Ini dia Part keduanya a.k.a Part terakhir🙂 Akhirnya saya berhasil bikin cerita lumayan pendek. nanti saya bikin lagi deh yang one shoot ok

doakan agar ceritanya seruuu :p oh ya, sekali lagi HAPPY READING! ENJOY! DON’T FORGET TO COMMENT! NO SILENT READERS, please~

——-

Cast:

Kim Haera (anggap aja readers ok)

Cho Kwangmin

Cho Youngmin

Cho Kyuhyun

Min Ra

——

Sudah seminggu sejak ciuman pertamaku itu. Dan belakangan aku lebih senang bersama Kwangmin Oppa yang semakin meyakinkanku kalau dialah yang aku cintai. Dan hari ini, kami sudah janjian di taman. Dia ingin memberiku sebuah kejutan yang tidak akan dilupakannya. Aku tidak sabar menunggunya. Tapi tiba-tiba aku memikirkan Youngmin Oppa. Kembali teringat tatapannya malam itu. Tatapan penuh harap, penuh penyesalan. Membuatku ingin membatalkan janjiku hari ini dengan Kwangmin Oppa dan bertemu dengan Youngmin Oppa minta dijelaskan semuanya.

Sudah jam setengah 11 sekarang. Kwangmin Oppa belum juga datang. Padahal aku sudah menunggunya setengah jam disini. Sejak jam 10, sesuai janji kami. Kuhubungi ponselnya. Tidak diangkat. “Oppa dimana sih?” aku mulai tidak sabar. “Apa kutelepon—“ kulihat screen HP-ku. Oppa-ya~ “Yeoboseyo?” jawabku dengan girang. “Haera-ya? Ini aku… Youngmin.” Aku terdiam. Kenapa dia pakai ponsel Oppa? “Ne. Waeyo? Kenapa pakai ponsel Kwangmin Oppa?” tanyaku, santai.

Haera-ya… bisa datang ke rumah sakit sekarang?”

“Waeyo?” perasaanku mulai tidak enak.

“Hyung kecelakaan. Sekarang sedang kritis.”

Waktu serasa berhenti. Aku tidak bisa bergerak sama sekali. ‘Kritis?’ batinku. Tiba-tiba air mataku menetes. “Haera-ya tunggu di sana saja ya. Aku akan menjemputmu.” Ujar Youngmin Oppa dan langsung memutus sambungan. Tangisku langsung pecah di taman. Taman sedang sepi. Tidak ada orang. Seperti sengaja di kosongkan. ‘Oppa kenapa jahat padaku? Katanya mau datang?’ batinku terus. Kakiku lemas, tanganku lemas, seluruh tubuhku lemas. Aku seperti ingin ditelan bumi sekarang juga.

Aku terus menangis hingga akhirnya Youngmin Oppa datang. “Haera-ya!” dia berlari menghampiriku. Aku berdiri menghampirinya dan langsung memeluknya. “Oppa… Kenapa Kwangmin Oppa berbohong padaku?” aku masih menangis sehingga pertanyaanku tidak jelas. Aku menumpahkan semua air mataku di dada Youngmin Oppa. Aroma tubuh mereka sama, membuatku tidak bisa melupakan Kwangmin Oppa.

“Sebaiknya sekarang kita ke rumah sakit ya?” ajak Youngmin Oppa sambil merangkulku dan memintaku naik ke atas motornya. Motor yang sama dengan Kwangmin Oppa, hanya berbeda warna. Youngmin Oppa segera menjalankan motornya menuju rumah sakit. Dalam waktu 20 menit, kami sampai. Di sana sudah ada Cho Ahjussi dan Ahjuma, Kyu Oppa, dan Min Ra Eonni. “Haera-ya…” Min Ra Eonni segera memelukku. Lagi-lagi tangisku pecah. Aku tidak kuat. Aku takut terjadi apa-apa pada Kwangmin Oppa.

