. Dia memandangiku dengan tajam dan dingin, membuatku sedikit takut. “Gwenchanayo, Oppa-ya…” ujarku lagi. “Kalau ada apa-apa, hubungi aku ya?” katanya. Nadanya terdengar khawatir. Aku tahu dia sangat menyayangiku, seperti aku menyayanginya. “Ne. Oppa tidak perlu khawatir ya.” Lagi-lagi aku tersenyum. “Ne.” Kwangmin Oppa akhirnya berangkat ke sekolahnya yang tidak jauh dari sekolahku.

Kulangkahkan kakiku memasuki halaman sekolah. Kurasakan kepalaku semakin berat. “Aigo~” desahku pelan. “Haera-ya!” sapa sahabatku, Hyechan, sambil memegang kedua bahuku. Aku menoleh padanya. “Kau sakit ya?” tanya Hyechan sambil memegang keningku. Melakukan apa yang dilakukan Kwangmin Oppa tadi. “Aish~ gwenchanayo. Hanya pusing sedikit.” Jawabku sambil menyingkirkan tangannya. “Kamu demam tahu. Sebaiknya ke klinik.” Usul Hyechan. “Anio.” Tolakku singkat. “Waeyo? Nanti Oppa-mu cemas. Kasihan.” Tukas Hyechan, nadanya sedikit kesal.

“Aku sudah bilang padanya kalau aku baik-baik saja. Lagi pula kalau ada apa-apa, aku akan menghubunginya. Tenang saja, Hyechan.” Ujarku sambil merangkul sahabatku itu yang hanya diam saja. Kami berjalan ke kelas bersama. Sejenak aku melupakan sakit kepalaku itu dan sedikit memikirkan senyuman Kwangmin Oppa yang selalu membuatku terpana. Terlebih kalau dia menunjukkan gigi-giginya yang rapi itu. Haaaa~ aku benar-benar meleleh dibuatnya. Aku benar-benar menyukai kebersamaanku dengannya selama empat tahun ini. Sejak aku kelas enam. Hahaha… Terlalu dinikah untuk berpacaran? Sepertinya iya. :p

Sekolah berlangsung dengan cepat hari ini. Sakit kepalaku juga sudah tidak terasa lagi. Dan seperti biasa, Kwangmin Oppa menjemputku lagi di sekolah. Wajahnya terlihat khawatir. “Apa kamu masih sakit?” tanya Kwangmin Oppa. “Anio, Oppa. Aku sudah sangat lebih baik. Nih.” Aku meraih tangannya dan meletakannya di keningku, meyakinkannya kalau aku baik-baik saja sekarang. “Ah, syukurlah~ Tapi sebaiknya kamu istirahat saja di rumah. Jadi minggu depan bisa datang ke ulang tahun Eomma.” Ujar Kwangmin Oppa sambil tersenyum manis. Ah~ aegyo…. Dia bisa membuatku meleleh detik ini juga kalau tidak cepat-cepat dia menyuruhku naik ke motornya.

“Oppa, aku tidak apa-apa kok. Aku kan juga mau membeli kado untuk Cho Ahjuma!” seruku bersemangat. “Ah, anio! Kau harus istirahat!” paksanya. “Anio!! Tidak mau! Aku mau beli kado!!” paksaku tidak mau kalah. Kwangmin Oppa lagi-lagi memandangiku dengan tatapan dingin dan tajam. Seperti pagi tadi. Aku balik menatapnya begitu, dengan cara yang sama. Secepat kilat kututup wajah tampan itu dengan telapak tanganku yang tidak besar. Hampir saja dia jatuh, tapi dia hanya tertawa. Tidak marah. “Kaja. Ayo kita beli kado!” ajakku sambil naik ke motornya. Akhirnya dia mengalah dan mengijinkanku ikut Oppa beli kado ~(^o^)~

“Oppa-ya, appa Ahjuma akan suka ini?” tanyaku sambil menunjukkan sebuah syal berwarna putih polos dengan model bulu-bulu yang amat lembut. Untung harganya tidak terlalu mahal, 20 ribu won. “Wah, Eomma pasti suka!” Kwangmin Oppa tersenyum manis sekali. Ah~ lagi-lagi aku hampir dibuatnya meleleh kalau dia tidak cepat-cepat menunjukkan kado yang akan diberikannya pada Cho Ahjuma. “Lihat, bagus tidak?” tanyanya. Aku mengangguk. “Ahjuma pasti suka!” ujarku. Lalu kami pergi ke kasir dan membayarnya dan tak lupa membungkusnya sekalian.

