Hello. Ini dia FF One Shoot saya. Semoga suka. Selamat menimati. Jangan lupa komentarnya. Terima kasih. Selamat membaca ^^

——–

Cast:

Lee Sun-young

Lee Donghae

Lee Sungmin

——-

[Author POV]

“Oppa, apa kabarmu ya sekarang?” sambil melihat-lihat album foto lamanya, Sun-young teringat teman kecilnya yang sudah 11 tahun ditinggalkannya. “Kalau bertemu nanti, apa Oppa masih ingat aku?” tanya Sun-young pada foto lelaki berusia 12 tahun di foto itu. “Sunnie-ah, ayo makan!” ajak Donghae, kakak angkat Sun-young, yang biasa memanggilnya Sunnie. Sun-young hanya diam. Tidak beranjak dari kasurnya dan tetap  memandangi foto-foto di tangannya. “Sunnie-ah kamu lagi ngapain sih? Appa dan Eomma sudah menunggu di bawah.” Donghae berjalan masuk menghampiri Sun-young dan duduk di sebelah adik angkatnya.

“Kamu masih memikirkan dia ya?” tanya Donghae. Sun-young menoleh dan terkejut. “Oppa?! Sejak kapan disini?” tanya Sun-young polos. “Aish… Jadi kamu tidak sadar? Pantas saja ketika kupanggil kamu tidak menyahut.” Donghae mengacak-acak rambut Sun-young dengan lembut. “Aaakh!!” Sun-young menurunkan tangan Donghae dari kepalanya. “Siapa sih dia?” tanya Donghae sambil merebut satu foto di tangan Sun-young. “Eh? Oh itu. Temanku dulu. Sebelum keluarga Oppa mengadopsiku.” Jawab Sun-young. Sepertinya dia mulai bernostalgia lagi dalam pikirannya.

“Rasanya pernah lihat. Siapa namanya?” tanya Donghae. “Sungmin Oppa.” jawab Sun-young. Donghae terdiam, memikirkan sesuatu. “Oppa pernah lihat dimana?” tanya Sun-young. “Nah itu dia. Oppa lupa. Sepertinya kalau sudah makan, Oppa akan ingat. Ayo kita makan!” ajak Donghae sambil menarik tangan Sun-young dan mengajaknya ke ruang makan. Ternyata benar, Appa dan Eomma sudah menunggu.

“Sunnie-ah, kamu ngapain aja di kamar? Kami sudah menunggu.” Ujar Eomma sambil mengambil makan malam untuk Sun-young. “Mianhae, Eomma. Tadi aku—“ “Tadi aku main sebentar sama Sunnie-ah. Maaf Eomma. Hehehe.” Bela Donghae. Sun-young melirik Oppanya dengan tatapan bingung, sementara Donghae masih sibuk senyum-senyum sama Eomma dan Appa-nya.

@@@

Sun-young kembali memandangi foto-foto temannya itu sambil duduk di teras belakang rumahnya. Sudah jam 11 malam, dan dia masih belum bisa tidur. Berhubung besok hari Sabtu dan dia libur kuliah, Sun-young pikir tidak apa-apa kalau mala mini dia tidur lebih malam lagi. “Oppa… Kapan ya kita bertemu lagi? Apa Oppa masih ingat aku?” tanya Sun-young pada foto di hadapannya. “Tentu saja Oppa masih ingat! Mana mungkin Oppa melupakan gadis cantik sepertimu? Hahaha!” Donghae mengambil tempat di sebelah Sun-young yang terkejut. “YA! Kenapa Oppa selalu mengejutkanku sih?” tanya Sun-young kesal. “Hahaha… Lagi kamu selalu berbicara dengan foto itu.” sahut Donghae sambil lagi-lagi mengambil foto di tangan Sun-young.

“Heh namja! Jangan kau buat adik tersayangku jadi gila, ya!” Donghae marah-marah pada foto itu. “HUAHAHAHAHA!!!” tawa Sun-young meledak seketika. Donghae menoleh pada adiknya itu. “Wae?” tanya Donghae, polos. “Oppa… HAHAHA!!! Ya Tuhan… Oppa wajahmu itu… Hahahhaha!!” Sun-young tidak bisa menghentikan tawanya. “Ng? wajahku? Kenapa wajahku? Tampan ya?” tanya Donghae sambil tersenyum. Sun-young menghentikan tawanya dan memandang Oppa-nya dalam-dalam. “Kau…. Benar-benar pendek, Oppa.” jawab Sun-young. Donghae terkejut dan panik. Lagi-lagi, seperti biasa dia langsung berlari. Tapi sebelum sempat lebih jauh lagi, Sun-young berhasil menangkap Oppa-nya.