Tidak lama setelah kami berdua sampai, dokter keluar dan menyatakan kalau Oppa sudah melewati masa kritisnya. Kami semua lega, tapi dokter bilang dia masih belum sadar, jadi aku belum bisa bernapas dengan sangat lega. Dari luar ruang ICU, kupandangi semua alat yang menempel di tubuhnya. “Oppa, jangan tinggalkan aku ya. Kau sudah janji akan memberiku kejutan yang tidak akan aku lupakan. Kau harus tepati itu!” gumamku. Air mataku menetes lagi, tapi seseorang menghapusnya. Kyu Oppa. “Haera-ya, jangan menangis. Ini.” Kyu Oppa memberiku secangkir teh hangat. “Lebih baik duduk di sana, dan minum ini. Biar lebih tenang.” Ujarnya lembut. Min Ra Eonni sudah pulang beberapa saat lalu.

Kyu Oppa duduk menemaniku sedangkan Cho Ahjussi dan Ahjuma sedang berbicara dengan dokter. “Oppa sudah berapa lama bersama Eonni?” tanyaku, membuka pembicaraan. “Em… Sudah 7 tahun. Hahaha…” jawabnya sambil tertawa. “Kenapa tidak mengajaknya menikah?” tanyaku usil. “Dia belum siap. Lagi pula, usia kami kan masih muda.” Jawabnya, enteng. “Hahaha… Begitu ya Oppa?” tanyaku. “Ne. Kau sendiri? Sudah berapa lama dengan Kwangmin-ah?” tanya Kyu Oppa. “Empat tahun.” Jawabku singkat.

Teringat kembali ketika kami pertama bertemu. Berkali-kali aku salah mengenali Oppa-ku sendiri, tapi setelah seminggu aku mulai mengingatnya; teringat lagi ketika bulan-bulan pertama kami jadian, beberapa anak perempuan membenciku karena aku bisa jadian dengan Kwangmin Oppa; mati-matian Oppa memintaku tetap bertahan dengan  hubungan kami…. Saat aku sedih, Oppa selalu ada. Oppa juga yang membantuku mengerjakan PR. Oppa juga yang selalu menasehatiku. Oppa yang selalu menyemangatiku. Oppa yang selalu tersenyum hingga membuatku meleleh~ “Aku tidak mau kehilangannya.” Ujarku.

Kyu Oppa menoleh padaku dan menatap lembut padaku tanpa berkata apa-apa padaku. Aku menunduk dan meneteskan air mataku lagi yang tak juga habis. “Sudah, jangan menangis lagi. Lebih baik doakan supaya Kwangmin-ah cepat sadar, pulih, dan bisa berkumpul lagi. Ya kan?” Kyu Oppa menarikku ke pelukannya. Kami sudah seperti keluarga, jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak ya. Aku menanggis di pelukannya. Lama sekali. Sampai sepertinya aku tertidur di pelukannya. Kyu Oppa tidak protes lho! ~(*-*)~ dia malah membiarkanku di sana.

Sampai akhirnya aku terbangun. Sekarang Kyu Oppa yang sedang tidur. Kulirik jam di ponselku. Sudah jam 11 malam. Pantas rumah sakit sepi. Cho Ahjussi dan Ahjuma sudah pulang, sepertinya Youngmin Oppa juga. Hanya ada aku dan Kyu Oppa. Aku berjalan menghampiri kaca yang kini sudah tertutup tirai. Di baliknya, ada pacarku yang sedang terbaring tidak berdaya dengan alat-alat mengerikan. Air mataku (lagi-lagi) mengalir. Aku pun lelah dengan tangisan-tangisan ini. Tidak bisa kah mereka tidak keluar? Apa yang harus aku lakukan?

“Haera-ya, sebaiknya kuantar pulang.” Suara Kyu Oppa mengejutkanku. Dia sudah berdiri di sebelahku dengan mata setengah terbuka. “Jangan Oppa. Nanti malah celaka. Oppa masih ngantuk kan? Lebih baik aku pulang sendiri saja.” Ujarku. “Anio. Aku akan hubungi Youngmin-ah untuk mengantarmu pulang.” Kyu Oppa segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi adiknya itu. Aku diam dan menunggu sampai Youngmin Oppa datang. “Oppa, sebenarnya aku ingin menemani Kwangmin Oppa disini.” Ujarku pelan. “Andwe. Besok kamu sekolah kan? Lebih baik istirahat.” Ujar Kyu Oppa. “Ne. Kalau Oppa sadar, hubungi aku ya Oppa.” ujarku. “Ne. Pasti. Tenang saja…” Kyu Oppa tersenyum, padahal dia masih setengah tidur.