Malamnya, Kwangmin Oppa dan aku duduk di ball room kamarku yang menghadap ke danau kecil dekat rumahku. Kusandarkan kepalaku di bahunya. Aku lelah sekali karena habis mengerjakan PR, untung saja Kwangmin Oppa yang pintar ini membantuku. “Kau pasti lelah ya, Jagi?” tanya Kwangmin Oppa sambil mencari wajahku. “Ne.” jawabku singkat dan pelan. “Ah, kau sakit lagi ya?” tanya Kwangmin Oppa sambil memegang keningku. Kali ini kubiarkan dia menyentuhnya karena tanganku sudah lemas sekali. “Badanmu panas, Jagi. Sebaiknya istirahat.” Kwangmin menegakkan tubuhku yang masih duduk itu dan menariknya dengan lembut. Kakiku sudah lemas sekali dan aku sangat bersyukur memiliki pacar sepertinya, karena dengan baiknya dia memapahku berbaring di kasurku. Tidak lupa dia menyelimuti tubuhku.

“Istirahat saja ya. Kalau perlu besok tidak usah masuk. Aku tidak mau kamu sakit lama-lama Jagi.” Ujarnya dengan nada sedih. “Ne Oppa. Mianhae aku membuatmu khawatir.” Ujarku. “Kalau kamu sehat nanti, baru kumaafkan. Arasseo?” sambil mengusap kepalaku dengan lembut, lagi-lagi dia tersenyum. Kali ini aku tidak sanggup meleleh karena aku sudah lemas, alhasil aku semakin lemas. “Arasseo.” Jawabku sambil membalas senyumnya. Dia melirik jam tangannya. “Kalau begitu, istirahat ya. Aku pulang dulu.” Dia mencium keningku. “Biar cepat sembuh!!” ujarnya sambil mencubit hidungku. “Aaw~!” aduhku pelan. Dia terkekeh dan mengambil tasnya yang tergeletak di sofa kamarku. “Sampai jumpa lagi Jagi. Cepat sembuh ya! Jangan lupa makan dan minum obat!” nasehatnya seperti ibu-ibu. Aku menangguk pasti. Dia melangkahkan kakinya keluar kamarku.

Satu minggu kemudian, aku dijemput Kwangmin Oppa dan kami berangkat ke rumahnya bersama. Kugunakan dress selututku yang berwarna sedikit orange dengan pita di pinggangnya dan flat shoes berwarna putih yang diberikan Kwangmin Oppa sebagai hadiah 2nd Anniversary kami waktu itu. “Neomu yeppun, Agassi.” Bisiknya lembut di telingaku sambil merangkul pinggangku. Aku tersipu. Kebetulan, Appa dan Eomma juga sedang pergi ke rumah saudara kami di luar kota, jadi sepertinya Kwangmin Oppa tidak ragu merangkul pinggangku seperti itu.

Kami masuk ke mobilnya. Ya, kali ini dia tidak pakai motor, katanya biar dandananku tidak rusak (?) kekeke~ Kim Ahjussi, sopir pribadi sekaligus (semacam) bodyguard Kwangmin Oppa melajukan mobil itu ke rumah majikannya. “Jagi, kamu cantik sekali hari ini.” Bisik Kwangmin Oppa. “Oppa baru sadar ya?” godaku. Dia tertawa kecil. “Tidak. Aku selalu menyadarinya. Hanya saja, hari ini aku sedang mendapat keberanian untuk mengucapkannya.” Elaknya. Aku tersenyum padanya. Dia ini memang bukan pacar yang jago gombal, tapi aku suka padanya. Entah apa yang membuatku menerima pernyataan cintanya empat tahun lalu.