“Tidak Oppa!! aku bercanda!!” Sun-young tertawa lagi. Donghae berdiri berhadapan dengan adiknya. Tinggi mereka hanya berbeda 5 senti. “Tidak. Aku pendek.” Donghae terlihat putus asa. “Tidak Oppa!!!!!!” Sun-young memeluk Oppa-nya erat-erat, merasa bersalah. “HAHAHAHA!! Aku bercanda Sunnie-ah!” Donghae menepuk-nepuk punggung Sun-young. “Mianhae Oppa!!” Sun-young masih merasa bersalah. “Ah, aku memang pendek. Semua karena Eomma!” jawab Donghae.

“Kalian belum tidur?” suara Eomma mengejutkan keduanya. Donghae lebih panik dari sebelumnya. “Emm… Baru mau tidur, Eomma.” Jawab Sun-young. “Ya sudah. Tidur sana. Kamu juga, Donghae-ah. Cepat.” Eomma menarik keduanya ke tangga. Keduanya langsung naik ke tangga dan masuk ke kamar masing-masing.

Paginya, selesai sarapan, Sun-young memutuskan untuk mengunjungi panti asuhannya yang membutuhkan waktu 3 jam dari rumahnya. Dia berharap bisa mendapatkan alamat rumah Sungmin Oppa yang baru dan bisa menghapuskan rasa rindu di hatinya. Melihat Sun-young yang sedang siap-siap pergi, Donghae bertanya apa yang akan dilakukan adiknya itu.

“Eh? Aku mau ke panti asuhan Oppa.” jawab Sun-young sambil tetap memakai sepatu boot berwarna cokelat muda setinggi tulang keringnya. “Tapi itu kan jauh, Sunnie-ah.” Ujar Donghae sambil merebut tas Sun-young, hendak membawanya masuk. “Ahh!!” pekik Sun-young sambil merebut tasnya lagi. “Aku sudah bilang sama Appa dan Eomma. Lagi pula, aku rindu sekali sama ibu panti.” Ujar Sun-young sambil menyampirkan tasnya di punggung. Donghae terdiam. Walaupun bukan lahir dari rahim ibunya, tapi Donghae sangat sayang padanya.

“Perlu diantar?” tanya Donghae. Raut wajahnya terlihat khawatir. “Tidak usah, Oppa. aku bisa sendiri.” Jawab Sun-young. Tidak lama kemudian, Sun-young pergi. Donghae merasa, ada yang mengganjal di hatinya. Ia tidak mau adiknya pergi ke panti asuhannya. Tapi ia tidak tahu apa yang membuatnya merasa begitu.

@@@

“Ahjuma…” Sun-young mencolek bahu seorang wanita yang sedang menyiram tanaman di kebun. Wanita berusia sekitar 50 tahun itu menoleh. Sun-young tersenyum. “Ingat aku?” tanya Sun-young. Ahjuma itu tidak bergerak. “Aku—“ “Lee Sun-young.” Selak Ahjuma yang ternyata tidak melupakannya itu. Ahjuma ini adalah Eomma-nya Sungmin, pemilik panti asuhan.

“Apa Ahjuma Sungmin Oppa kemana?” tanya Sun-young sambil sesekali menyeruput teh hangat yang dibuatkan Ahjuma untuknya. “Sun-young,” Ahjuma mendesah pelan lalu melanjutkan, “Ahjuma minta maaf padamu. Dua tahun setelah kamu diadopsi, Sungmin meninggal.” Jawab Ahjuma.

Sun-young benar-benar shock. Air matanya tidak dapat dibendung seper-sekian detik pun. “Mening… gal?” tanya Sun-young tidak percaya. Ahjuma mengangguk. Tangis Sun-young pecah. Segera saja Ahjuma memeluknya. “Oppa…. kenapa tinggalkan aku sebelum kita sempat bertemu lagi?” tanya Sun-young. Ia benar-benar sedih kehilangan orang yang sangat disayanginya. Dia sudah menganggap Sungmin seperti kakak kandung baginya. Sungmin sangat menyayanginya.

[flashback]

“Oppa, tunggu aku ya. Aku pasti kembali.”

“Tentu saja. Oppa menunggu di sini.”

“Tidak akan pergi ya. Kalau aku datang, Oppa harus menyambutku!”

“Tentu saja. Sudah sana pergi. Keluargamu sudah menunggu!”

[flashback end]

@@@

“Oppa, aku mau menagih janjimu padahal. Tapi kamu sudah meninggalkan aku. Jahat sekali.” Ujar Sun-young di depan makan Sungmin. Air matanya sudah berhenti keluar, karena ia tidak mau menangisi makam sahabat terbaiknya. “Padahal aku mau bercerita banyak tentang Donghae Oppa. Ternyata benar yang Oppa bilang waktu itu. Aka nada yang menjagaku nanti kalau aku sudah punya keluarga baru. Donghae Oppa menjagaku dengan baik. Sama sepertimu.”