Akhirnya aku pulang dengan Youngmin Oppa. Dia membawakan aku jaket karena di luar dingin sekali dan aku tadi tidak memakai jaket. “Gomawo Oppa.” ujarku. Suaraku terdengar berdengung karena hidung tersumbat sehabis menangis. “Ne. Jangan menangis lagi ya. Aku yakin, Hyung baik-baik saja. Dia akan segera kembali.” Youngmin Oppa menepuk bahuku. “Ne.” aku mengangguk. Tidak lama, setelah berbincang sebentar, aku masuk dan Oppa pulang.

Paginya aku sudah bangun lagi dan ketika keluar rumah aku terkejut. ‘Oppa?’ batinku. Aku melihat Oppa-ku sudah di sana. Di atas motornya. Tunggu dulu! Dia bukan… Oh My God. Dia Youngmin Oppa ternyata -___- “Oppa? kenapa…” aku menggantung kata-kataku. “Ashh maaf Haera-ya. Semalam Hyung datang ke mimpiku. Dia minta aku menjagamu. Aku takut -_-“ jawabnya. Aku mengangguk kecil dan segera naik ke motornya. Berbeda sekali. Kalau Kwangmin Oppa selalu menggunakan kecepatan tinggi, kalau Youngmin Oppa hanya sebatas 50 km/jam.

Sampai di sekolah, beberapa anak terlihat bingung karena mataku sembab dan aku tidak bersikap romantis dengan Oppa. Jelas lah! Dia bukan Kwangmin Oppa!! “Haera-ya!” sapa Hyechan. Aku menoleh. “Kau sedang bertengkar dengan Oppa?” tanya Hyechan ketika kami sudah di lapangan sekolah. “Tidak.” Jawabku. “Lalu kenapa matamu sembab dan… kau tidak bercanda bersamanya seperti pagi-pagi sebelumnya?” tanya Hyechan. “Karena dia bukan Kwangmin Oppa!” jawabku. “Mwo? itu… itu… itu Youngmin Oppa?” tanya Hyechan tidak percaya. Aku mengangguk.

“Dimana Kwangmin Oppa?” tanya Hyechan. Aku tidak menjawab. Mengingat hal itu, membuatku ingin menangis lagi. Segera aku berlari meninggalkan Hyechan di lapangan sekolah yang kebingungan dengan sikapku. Aku berlari menuju kelas dan segera duduk di bangkuku. “Haera-ya! Kamu kenapa?” tanya Hyechan sambil tersengal-sengal. Sepertinya dia mengejarku.

Aku memeluknya dan menangis lagi. Aku menceritakan semuanya. Dia ikut menangis bersamaku. Selama pelajaran aku tidak bisa berkonsentrasi karena kepalaku pusing dan aku terus memikirkan Oppa. “Seonsaengnim, aku ijin ke toilet ya.” Pintaku. Shin Seonsaengnim mengangguk dan aku keluar dari kelas. Segera kulangkahkan kakiku yang semakin terasa berat ke toilet. Aku membasuh wajahku agar kembali segar.

“Oppa… When we were young, you promise me to never leave me alone. So I beg you to relize it now!” ujarku. Aku keluar dari kamar mandi. Kepalaku semakin terasa berat. Langkahku semakin sulit. ‘Aku lapar~’ aku memegang perutku yang mulai terasa perih. Kepalaku juga terasa berat. Tiba-tiba aku merasakan seperti ada cahaya yang menusuk mataku. Aku kunang-kunang. Dunia serasa berputar 4 kali lebih cepat. Pandanganku mengabur. “Haera-ya!” seseorang menahan tubuhku agar tidak jatuh. Tidak tahu siapa.

“Namamu siapa?”

“Haera. Kim Haera.”

“Oh. Aku Kwangmin. Cho Kwangmin. Jangan tertukar ya!”