Pesta ulang tahun Cho Ahjuma berlangsung meriah. Beberapa orang penting hadir di sana. Ya. Karena Cho Ahjussi adalah salah satu orang yang berhasil di Seoul. “Ayo kita kesana!” ajak Kwangmin Oppa sambil menunjuk Eomma-nya dan Youngmin Oppa lalu menarikku ke sana. Aku mengikutinya berjalan. “Saengil chukkha hamnida, Ahjuma.” Ujarku sambil memberikan kado ulang tahun yang aku beli padanya. “Aaa~ Haera-ya… Gomawo…” Ahjuma memelukku dengan hangat. “Ne. Cheonmaneyo, Ahjumma.” Aku sangat senang dia menerima kadoku, walaupun aku tidak tahu apa reaksinya saat dia membuka kado dariku.

“Haera-ah, kau cantik sekali hari ini. Kau buat Hyung-ku terpesona padamu.” Ujar Youngmin Oppa yang membuatku semakin tersanjung. “Ah, gomawo Oppa. Hihi…” aku tertawa kecil. “Kalian sebaiknya ambil minum di sana dulu. Eomma mau ke sana sebentar.” Ahjuma meninggalkan kami bertiga di tempat kado. “Youngmin Oppa~” seorang yeoja berjalan ke arah kami. Dengan gaun tanpa lengan berwarna hitam dan sepanjang lutut itu, yeoja ini terlihat lebih cantik dari aku. Kulihat Kwangmin Oppa tersenyum jahil, sedangkan Youngmin Oppa memasang tampang kesal. Aku tidak mengerti dan tidak mengenal siapa yeoja ini.

“Mau apa sih?” tanya Youngmin Oppa dengan nada kesal. Aku belum pernah melihatnya seperti itu pada perempuan. Aku jadi berpikir, perempuan ini pasti sering menganggunya. “Ya!! Oppa kenapa kasar sekali sih?” tanya perempuan itu. Akhh… aku pernah melihatnya dimana ya? “Jagi kita ke sana yuk.” Ajak Kwangmin Oppa. Sebenarnya aku berat hati meninggalkan Youngmin Oppa dengan perempuan aneh ini, tapi berhubung Kwangmin Oppa sepertinya lebih mengenal perempuan ini jadi aku berjalan mengikuti Kwangmin Oppa yang menggandeng tanganku.

Tidak lama setelah kami berdiri di sudut ruangan, Youngmin Oppa datang. “Kenapa kau tinggalkan Joonmi-ah?” tanya Kwangmin Oppa sambil menyimpan tawanya. “Bukan urusanmu, Hyung! Tega sekali kau tinggalkan aku bersama perempuan buas itu?!” cecar Youngmin Oppa. “Sebenarnya dia siapa?” tanyaku polos. “Dia itu—“ “YA! Oppa kenapa tinggalkan aku?” lagi-lagi perempuan itu datang. “Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kamu lakukan? Kenapa selalu mengikutiku? Kenapa selalu menggangguku? Kenapa tidak mencari orang lain yang bisa kau ganggu?” tanya Youngmin Oppa dengan sejuta pertanyaannya.

“Kan aku sudah bilang. Aku cinta Oppa. Kenapa Oppa tidak mengerti sih?” tanya perempuan itu. “Harusnya aku yang bertanya! Kenapa kamu tidak mengerti? Aku kan sudah bilang padamu, kalau aku tidak bisa jadi pacarmu. Aku tidak bisa membalas perasaanmu.” Ujar Youngmin Oppa menahan amarahnya. Perempuan ini hendak buka mulut, tapi cepat kuselak. “Maaf, Agassi. Sebenarnya kamu siapa?” tanyaku polos. Dia mengulurkan tangannya. “Kenalkan. Choi Rye-in.” Jawabnya dengan angkuh.

“Oh. Kim Haera.” Jawabku tanpa membalas uluran tangannya. Maaf ya, bukannya sombong. Tapi aku justru tidak suka dengan orang yang sombong sepertinya. Dia terlihat kesal. “Ya Yeoja, sebaiknya kamu pergi sekarang!” usir Youngmin Oppa dengan nada dingin tanpa sedikit pun melihat ke arahnya. Kami semua terkejut dibuatnya. Tidak lama setelahnya, Youngmin Oppa pergi meninggalkan kami. Wajahnya terlihat sangat kesal. “Eonni sepertinya sudah mengacaukan mood seseorang ya?” ujarku. Kwangmin Oppa dan aku menyusul Youngmin Oppa yang tidak tahu dimana.