“Oppa… kenapa pergi secepat ini?” Sun-young hampir menangis lagi, kalau tidak cepat-cepat dia menghela napasnya. “Kalau begitu, tepati janjiku yang satu ini ya?” Sun-young menunjukkan kalung yang dulu Sungmin berikan padanya. “Lihat. Aku masih pakai kalung ini. Sesuai janjiku padamu waktu itu. Sampai kapan pun, tidak akan aku lepas. Kalau begitu, Oppa juga harus berjanji.” “Jaga aku dari surga ya. Jaga aku.” Pinta Sun-young.

[Sungmin POV]

Sungmin menangis di hadapan Sun-young yang sedang berbicara dengan makamnya. Makam yang tidak terakhir kali dilihatnya 9 tahun yang lalu, ketika acara pemakaman dirinya berlangsung. “Mianhae, Sun-ya. Aku tidak menepati janjiku padamu…” ujar Sungmin sambil memperhatikan gadis yang masih asik berbicara dengan makamnya.

“Lihat. Aku masih pakai kalung ini. Sesuai janjiku padamu waktu itu. Sampai kapan pun, tidak akan aku lepas. Kalau begitu, Oppa juga harus berjanji.” Sungmin senang melihat gadis di hadapannya ini masih memakai kalung yang diberikannya 12 tahun lalu. “Jaga aku dari surga ya. Jaga aku.” Pinta Sun-young pada Sungmin.

“Aku pasti menjagamu, Sun-ya.” Ujar Sungmin. Perlahan dipegangnya tangan Sun-young yang sedang meraba nisannya. “Oppa… Apa Oppa disini?” tanya Sun-young. “Sun-ya aku disini. Apa tidak bisa lihat aku?” tanya Sungmin. “Oppa… Dimana pun Oppa berada. Aku harap Oppa bahagia ya.” Sun-young tersenyum pahit di depan nisan bertuliskan nama Sungmin.

“Sunnie-ah!” panggil seorang namja berusia sama dengan Sungmin. “Oppa? Sedang apa di sini? Kenapa bisa disini?” Sun-young berdiri dan menghampiri orang itu. “Kata ibu panti, kamu disini. Aku menyusulmu. Aku takut kamu kenapa-kenapa.” Jawabnya. “Donghae Oppa tidak usah khawatir. Karena mulai sekarang, malaikatku sudah kembali.” Ujar Sun-young. “Malaikat? Siapa?” tanya Donghae bingung. “Sungmin Oppa. Dia sudah berjanji padaku, akan menjagaku.” Jawab Sun-young.

Donghae melirik makam di belakang Sun-young. Ia berjalan menghampirinya. “Sungmin-ah. Jaga adikku ya. Jangan sampai dia terluka. Aku percaya padamu.” Donghae tersenyum pada makam itu. “Tentu saja. Dia itu kan, cinta pertamaku Donghae-ah.” Jawab Sungmin sambil melipat tangannya di depan dada. “Sunnie-ah. Ayo pergi. Aku merinding disini.” Ajak Donghae. Sun-young mengangguk.

[Author POV]

Sebelum pergi Sun-young jauh, dia menoleh ke makam Sungmin. Sun-young terkejut ketika melihat sahabatnya itu sedang berdiri di samping makamnya sendiri sambil tersenyum. Senyum paling manis dan paling indah yang pernah Sun-young lihat. Senyum yang penuh kedamaian. Sun-young membalas senyum itu.

“Kalau Sungmin Oppa sudah berjanji, pasti akan dia tepati. Walaupun yang satu itu tidak.” Ujar Sun-young pada Donghae sambil terus berjalan. “Aku percaya.” Jawab Donghae singkat. “Kalau begitu, malaikatku jadi ada dua!” seru Sun-young. “Siapa yang satunya?” tanya Donghae. “Oppa.” jawab Sun-young sambil memegang lengan Donghae. Donghae hanya tersenyum.

“Sungmin Oppa… Kamu selalu menjadi malaikatku. Terima kasih Oppa sudah menjagaku selama ini. I’m glad you become my first angel. Please, be my angel forever, Oppa.”

————————————————————– THE END ———————————————————

Akhirnya… FF One Shoot [yang semoga saja bagus dan disukai readers] ini selesai dibuat. Baru aja dibuat. Hehehe… Saya bingung mau kasih judul apa. Jadi setelah ditimbang-timbang, sepertinya Beautiful Angel ini cocok. Apalagi Sungmin Oppa kan memang cantik (?) kekeke~ Begitu lah…. Saya harap kalian suka ya. Jangan lupa komentarnya. No silent readers🙂