“Ng?”

“Youngmin-ah! Sini!” “Kenalkan. Ini saudara kembarku. Youngmin.”

“Haera-ah, mau jadi pacarku?”

“Memangnya kenapa?”

“Aku merasa nyaman denganmu. Mau tidak?”

“Tapi aku tidak tahu caranya, Oppa.”

“Jadilah dirimu sendiri ya. Aku suka kamu apa adanya.” “Ne, Oppa~!”

“Kalau kupanggil Jagi bagaimana?”

“Terserah Oppa.” ^^

“Baiklah~” “Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu Jagi. Selamanya. Kita akan menikah suatu hari nanti. Punya anak banyak.”

“Benar ya? Kalau Oppa meninggalkanku, apa balasannya?”

“Emm… Apa ya? Tidak akan ada balasannya. Karena aku tidak akan meninggalkanmu.” ^^

“Kenapa kamu memlih Kwangmin Hyung, Haera-ya?”

“Apa kamu tidak sadar kalau aku juga mencintaimu?”

“Itu karena aku tidak mau melihatmu dengan Hyung. Sebisa mungkin aku menghindari kalian.”

“Kenapa kamu diam saja di mobil, Jagi?”

“Mungkin hanya lelah. Oppa sebaiknya kembali ke mobil. Kyu Oppa dan Min Ra Eonni sudah menunggu. Sampai jumpa Oppa!”

“Saranghaeyo Jagi. Sampai jumpa.”

“Jagiya, mianhae. Aku harap kamu bisa memiliki yang lebih baik dariku ya. Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku tidak menepati janjiku. Banyak sekali janji yang aku langgar. Mianhae… Mianhae, Jagi~”

Aku tebangun dan menyadari kalau ternyata aku tidak di sekolah. Ini bukan klinik sekolah. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali agar pandanganku jelas. Kutolehkan kepalaku. ‘Oppa-ya?’ batinku. ‘Apa itu Oppa? Apa kamu Kwangmin Oppa? Kamu bukan Youngmin Oppa kan?’ tanyaku dalam hati. Orang ini memegang tanganku erat sekali. Aku berusaha melepaskan tangannya dariku. Dan sepertinya karena itu dia jadi terbangun. -_-

“Youngmin Oppa?” aku terkejut. Dia langsung berdiri dan memandangiku dengan tatapan terkejut. Apa tidak salah? yang seharusnya terkejut itu kan aku? -___- “Oppa kenapa disini? Aku kenapa disini?” tanyaku. “Dua hari lalu kamu pingsan. Aku yang bawa kamu kesini. Kim Ahjussi mendadak pergi ke Nowon, jadi Ahjuma ikut. Kamu ditinggal sendiri. Jadi aku—“ “Arasseoyo, Oppa. Gomawo.” Ujarku.

Aku teringat kata-kata terakhir Kwangmin Oppa. Rasa-rasanya, Oppa tidak pernah bilang begitu padaku. “Oppa, bagaimana keadaan Kwangmin Oppa?” tanyaku, teringat pada pacarku itu. Youngmin Oppa terdiam. Raut wajahnya berubah. “Oppa?” suaraku bergetar. “Oppa jawab…” aku meraih tangannya. Matanya berkaca-kaca. Aku mengerti. Aku mengerti sekarang. Pantas saja aku tidak ingat Oppa pernah bilang begitu, karena Oppa memang tidak pernah bilang begitu.

“Mianhae, Haera-ya…” jawabnya tanpa memandangku. Air mataku tumpah lagi. Aku tidak tahan. ‘Oppa…. Kenapa tidak menepati janji? Kenapa? Kenapa berjanji padaku kalau kita akan punya banyak anak nanti? Kenapa?’ tanyaku dalam hati. Seolah aku melihat Kwangmin Oppa di sini. Dia tersenyum padaku sambil berkata “Tersenyumlah selalu untukku, Jagi. Jangan menangis. Aku selalu di hatimu.” “OPPA!!!!!!!” teriakku.