Sudah sejam ini, aku dan Kwangmin Oppa berpencar mencari Youngmin Oppa. Sudah berkali-kali kami menghubungi ponselnya, tapi tidak aktif. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di bangku taman dekat rumah Oppa. Kwangmin Oppa sepertinya masih mencari di tempat lain. Semakin lama aku diam di tempat ini, aku semakin yakin kalau Youngmin Oppa ada di sini. Tapi dimana?

Kususuri jalan taman yang hanya diterangi lampu-lampu taman yang tidak terlalu terang. Aku menemukan sosok yang kucari. Youngmin Oppa sedang duduk di atas batu, menunduk. Aigo! Namja ini! Kuhampiri Youngmin Oppa. “Ternyata disini?” tukasku di hadapannya. Dia mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. “Haera-ya?” dia terkejut. “Kamu membuat aku dan Kwangmin Oppa lelah mencarimu tahu!” ujarku, dengan nada yang dibuat kesal. “Mianhae Haera-ya. Aku tidak bermaksud membuat kalian mencariku. Hanya butuh waktu sendiri.” Jawab Youngmin Oppa sambil tersenyum. Ah~ tidak dia, tidak Hyung-nya. Senyumnya membuatku meleleh. Tidak tidak. AKAN meleleh.

“Baiklah. Yang penting aku tahu kamu disini. Aku pergi dulu ya.” Aku undur diri, membiarkannya sendirian. Tiba-tiba tangannya menahan tanganku. “Kajima…” bisiknya pelan, tapi bisa kudengar. Aku membalikkan badanku dan menghadap badannya. Badannya yang 20 senti lebih tinggi dariku, membuatku harus mendongak menatapnya. Tatapannya dalam. Tiba-tiba jantungku berdebar. Apa ini? Aku tidak pernah merasakan hal ini pada Kwangmin Oppa .__. Aku sedikit panik. Ingin sekali kutepis tangannya, tapi aku tidak bisa.

“Kenapa kamu memilih Kwangmin Hyung, Haera-ya?” tanya Youngmin Oppa tiba-tiba. Membuatku hampir keringat dingin. “Maksudmu apa?” tanyaku sambil menatap wajahnya, berusaha sebisa mungkin tidak terlihat canggung. “Kamu mengerti maksudku, Haera-ya!” jawabnya. Kedua tangannya meraih kedua tanganku. “Maaf Oppa. Tapi aku tidak mengerti.” Jawabku. Dia diam dan perlahan melepaskan tanganku. “Lupakan saja, Haera-ya. Jangan dipikirkan.” Ujarnya semakin membuatku bingung dan penasaran. “Oppa, katakan padaku. Ada apa? Apa maksudmu?” tanyaku.

Kuraih pergelangan tangannya tanpa maksud apa-apa. Hanya memintanya menjawab pertanyaanku. “Apa kamu tidak sadar kalau aku juga mencintaimu?” tanya Youngmin Oppa dengan tatapan merasa bersalah padaku. Aku diam. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya memandangi wajahnya yang terlihat amat sangat mirip dengan Kwangmin Oppa, tapi aku tahu mereka berbeda. Sangat berbeda. “Maaf Oppa, aku tidak tahu.” Jawabku akhirnya. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. “Tentu saja kamu tidak tahu. Kita jarang bertemu. Ya kan?” ujarnya santai.

“Ne.” jawabku. “Itu karena aku tidak mau melihatmu dengan Hyung. Sebisa mungkin aku menghindari kalian.” Youngmin Oppa kembali duduk di batu tadi sedangkan aku masih diam di tempatku, tidak bergerak semili pun. “Selama empat tahun?” tanyaku akhirnya. “Tidak. Baru dua tahun ini.” Jawabnya. “Maaf ya Oppa. Tapi aku benar-benar tidak menyadari hal itu. Aku—“ “Jagi!” sebuah suara mengejutkanku, juga Youngmin Oppa. “Mwo? kau disini, babo?” Kwangmin Oppa menepuk bahu adik kembarnya.