Tanganku menggapai-gapai tangan Kwangmin Oppa yang terus menjauh. “OPPA!!!!” teriakku. Youngmin Oppa langsung memeluk tubuhku dan menangis bersamaku. “OPPA!!” teriakku. “Tenang Haera-ya… Dia sudah pergi~” Youngmin terus mendekap tubuhku. Aku menangis di pelukannya. Kyu Oppa buru-buru masuk ketika mendengar teriakkanku. Begitu juga dengan Cho Ahjussi dan Ahjuma, Min Ra Eonni, dan juga sahabatku, Hyechan.

“OPPA!!” aku terus menangis di pelukannya. Di pelukan Youngmin Oppa. Hyechan menangis melihat sikapku. Aku terus berontak. “Oppa kenapa tinggalkan aku?? Oppa mana janjimu?! Kau berjanji akan menikah denganku Oppa!!” jertiku. “Haera-ya dia sudah pergi… Biarkan dia pergi…” Kyu Oppa mengusap punggungku. Aku tidak bisa tenang.

Selama satu bulan aku seperti orang gila. Aku masih belum bisa menerima keadaan ini. Kwangmin Oppa terlalu aku cintai, aku terlalu menomor satukannya sehingga aku tidak bisa menerima kepergiannya yang secepat ini. Youngmin Oppa juga mengalami hal yang sama. Separuh jiwanya pergi. Bagian dari dirinya, sudah diambil duluan. Tuhan? Kenapa tidak adil??😥 kenapa mengambil Kwangmin Oppa? dia begitu dicintai banyak orang! Karena kepergiannya, aku jadi begini. Karena kepergiannya, Youngmin Oppa tidak sering tersenyum seperti biasanya. Tuhan… Kembalikan dia😥

@@@

Tiga tahun kemudian. “Oppa, ingat tidak sekarang hari apa?” dia hanya diam. Jelas. Aku sedang berbicara dengan makam Kwangmin Oppa. “Sekarang adalah hari jadi kita yang ke 7 ^^” “Oppa aku sangat rindu Oppa. Kapan Oppa akan mengajakku ikut denganmu? Kekeke~ jangan sekarang ya Oppa.” aku mendesah. “Oppa, terima kasih sudah mengirimkan padaku malaikat yang baik sepertimu. Dia sangat mirip denganmu. Sudah setahun ini aku bersamanya. Kamu setuju kan Oppa? Kamu tetap disini kok.” Aku memegang dadaku, bagian hatiku. “Tenang saja. Ok? Oppa… Aku akan segera masuk kuliah. Di universtias impianmu.”

“Oppa…. Apa kamu setuju Oppa?” tiba-tiba seperti ada yang memegang bahuku. Aku menoleh. Ng? Youngmin Oppa? Eh?! “Kwangmin Oppa?” “Jagiya… Mianhaeyo… Maaf ya aku pergi tanpa pamitmu. Bahagialah bersamanya. Selama kamu bahagia, aku bahagia. Aku selalu disini.” Dia menyentuh hatiku. ^^ “NE! Gomawo Oppa-ya… Aku berjanji akan selalu bahagia. Sama seperti aku bersamamu. Youngmin Oppa sudah berjanji akan selalu membahagiakan aku. Aku juga sudah berjanji akan membahagiakanmu. Jadi… Kita harus bahagia ya Oppa!” “Ne. Selamat tinggal, Jagi. Tersenyumlah untukku ya.” ^^ dia pergi.

Kwangmin Oppa, selamat tinggal. Semoga bahagia di surga sana. Tunggu aku ya, Oppa! \(^o^)/

Trio Cho

Cho Kwangmin, Cho Kyuhyun, and Cho Youngmin

———————————————————————- END ——————————————————————

SELESAI😀 tadinya saya mau bikin sad ending, tapi gak mau ah ._. gak enak kalo akhirannya sedih. hahaha jadi…. rada2 aja deh ya ._.v

oh ya, gimana ceritanya? hehehe ditunggu banget ya komentar kalian. gak ada kritik, adanya saran. jadi saya minta sarannya yaa🙂

soalnya kalau kritik itu belum tentu bersaran, tapi kalau saran kan, udah ada kritiknya ;3

ok ok?? hehehe~