“Ne.” jawab Youngmin Oppa singkat. “Ayo pulang! Sudah malam. Nanti sakit. Disini dingin!” Kwangmin Oppa menarikku dan Youngmin Oppa agar mengikutinya pulang. Tanpa banyak bicara, kami berdua mengikuti Kwangmin Oppa pulang. Ternyata tamu-tamu sudah pulang. Kulihat Ahjuma sedang sibuk membuka kado-kadonya. “Ah, kalian pulang?” sapa Cho Ahjussi yang sedang duduk santai di ruang keluarga dengan anak tertua mereka dan tunangannya, Cho Kyuhyun Oppa dan Min Ra Eonni. “Ne.” jawab Kwangmin Oppa dengan napas tersengal karena selama perjalanan, dia menarik aku dan Youngmin Oppa pulang.

“Aaa~ Haera-ya, Min Ra-ya, bantu Eomma yuk membuka kado-kado ini!” ajak Cho Ahjuma. Ng? Eomma? Apa tidak salah dengar. Aku ragu-ragu mendekati Cho Ahjuma, tapi Min Ra Eonni menarikku dan segera menyuruhku duduk dan membantu Cho Ahjuma. Kami bertiga mulai membuka kado-kado itu. “Wah, ini darimu Haera-ya!” Cho Ahjuma membuatku kaget sekaligus takut beliau tidak menyukai kadoku. “AH! Indah sekali~~” Cho Ahjuma langsung melingkarkan syal bulu-bulu itu di lehernya. Min Ra Eonni tersenyum sambil mengacungkan ibu jarinya padaku. “Gomawo, Ahjuma.” Ujarku senang. “Anio. Aku yang berterima kasih, Haera-ya.” Cho Ahjuma mencium keningku, seperti mencium anaknya.

Akhirnya jam menunjukkan jarum-jarumnya di angka 10:15. Aku harus pulang. “Ah, terima kasih Haera-ya sudah datang. Min Ra-ya juga. Kamsahamnida.”Cho Ahjuma memeluk kami satu persatu. Lalu kami pulang dengan mobil Kyuhyun Oppa. Kwangmin Oppa ikut untuk menemaniku. Di mobil, aku memikirkan perasaanku yang sesungguhnya. Aku benar-benar tidak tahu apa yang aku rasakan sebenarnya pada Kwangmin Oppa. Aku merasa nyaman, senang, aman, dan… selalu ingin di dekatnya. Tapi saat Youngmin Oppa bilang begitu padaku, rasanya aku ingin juga bersamanya. ‘Haera-ya! Kalau hanya karena Youngmin Oppa bilang begitu kau jadi suka, tandanya kau tidak benar-benar suka!!’ batinku.

Sampai sudah di rumahku. Kwangmin Oppa mengantarku sampai di depan pintu rumah. Dia bertanya padaku kenapa aku diam saja di mobil. Aku bingung harus jawab apa. Belakangan ini aku jadi bingung dengan pertanyaan dua orang ini (re: Kwangmin dan Youngmin Oppa). “Gwenchana. Mungkin hanya lelah. Oppa sebaiknya kembali ke mobil. Kyu Oppa dan Min Ra Eonni sudah menunggu. Sampai jumpa Oppa!” aku melambai padanya. Tiba-tiba dia menciumku.

Ciuman pertamaku. Antara aku dan Kwangmin Oppa. Setelah empat tahun berpacaran, baru kali ini dia menicumku. Aku memejamkan mataku, merasakan hangat bibirnya. Tangan kanannya memegang pipi kiriku, dan reflek aku memegang lengannya. Selama semenit kami berciuman. “Saranghaeyo Jagi. Sampai jumpa.” Kwangmin Oppa melambai padaku dan tersenyum. Aku balas melambai dan tersenyum juga. Aigo~ >///<

—————- to be continue ————–

Gimana readers? Hehehe… Maaf ya kalau ada salah2 typingnya. soalnya baru buat kemarin. hehehe :p

No Silent Readers Ok?? Hehe… Ditunggu komentar2nya :))

terima kasiiiih buanyaaaak yaaaaa